Senin, 21 Desember 2015

Hari Ke-17: Dari UNDAR Untuk Negeri

Universitas Darul 'Ulum Jombang dipenuhi dengan intrik internal berkepanjangan yang berimbas pada penonaktifan kampus yang sudah berdiri 50 tahun silam ini. Namun beberapa hari yang lalu, UNDAR kembali aktif dengan melalui perjuangan panjang yang melelahkan. Menyambut aktifnya kembali UNDAR, saya teringat dengan tulisan prolog yang saya buat ketika acara Talkshow Inspiratif berjudul "Dari UNDAR Untuk Negeri" yang diadakan UKM PAKAR. Tulisan yang belum pernah saya publikasikan ini ingin saya jadikan arsip pribadi di blog ini. Tulisan optimis di tengah pesimistis sebagian besar mahasiswa terhadap kampus sendiri. Baca dengan nada Najwa Shihab membawakan Mata Najwa pada prolog acara. Inilah prolog "Dari UNDAR Untuk Negeri":

Dari UNDAR Untuk Negeri
Oleh: Nasul Yung

1965 Universitas Darul 'Ulum berdiri
Lahir dan dibesarkan dari tangan kiyai
Dari tempat ini bermunculan akademisi
Dengan pesantren, universitas dan thoriqoh sebagai pondasi
Bersatu menjadi Trisula yang digandrungi

UNDAR di masa lalu adalah UNDAR yang dihormati
Siapapun yang mendengar namanya akan bergidik sunyi
Sebagai pemberontak pemerintahan membela rakyat yang tertindas,
Meneriakkan kebenaran hingga sebagai petunjuk jalan hakiki
Masa itu, mimbar bebas begitu jamak ditemukan
Kelompok-kelompok diskusi tak sulit dijumpai
Mahasiswa bukan saja kelompok akademisi, tapi labuhan konsultasi

Mengenang masa lalu memang asik berderu
Senyum bangga hiasi bibir selalu
Suatu kebanggaan menjadi bagian dari kejayaan masa itu
Entah warisan atau peninggalan,
Karena masa keemasan harus terpuruk pada dinasti orang dalam
UNDAR yang dulu bukanlah UNDAR yang sekarang
Jika bangga saja sudah cukup, maka bukan buat kami
Inilah Talkshow Inspiratif, Dari UNDAR Untuk Negeri

Hari Ke-16: Terima Kasih Telah Menjadi Ibu

Sosok ibu memang tidak ada duanya. Ibu lah yang mengandung kita selama 9 bulan lamanya, dan merawat kita tanpa pernah meminta balasan. Namun, walaupun kita mengetahui berbagai jasa ibu, sering kali kita melupakan hal-hal penting tentang ibu.

Besok, 22 Desember adalah hari ibu. Hari Ibu memang bukan momen tunggal untuk menunjukkan kasih sayang pada sang mama. Karena bagi beberapa orang, mengekspresikan rasa sayang bisa dilakukan setiap hari. Namun, tak ada salahnya juga untuk memanfaatkan momen Hari Ibu untuk lebih memaknai rasa sayang tersebut.

Menjelang Hari Ibu, Mading Gantari Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang yang dikelola oleh lembaga pers mahasiswa JURMAPSI mengangkat tema khusus, Hari Ibu. Hampir semua ragam tulisan membahas tentang ibu. Mulai dari sosok hebat ibu yang digambarkan dari bentuk perjuangan yang luar biasa hingga hal-hal menarik tentang ibu yang dibahas ringan dan menarik.

Sementara itu, elemen-elemen mahasiswa Fakultas Psikologi UNDAR yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Ottonom (LSO), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), serta Kordinator Mahasiswa atau Kosma akan mengadakan rangkaian acara pada hari ibu. Rangkaian acara berupa lomba menulis ungkapan kepada ibu, lomba photo voice dengan tema ibu dan ditutup dengan music corner yang akan berlangsung besok.

Memang secara pribadi, perayaan seperti hari ibu maupun hari-hari peringatan lainnya hampir tidak pernah saya lakukan. Tapi kali ini, perayaan hari ibu benar-benar membuat saya sadar betapa pentingnya mengungkap cinta kepada ibu. Hal yang hampir tidak pernah saya lakukan.

Jika ada yang bertanya, kapan terakhir mengucap cinta kepada ibu? Kapan berjalan berdua dengan ibu? Kapan terakhir memeluk ibu? Kapan terakhir menanyakan kabar ibu? Kapan ada waktu khusus dengan ibu? Kapan terakhir bermain dengan ibu? Saya terdiam dan hanya bisa meneteskan air mata. Karena saya lupa kapan terakhir itu semua saya lakukan.

