Sudah lama tidak menyapa sahabat-sahabat saya di blog ini. Bahkan untuk sekadar mengecek notif dan jumlah kunjungan pun tak lagi sempat.
Mengunjungi blog ini ibarat masuk ke rumah tua. Dari teras rumah, dedaunan kering berserakan. Bau anyir hewan dan serangga liar menusuk hidung sesiapa yang ingin memberanikan dirinya melangkah masuk ke dalam. Rumput di pekarangan sudah setinggi dada orang dewasa. Sebagai tuan rumah yang lama tak pulang, aku beranikan diri memasuki rumah tua ini.
Gerbang depan terkunci rapat. Gagang gerbang yang terbuat dari besi terlihat mulai berkarat. Kuambil kunci dari saku jaketku, dan kubuka gerbang yang hampir tiga bulan tidak aku pegang. Kubuka gerbang dan kulangkahkan kakiku ke dalam. Ranting patah beberapa kali kuinjak. Bunyi khas daun kering menemani setiap langkahku. Paving agak licin, nampaknya lumut-lumut sudah lama mendiaminya.
Rumah mungil dengan desain peninggalan Belanda ini memang begitu nyaman dihuni. Aku paling betah berlama-lama di meja ukiran Jepara sisi barat rumah. Hanya beratap tumbuhan rambat yang sengaja dirambatkan ke tralis-tralis buatan menyerupai atap lengkungan. Sekarang tumbuhan rambat semakin lebat, banyak yang menjuntai ke bawah. Bahkan ada yang hingga menyentuh meja. Aku lupa kapan terakhir kali memangkasnya.
Biasanya aku menuliskan kisah di meja itu. Dengan laptop kesayangan hasil warisan. Apapun aku tuliskan. Karena menulis adalah caraku berbagi.
Mataku menyapu ke samping tempat duduk yang beratap rambat buatan. Kolam kecil dengan gemericik aliran air yang berbenturan dengan jungkat-jungkit bambu khas Jepang. Tidak harus pergi ke Jepang untuk mendapatkannya. Di toko taman di sepanjang jalur menuju bandara Juanda Surabaya juga banyak tersedia. Jika aku ke rumah ini bersama adik dan keponakanku, tempat ini yang paling pertama mereka serbu. Main air bersama ikan emas dan koi menjadi daya tarik. Mereka nampak seru, tapi bukan sama emak-emak mereka.
"Jangan sampai bajunya basah!" Teriak bibiku waktu itu.
Ah, melihat spot-spot di sekitaran rumah ini membuat memoriku kembali ke masa itu. Tentang aku dan kehidupanku.
Dulu, aku sering membuat sesuatu. Entah untuk melengkapi perabot rumah atau hanya sekadar hiasan interior sederhana. Hampir tiap hari.
Karena ada seseorang wanita spesial yang rajin mengunjungi rumah ini. Kadang bertamu, pun tak jarang melihat-lihat hal baru yang aku buat. Menikmatinya, dan sesekali memberikan masukan ini itu.
Saat aku tinggalkan rumah ini, mungkin wanita itu masih sesekali menengok. Namun karena terkunci dan aku sudah tidak lagi membuat perabot ataupun hiasan interior baru, dia sudah enggan balik ke sini. Padahal dalam hati, aku masih mengharapkannya datang. Sekadar melihat atau berkomentar ini itu lagi.
Sudahlah, berdiri di teras ini sambil melamunkan kenangan-kenangan indah tiga bulanan yang lalu sudah cukup. Aku belun melihat isi rumah seperti apa. Apakah masih sama seperti dulu? Karena tiga bulan tak berpenghuni adalah waktu yang tidak sebentar untuk membuat rumah berdebu tebal dengan sarang laba-laba dimana-mana.
Bersama wanita yang telah kulabuhkan hatiku kepadanya. Yang sedari tadi bengong melihat tingkahku memperhatikan keadaan di sekitar rumah ini. Dia tidak tahu detil apa yang terjadi tiga bulanan lalu. Aku bisikkan lembut di telinga kirinya,
"PR kita membersihkan ini semua, sayang."