Bahkan sekadar menghubungi lewat telepon untuk menanyakan kabar saja tidak pernah. Jauh dari ibu harusnya tidak jadi alasan. Kesibukan di tanah rantau juga bukan jadi penghalang menanyakan kabar. Mungkinkah karena ini, semua usaha dan upaya yang saya lakukan seret? Masalah datang silih berganti. Berbagai cobaan tidak pernah berhenti. Wallahu a'lam, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, keridhoan Allah tergantung ridho orang tua kepada kita.

Di Hari Ibu, saya ingin menceritakan semua keluh kesah saya kepadamu ibu. Seperti masa kecil dulu yang sering merengek kepadamu. Apa yang saya rasakan, apa yang terjadi selama ini, dan apa prestasi-prestasi yang telah saya raih. Agar ibu bisa tersenyum bangga mendengarnya. Karena senyuman ibu adalah satu-satunya harapan saya yang ingin saya lihat hingga ibu tua. Saya juga akan mendengar cerita dari ibu. Saya ingin mendengar "cerewet"nya ibu. Sudah sekian lama saya tidak mendengarnya. Saya benar-benar merindukannya.

Ibu, memang tidak cukup hanya menulis ungkapan ini di blog. Karena saya tahu engkau tidak mungkin membacanya. Namun, inilah ikhtiar saya agar semakin banyak anak yang tersadarkan betapa mulianya wanita-wanita sepertimu.

Begitu banyak pengorbananmu. Tidak akan pernah ternilai dengan apapun. Terima kasih telah menjadi ibu.

Minggu, 20 Desember 2015

Hari Ke-15: Jangan Menyalahkan Hujan

Orang hebat tidak mengeluh, apapun yang menimpanya (Nasrul Yung)
Musim penghujan telah tiba. Alhamdulillah, yang lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Meski belum merata tapi hujan sudah mulai sering mengguyur beberapa kota. Sayangnya, di antara mereka yang juga menunggu turunnya hujan, setelah datang, bukannya bersyukur malah sebaliknya. Mereka kecewa, kesal dan bahkan ‘berani’ mengumpat hanya karena merasa hujan turun tidak pada waktu yang diinginkannya. Selain beberapa orang yang sedang menggelar hajatan dan pesta.

Apabila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan pada diri kita, rencana kita, acara kita, janganlah kemudian menyalahkan hujan. Menyalahkan hujan sama saja menyalahkan Allah. Tiada turun hujan kalau Allah tidak mengijinkan.

Jangan marah bila pakaian basah, sudah tahu mendung mengapa tak juga sedia payung. Jangan pula kesal bila rencana yang telah disusun rapi tiba-tiba batal, sudah tahu musim hujan tapi kemungkinan turun hujan tak ikut diperhitungkan. Jangan mengumpat bila pesta hajatan yang digelar tidak semeriah yang dibayangkan, mengira banyak undangan yang tak datang karena turunnya hujan. Ingat, sesungguhnya Allah lah yang membolak-balikan hati manusia, termasuk para tamu undangan. Apakah mereka akan datang atau tidak, bukan semata karena hujan.

Juga, hanya karena khawatir kendaraan menjadi kotor lalu keluarlah kata-kata kotor. Jangan karena malas mencuci lagi, lalu meluncurlah caci maki sepuas hati. Janganlah kufur nikmat. Kemarin, sebelum hujan turun, setiap hari mengeluh kepanasan, minta hujan segera diturunkan. Tapi sekarang, setelah hujan mulai turun, masih saja mengeluh, kedinginan. Sebenarnya apa sih yang diinginkan?

Hujan datang membawa berkah. Meski sebagian orang merasa ‘dirugikan’, janganlah menyalahkan hujan, lalu menyebut hujan sebagai sumber musibah. Allah Maha Adil. Kalaupun saat hujan para penjual es merasa dirugikan, tapi di sisi lain para penjual gorengan dan ojek payung menjadi pihak diuntungkan. Semua ada masanya, ada bagiannya. Hidup itu berputar, bergantian. Kemarin panas, sekarang hujan. Begitu, saling bergantian. Terima, nikmati dan tentu saja syukuri anugerah Allah yang satu ini.

Kalau tak ingin menyiksa diri, jangan mengharap teriknya mentari di saat mendung menggantung. Jangan pula membayangkan segarnya es buah, nikmati saja teh manis atau panasnya kopi. Bukankah di saat turun hujan, secangkir teh atau kopi panas lebih pas dinikmati?

Jika saat ini di luar sedang turun hujan, sementara Anda ingin melakukan kegiatan di luar rumah, apa yang Anda pikirkan? Ingatlah, jangan menyalahkan hujan! Semoga Menginspirasi.

Jumat, 18 Desember 2015

Hari Ke-14: Jarak Psikologis atau Jarak Sebenarnya?

Jadikan dirimu sebagai pengaruh lingkunganmu, meskipun kamu kini adalah korban lingkunganmu (Nasrul Yung)
Suatu kali, seorang teman mengatakan bahwa ketika tengah berduaan bersama sang kekasih selama dua jam rasanya sebentar sekali. Dan dua jam yang sama terasa sangat lama jika sedang duduk di tempat pengajian keislaman (kasus pertama).

Kasus keduanya: Jarak tempuh dari kota A ke B bersama sang pujaan hati juga terasa begitu lebih cepat meskipun dengan jalan rusak berlubang, dibandingkan dengan kondisi yang sama tanpa ada yang menemani.

Pertanyaannya, apakah lama waktu duduk pada kasus pertama adalah sama? Sama-sama dua jam. Dan apakah jarak tempuh pada kasus yang kedua sama? Dari dulu jarak tempuh dari kota A ke kota B juga tidak ada perubahan. Jika keduanya jawabnya sama, tapi mengapa waktu pada kasus pertama dan jarak tempuh pada kasus kedua terasa berbeda?

Waktu dua jam dan jarak antar kota A dan B yang sama adalah waktu dan jarak sebenarnya. Hal ini yang kita pelajari di bangku-bangku sekolah sejak lama. Dan hampir-hampir kita tidak pernah mempelajari jarak, waktu maupun ukuran baku lainnya dari parameter psikologi. Meskipun dalam prakteknya kita sering menjumpai ukuran-ukuran psikologis ini.

Disadari atau tidak, kita bahkan lebih sering menggunakan ukuran psikologis dibandingkan dengan ukuran sebenarnya. Misalnya ketika diminta mengetes kehangatan air, kita tidak bisa menyebutkan skala kehangatan air secara pasti. Yang bisa kita lakukan hanya menjawab secara global; panas, hangat dan dingin. Kita tidak bisa menjawab seberapa besar suhu derajat pastinya.

Orang yang suka mengeluh juga menggunakan ukuran psikologis dalam menimbang apapun. Mereka cenderung menggunakan ukuran perasaan sebagai takaran. Nah, inilah yang kata orang disebut sebagai "Baper" atau bawa perasaan. Apapun kejadian ukurannya perasaan.

Orang hebat tidak hanya menggunakan ukuran psikologis. Mereka logis dan memakai nalar dalam menimbang sesuatu. Jika kita ingin menjadi orang yang hebat, maka "Baper" saja tidak cukup, kita juga harus menggunakan "Balog" alias bawa logika. Psikologis dan logika bekerja seimbang itulah cirinya. Semoga menginspirasi.

Rabu, 16 Desember 2015

Hari Ke-13: Nyatanya dan Harusnya

Ingat, tidak selamanya seperti apa yang kita inginkan, tapi rencana Allah itu indah. (Nasrul Yung)
Nah, lagi-lagi saya ingin membahas tentang masalah. Pembahasan yang tiada matinya. Karena setiap saat kita tidak akan pernah lepas dari masalah. Bahkan sejak bangun tidur, kita sudah berhadapan dengan masalah.

Pagi-pagi sekali ketika saya bangun tidur, saya dihadapkan dengan puluhan keinginan yang bersamaan saat itu juga. Sebagai remaja pada umumnya yang sudah gandrung dengan gadget, keinginan pertama saya ketika bangun tidur adalah mengecek notifikasi ponsel pintar yang saya punya. Namun kenyataannya gadget yang sudah di genggaman mati tanpa daya alias ngedrop. Ingin hati mengecek notifikasi, tapi apa daya ponsel mati. Inilah masalah pertama yang saya hadapi semenjak membuka mata.

Secara sederhana masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara keinginnan dan kenyataan. Kapan pun itu, ketika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi, maka itulah masalah. Seperti pagi-pagi yang saya alami di atas.

Dari definisi yang saya dapatkan dari ruang perkuliahan tersebut saya mendapatkan dua kata utama, yaitu "keinginan" dan "kenyataan". Inilah yang kemudian saya sebut sebagai faktor utama terjadinya masalah.

Lebih dari itu, bahkan keduanya jika (boleh) saya padankan pada kata "nyatanya" (untuk padanan kata "kenyataan") dan "harusnya" (untuk padanan kata "keinginan"), maka akan menjadi dua kata komponen yang menyusun kehidupan yang terjadi di dunia ini.