Dia hanya mengangguk anggun sekali.
Mengunjungi blog ini ibarat masuk ke rumah tua. Dari teras rumah, dedaunan kering berserakan. Bau anyir hewan dan serangga liar menusuk hidung sesiapa yang ingin memberanikan dirinya melangkah masuk ke dalam. Rumput di pekarangan sudah setinggi dada orang dewasa. Sebagai tuan rumah yang lama tak pulang, aku beranikan diri memasuki rumah tua ini.
Gerbang depan terkunci rapat. Gagang gerbang yang terbuat dari besi terlihat mulai berkarat. Kuambil kunci dari saku jaketku, dan kubuka gerbang yang hampir tiga bulan tidak aku pegang. Kubuka gerbang dan kulangkahkan kakiku ke dalam. Ranting patah beberapa kali kuinjak. Bunyi khas daun kering menemani setiap langkahku. Paving agak licin, nampaknya lumut-lumut sudah lama mendiaminya.
Rumah mungil dengan desain peninggalan Belanda ini memang begitu nyaman dihuni. Aku paling betah berlama-lama di meja ukiran Jepara sisi barat rumah. Hanya beratap tumbuhan rambat yang sengaja dirambatkan ke tralis-tralis buatan menyerupai atap lengkungan. Sekarang tumbuhan rambat semakin lebat, banyak yang menjuntai ke bawah. Bahkan ada yang hingga menyentuh meja. Aku lupa kapan terakhir kali memangkasnya.
Biasanya aku menuliskan kisah di meja itu. Dengan laptop kesayangan hasil warisan. Apapun aku tuliskan. Karena menulis adalah caraku berbagi.
Mataku menyapu ke samping tempat duduk yang beratap rambat buatan. Kolam kecil dengan gemericik aliran air yang berbenturan dengan jungkat-jungkit bambu khas Jepang. Tidak harus pergi ke Jepang untuk mendapatkannya. Di toko taman di sepanjang jalur menuju bandara Juanda Surabaya juga banyak tersedia. Jika aku ke rumah ini bersama adik dan keponakanku, tempat ini yang paling pertama mereka serbu. Main air bersama ikan emas dan koi menjadi daya tarik. Mereka nampak seru, tapi bukan sama emak-emak mereka.
"Jangan sampai bajunya basah!" Teriak bibiku waktu itu.
Ah, melihat spot-spot di sekitaran rumah ini membuat memoriku kembali ke masa itu. Tentang aku dan kehidupanku.
Dulu, aku sering membuat sesuatu. Entah untuk melengkapi perabot rumah atau hanya sekadar hiasan interior sederhana. Hampir tiap hari.
Karena ada seseorang wanita spesial yang rajin mengunjungi rumah ini. Kadang bertamu, pun tak jarang melihat-lihat hal baru yang aku buat. Menikmatinya, dan sesekali memberikan masukan ini itu.
Saat aku tinggalkan rumah ini, mungkin wanita itu masih sesekali menengok. Namun karena terkunci dan aku sudah tidak lagi membuat perabot ataupun hiasan interior baru, dia sudah enggan balik ke sini. Padahal dalam hati, aku masih mengharapkannya datang. Sekadar melihat atau berkomentar ini itu lagi.
Sudahlah, berdiri di teras ini sambil melamunkan kenangan-kenangan indah tiga bulanan yang lalu sudah cukup. Aku belun melihat isi rumah seperti apa. Apakah masih sama seperti dulu? Karena tiga bulan tak berpenghuni adalah waktu yang tidak sebentar untuk membuat rumah berdebu tebal dengan sarang laba-laba dimana-mana.
Bersama wanita yang telah kulabuhkan hatiku kepadanya. Yang sedari tadi bengong melihat tingkahku memperhatikan keadaan di sekitar rumah ini. Dia tidak tahu detil apa yang terjadi tiga bulanan lalu. Aku bisikkan lembut di telinga kirinya,
"PR kita membersihkan ini semua, sayang."
Dia hanya mengangguk anggun sekali.


