Apapun kejadian di dunia ini dari hal terkecil hingga hal terbesar merupakan bagian dari "nyatanya" atau "harusnya". Contoh terkecil seperti yang saya alami tadi, harusnya saya mengecek notifikasi setelah bangun tidur, tapi nyatanya hal itu tidak terjadi. Atau juga merupakan gabungan dari keduanya, suatu kejadian termasuk bagian dari "nyatanya" dan "harusnya". Contohnya seperti, saya harusnya makan nasi goreng seperti yang dijanjikan teman saya malam ini, nyatanya saya benar-benar makan nasi goreng malam ini. Untuk yang kedua ini bukan disebut sebagai masalah.

Saya teringat kisah Alfred Nobel, seorang ahli kimia asal Swedia yang mempunyai hak paten penemuan dinamit. Dasar penemuan berawal dari keresahan Alfred Nobel melihat kenyataan susahnya pembangunan jalan di pegunungan karena harus meratakan kontur bukit yang bergelombang naik turun. Teknologi yang ada saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perataan kontur. Hingga terciptalah dinamit sebagai penghancur batu-batu besar yang menghalangi pembangunan jalan.

Setelah mendapat paten atas dinamit dan detonator, temuan Alfred Nobel tersebut laris manis di pasaran dan industri pembangunan. Dia membangun lebih dari 90 pabrik di lebih dari 20 negara. Selain dua penemuan itu, masih banyak paten penemuan lainnya di bidang kimia juga didapatkan. Setiap mendapat temuan baru, Alfred Nobel melaporkan kepada Komite Serbuk Mesiu, sebuah komite yang dibentuknya sendiri. Salah seorang anggota komite yang tahu cara membuat Serbuk Tanpa Asap, hasil temuan Alfred Nobel yang terbaru itu, mengkhianati komite. Dan menjual hasil temuannya kepada orang yang gila perang. Sejak saat itulah hasil temuan Alfred Nobel dijadikan senjata perang.

Megetahui hal itu, Alfred Nobel yang sudah mulai sakit-sakitan terguncang hatinya. Dia merasa terpukul karena hasil temuannya digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Dia pun menulis wasiat agar menyumbangkan banyak hartanya untuk dijadikan hadiah kepada orang yang melakukan aksi dan tindakan dalam ilmu pengetahuan dan perdamaian. Yang di kemudian hari disebut sebagai Hadiah Nobel.

Nah, seringkali kita terlalu berambisi mendapatkan dan meraih sesuatu. Saya tidak pernah melarang kalian dan diri saya sendiri untuk berambisi. Namun ambisi yang besar jika tidak diimbangi dengan kesadaran penuh bahwa apa yang akan terjadi nantinya tidak selamanya menjadi "harusnya" juga akan berbahaya. Betapa banyak calon anggota dewan yang mendadak depresi karena gagal menjadi pejabat publik. Remaja tanggung yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena ditinggal kekasih ke lain hati. Ayah yang mencabuli putri kecilnya karena tidak mendapatkan "jatah" dari istri. Dan masih banyak yang lainnya.

Banyak kasus terjadi disebabkan pelaku tidak menyadari betul bahwa tidak selamanya apa yang kita harapkan terwujud. Itu terjadi karena kesadaran manusia menganggap apapun yang terjadi akan seperti yang diinginkan, padahal tidak. Kita harus membuka mata lebar-lebar dan sadar betul bahwa tidak selamanya menjadi "harusnya", bahkan seringkali menjadi "nyatanya" yang harus kita terima.

Sabtu, 05 Desember 2015

Hari Ke-12: Ngetrip Jombang, Pentingnya Ngetrip

Hampir lima tahun di Jombang tapi belum pernah menjelajah tempat-tempat seru di kota berjuluk kota santri ini rasanya ada yang kurang. Pada hari pahlawan (10/11/2015) lalu saya dan teman saya, Anas Munaji, melakukan trip di tempat-tempat menarik di kota Jombang. Perjalanan ini tanpa ada kendaraan alias murni jalan kaki ala seorang backpaker, sehingga sangat menghemat biaya liburan.

Kita mulai dari suasana mendung berkabut putih yang sedari pagi menghiasai langit. Hawa dingin yang lembut dan bau hujan yang meneduhkan menggoda setiap orang untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Termasuk saya yang hari itu tidur di Ruang Kreatif (RK) UKM PAKAR. Mata yang masih sembab efek begadang semalam masih terasa. Lagi-lagi, keinginan tidur di suasana yang sangat mendukung terus meronta.

Ingat kalau hari itu adalah hari pahlawan, seketika tubuhku melonjak. Pikiran mencari-cari ide aktifitas apa yang harusnya terkenang di hari spesial terus bekerja. Tidak sekadar menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran yang tiada manfaatnya. Karena pantang bagi seorang Nasrul Yung menghabiskan masa muda dengan sia-sia. Hingga muncul kata backpaker di kepala dari sekian banyak ide akifitas yang akan dilaksanakan hari itu.

"Nas, backpaker-an keliling Jombang yuk!" Ajakku kepada Anas Munaji yang juga semalam tidur di RK.

Dia sebenarnya ada janji bertemu seseorang di Perpustakaan Mastrip. Jadi saya tidak bisa memaksanya, tapi namanya juga saya, saya tetap berusaha membujuknya agar ikut. Memang, saya backpaker-an tanpa dia pun sudah biasa, tapi disayangkan jika di momen yang spesial tidak ada yang mendokumentasikan. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya dia juga ikut.

Bagi seorang penulis atau pun seorang yang berprofesi di dunia kreatif semacam desainer grafis seperti saya, traveling sesekali perlu dilakukan. Bahkan dilakukan setiap hari jika itu sudah menjadi kebutuhan juga tidak masalah. Saya sendiri biasa melakukannya hampir tiap hari, meskipun tidak selalunya bergaya backpaker. Terkadang saya sekadar jalan-jalan dan duduk-duduk di perempatan untuk melihat lalu lalang kendaraan dengan segala aktifitas manusia yang menghiasi. Bagi saya, itu sudah cukup untuk menghilangkan stress dan mampu memantik munculnya ide-ide baru.

Dituntut untuk menciptakan karya yang baru dan fresh, saya juga sering berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan kota. Lagi-lagi, hanya sekadar jalan-jalan dan melihat-lihat gambar sampul yang kian hari kian kreatif.

Tidak memaksa, hanya menyarankan; lakukan ngetrip secara berkala agar tulisanmu -bagi yang ingin menjadi penulis- dan karyamu lainnya tetap fresh dan diminati banyak orang. Di sana, kamu juga akan mendapatkan banyak inspirasi tulisan. Mau coba? Semoga Menginspirasi.

Berikut foto-foto hasil jepretan selama melakukan perjalanan.
Semua dimulai dari langkah pertama. Gerbang belakang Universitas Darul 'Ulum Jombang
Gerbang Jalan Leci di Perumahan Jombang Permai ini dibuat dengan ornamen unik dengan nuansa coboy

Menjadi saksi pengaspalan jalan di kawasan Perumahan Jombang Permai, inspiratif sekali

Di tengah perjalanan menemukan bangunan runtuh, mengingatkan saya pada masalah yang tengah saya alami saat itu. Model dengan gaya menulis bermakna harapan yang terus menyala di tengah keterpurukan.

Masjid yang ber-ac super dingin ini bernama Ar-Roudloh, berada di jantung kota Jombang

Sungai adalah lambang kehidupan, miris sekali jika lambang kehidupan di Jombang penuh sampah dan limbah dengan bau yang cenderung menyengat.

Saya belajar dari tukang mie ayam ini bagaimana cara eksis memikat hati pelanggan. Lokasi di bawah jembatan layang RS Muslimat.

Di hari pahlawan, tak lengkap rasanya mendoakan mereka yang telah syahid berjuang mengusir penjajah.

Monumen Kusuma Bangsa di Taman Makam Pahlawan Jombang

Tidak ada kata selain, indah sekali.
Memeluk malam di Bazar Buku Perpustakaan Mastrip. Foto hanya akting.

Masih bingung dengan alasan dibangunnya Monumen Garuda Pancasila di Jombang.

Selasa, 01 Desember 2015

Hari Ke-11: Kisah Sisir dan Biara Shaolin

Tidak seperti postingan di hari-hari sebelumnya, hari ini saya ingin berkisah tentang sebuah kreatifitas.

Sebuah perusahaan membuat tes terhadap tiga calon staf penjual barunya. Tesnya unik, yaitu: Menjual sisir di komplek Biara Shaolin!

Tentu saja, ini cukup unik karena para biksu di sana semuanya gundul dan tidak butuh sisir. Kesulitan ini juga yang membuat calon pertama hanya mampu menjual satu sisir. Itupun karena belas kasihan seorang biksu yang iba melihatnya.

Tapi, tidak dengαn calon kedua. Ia berhasil menjual 10 sisir, ia tidak menawarkan kepada para biksu, tetapi kepada para turis yang ada di komplek itu, mengingat angin di sana memang besar sehingga sering membuat rambut jadi awut-awutan. Lalu bagaimana dengan calon ketiga?

Ia berhasil menjual 500 sisir !!!

Caranya? Ia menemui kepala biara. Ia lalu meyakinkan jika sisir ini bisa jadi souvenir bagus untuk komplek biara tersebut. Kepala biara bisa membubuhkan tanda tangan di atas sisir-sisir tersebut dan menjadikannya souvenir para turis. Sang kepala biara pun setuju.

Apa yang sering orang anggap sebagai penghambat terbesar karier mereka? Bukankah banyak orang sering kali menyalahkan keadaan? Dan inilah yang membuat calon pertama gagal. Sementara calon kedua, sudah berani berpikir di luar kotak. Namun ia masih terpaku pada fungsi sisir yang hanya sebagai alat merapikan rambut. Tapi calon ketiga bukan hanya berani berpikir bahwa sisir bukan hanya alat merapikan rambut, melainkan bisa menjadi souvenir.

Kita tidak bisa mengatur situasi seperti yang kita kehendaki. Tapi, kita bisa mengerahkan segenap kekuatan kita untuk mencari solusi.

“Segenap kekuatan” bukan hanya terbatas otot atau semangat, tapi juga pikiran, ilmu, dan kerja keras. Pendek kata, kreatifitas otak dan upaya fisik. Itulah potensi dalam diri kita yang dapat dipergunakan.

Mulai sekarang mari kita belajar bagaimana jadi penjual sisir yang ketiga. Jangan terbelenggu oleh sebuah hambatan, yang penting adalah bagaimana kita berpikir dan menemukan solusi mengatasi hambatan itu. Semoga menginspirasi.

Hari Kesepuluh: Gerakan Membaca

Seringkali ada teman yang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis. Apa saja tips yang harus dia kerjakan. Apa langkah yang tepat agar tulisannya bagus. Hingga dia bertanya bagaimana cara agar tulisan enak dibaca. Komplit sekali.

Saya tidak akan mengupas tips menulis atau strategi menjadi penulis pada postingan kali ini. Karena bagi saya, tips menulis kuncinya hanya satu; jangan takut untuk menulis. Jika ingin menjadi penulis, maka menulislah. Jangan ragu. Tulislah apapun yang bisa kamu tulis. Tulisan kita jelek dan tidak enak dibaca? Percayalah, semua penulis besar melalui fase itu. Fase tulisan jelek yang bahkan tak satupun orang mau membaca tulisan yang sudah jerih payah dituliskan. Tetaplah menulis dengan gaya kamu, dan mintalah orang lain memberikan saran dan kritik untuk perbaikan karya tulismu. Sudah, itu saja tips menulis dari saya. Sekali lagi, menulis dan teruslah menulis. Suka tidaknya orang lain membaca tulisan kita hanya soal selera.

Nah, pada postingan kali ini saya ingin menyoroti hal yang lebih serius daripada sekadar bagaimana cara menulis, yaitu bagaimana cara kita meningkatkan kualitas diri. Yaitu dengan banyak membaca. Iya, membaca.

Istilah "Gemar Membaca" mungkin tidak kekinian lagi. Kita akrab mendengar ajakan membaca hanya di bangku sekolah dulu. Begitu kerap kita dengar perintah untuk membaca. Komunitas penggerak dan pembangkit minat baca hanya berkubang pada segmen anak-anak. Namun tidak untuk saat ini, saat-saat ketika masa berimajinasi liar telah berlalu.

Saat ini kita tidak berada pada masa dimana minat membaca tinggi, justru kita berada pada masa dimana minat berkomentarlah yang tinggi. Suguhan sosial media yang sangat terbuka membuat semua orang bebas memberikan pendapatnya. Di satu sisi sangat positif, namun kebebasan yang keblabasan berkomentar di sosial media tanpa ilmu yang menyertai membuat setiap kepala dinilai sama. Orang yang berilmu dan orang yang hanya asal ceplos diniai sama di sosial media.

Gerakan membaca tidak boleh berhenti di sekolah-sekolah saja. Gerakan ini selayaknya tetap kita junjung dan kita gaungkan. Terutama buat kamu yang selalu bertanya bagaimana cara menulis. Jika boleh diibaratkan, menulis bagaikan menuangkan isi teko ke dalam gelas. Ingin menjadi penulis? Isi tekomu dengan apa yang ingin kamu tuangkan. Karena mustahil, kita menuangkan teko kosong ke dalam gelas.

Kamis, 19 November 2015

Hari Kesembilan: Menciptakan Kondisi Kepepet

Seringkali, orang mampu melakukan sesuatu yang hebat saat kepepet. Artinya, saat kepepet, dia mampu menggunakan segenap potensinya. Pertanyaanya, apakah Kita harus menunggu kepepet? Saya memang suka kepepet namun saya sadar betul tidak hanya kepepet yang mampu memacu potensi diri kita. Artinya ada cara lain agar kita bisa memacu potensi diri tanpa kepepet. Apa itu?

Kita bisa memacu potensi diri dengan menciptakan kondisi kepepet. Dengan menciptakan kondisi kepepet, kita ingin selalu menjadi yang terbaik dengan limit waktu tertentu, yang artinya kita akan memacu potensi diri kita. Peran menciptakan kondisi kepepet adalah untuk menggali potensi kita seoptimal mungkin.

Disadari atau tidak, kondisi kepepet sangat bertolak belakang dengan kondisi luang. Ketika kita berada pada kondisi luang, tidak ada tekanan sama sekali yang memaksa kita melakukan sesuatu hal. Semuanya terkesan mengalir tanpa ada tanggungan apapun. Namun saat kita terpojok pada kondisi kepepet, potensi yang tidak banyak kita sadari seakan keluar tanpa henti, tuntutan yang besar untuk menyelesaikan suatu hal akan mendesak dan mendorong kita.

Pertanyaannya, bagaimana cara Kita menciptakan kondisi kepepet? Dalam dunia jurnalistik, kita menyebutnya dengan deadline. Apakah deadline itu? Dalam kamus berarti "tenggat atau batas waktu". Pada dunia jurnaslistik artinya "batas terakhir memasukkan berita". Jika disimpulkan, maka deadline mempunyai arti batas terakhir mengumpulkan atau mengerjakan tugas atau pekerjaan.

Deadline adalah cara yang sering saya gunakan untuk menciptakan kondisi kepepet. Setiap tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab saya akan saya beri batas waktu untuk menyelesaikannya. Dengan deadline inilah saya terpacu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terkadang tidak sedikit jumlahnya.

Memang saya tidak menuliskan deadline tugas-tugas saya selama rentang sekian hari atau sekian pekan, tapi saya selalu menuliskan deadline saya untuk satu hari yang akan saya lalui. Saya menyiapkan buku kecil khusus untuk menuliskan setiap deadline tugas-tugas yang harus saya selesaikan. Biasanya di malam hari sebelum tidur atau pagi-pagi sebelum memulai aktivitas harian, saya menuliskan daftar tugas dan kewajiban yang harus saya tuntaskan pada hari itu.

Daftar deadline harian ini bisa kita isi dengan apapun yang harusnya kita lakukan. Saya lebih suka menuliskan daftar seputar tanggung jawab yang harus saya selesaikan hari itu juga, terkadang juga tentang jadwal rapat, jadwal bertemu seseorang atau bahkan buku bacaan yang harus saya selesaikan.

Deadline hidupmu, karena hidup tidak sekadar menunggu mati/dok. pribadi

Agar lebih semangat, di akhir daftar tugas-tugas saya juga menuliskan kata-kata yang memotivasi saya untuk menuntaskan target-target itu. Bisa juga berisi harapan dan doa, atau afirmasi hidup dan passion (Seputar afirmasi, saya pernah menulisnya di hari ke-2 ODOT: Terima Kasih Afirmasi).

Yang tidak kalah penting adalah tahap evaluasi. Seringnya memang target yang harus kita tuntaskan pada satu hari terselesaikan semua. Namun takjarang, ada beberapa daftar target yang tidak terselesaikan. Pada malam hari menjelang tidur adalah waktu yang sering saya gunakan untuk mengevaluasi target harian yang saya buat. Saya tulis kendala dan permasalahan-permasalahan yang menjadi penghalang terselesaikannya target yang sudah saya tulis di bawah daftar target. Sebagai cermin dan pertimbangan untuk menyusun target di hari berikutnya.

Jika tugas atau pekerjaan saja ada deadlinenya, maka bagi saya hidup pun harus dideadline. Inilah cara saya menciptakan kondisi kepepet, semoga menginspirasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Motivasi

Selasa, 17 November 2015

Hari Kedelapan: Kun Anta! (Jadilah Dirimu Sendiri)

Semenjak gagal tidak mampu menghadapi kenyataan tentang dunia afeksi yang sudah pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya (Hari Ke-4: Belajar Sekuat Mereka), semenjak itu saya collaps. Saya terpuruk dan kacau. Semua tanggung jawab terbengkalai, semua hal tentang kewajiban yang harus saya emban tertunda. Dan ada satu hal yang lebih ekstrim; Nasrul Yung yang dulu bukan Nasrul Yung yang sekarang. Begitu kiranya membahasakan perubahan saya.

Mimpi yang dituliskan selalu menjadi harapan di tengah keterpurukan/ Dok. Pribadi
Ya, Nasrul Yung berubah total. Banyak orang yang tidak menyangka dengan perubahan saya. Ada yang menilainya sebagai suatu hal yang positif karena Nasrul Yung yang sekarang lebih hangat bersosial, suka becanda dan sebagainya. Namun beberapa teman menyesalkan hal tersebut. Dan merasa kehilangan sosok Nasrul Yung yang dahulu. Nasrul Yung yang inspiratif, produktif, mempunyai ide-ide segar dan dingin namun tetap bersahabat.

Bertopeng menjadi orang lain adalah katarsis (bentuk pelampiasan) saya dari kekecewaan afeksi yang saya alami. Semua perubahan itu sengaja saya lakukan semata-mata agar saya bisa diterima di semua kelompok. Selain itu saya mengira, perubahan total yang saya lakukan itu mampu menyembuhkan luka afeksi yang saya alami. Nyatanya tidak.

Saya memang diterima di banyak kelompok, tapi itu Nasrul Yung palsu yang sengaja saya buat. Sedangkan tujuan awal menyembuhkan luka tetap tidak tertangani. Rasa tidak nyaman menjadi pribadi orang lain pun terus-terusan hinggap. Memang banyak yang menerima saya ketika saya hangat, tapi soal nyaman, saya lebih nyaman menjadi Nasrul Yung yang songong dan dingin.

Sekarang Nasrul Yung yang dulu kembali lagi. Kini lebih produktif, lebih inspiratif. Jika Nasrul Yung palsu tidak pernah menghiraukan mimpi dan tujuan, karena orientasinya sesaat yaitu agar diterima banyak orang, namun Nasrul Yung yang asli orientasinya ke mengejar-ngejar mimpi. Sang Pemimpi, begitulah teman-teman di pesantren memanggil saya.

Jika ada yang menanyakan, berarti Nasrul Yung sekarang tidak ingin diterima di berbagai kelompok lagi? Saya selalu berbaik sangka dengan rencanaNya. Dengan adanya masalah ini dan segala perubahan saya, saya sudah diterima di berbagai kelompok dari berbagai kelas. Meskipun bukan Nasrul Yung yang apa adanya. Setidaknya saya sudah diterima, urusan nanti mereka menolak saya yang apa adanya, saya tidak mengapa. Karena kelompok yang bisa menerima saya apa adanya itulah yang nantinya membuat saya merasa lebih nyaman.

Apapun kelebihan kita menjadi orang lain, menjadi diri sendiri jauh lebih indah. Semoga Menginspirasi.

Daftar Isi One Day One Tittle (ODOT) Di Sini

Hari Ketujuh: Obrolan Singkat Petang Itu

Petang itu setelah menunaikan sholat maghrib di Masjid kampus saya tidak beranjak balik ke fakultas. Saya duduk-duduk sebentar di teras masjid, menikmati suasana malam yang perlahan memeluk hari. Angin beraroma malam sebentar-sebentar menyapu hidungku. Saya paling suka dengan suasana yang seperti ini.

Emak, begitu mahasiswa biasa memanggilnya, datang dengan sepeda tuanya. Perempuan yang tidak muda lagi yang tiap hari berjualan di kantin kampus ini sudah melakukan aktifitas berjualannya puluhan tahun. Bisa dibilang, emak adalah saksi sejarah dinamika yang terjadi di kampus tertua di kota Jombang ini.

Sebelum Emak mengambil air wudhu, kami terlibat perbincangan yang membuat Emak harus tertahan sejenak di teras.

"Sudah lama Mak tidak kelihatan, sakit kah Mak?" Tanya saya membuka pembicaraan.

Emak hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya. Saya takut ada yang salah dengan pertanyaan yang saya ajukan baru saja. Saya pikirkan ulang susunan katanya. Saya selidiki cepat, adakah kata yang sensitif jika diajukan. Adakah diksi yang saya pakai tidak enak didengar. Atau mungkin ada aturan basa-basi di dunia bersosial yang saya langgar urut-urutannya. Ah, saya kurang pandai dalam masalah ini.

Suasana langit petang di depan teras masjid kampus Universitas Darul 'Ulum Jombang
"Iya, saya sakit beberapa hari. Tapi libur berjualannya lebih dari jumlah hari ketika saya sakit." Jawab Emak bersemangat meruntuhkan hipotesis-hipotesis konyol saya. Ternyata pertanyaan saya di awal tergolong pertanyaan berkelas yang pas diajukan di waktu mendesak seperti saat ini, saat Emak dikejar kewajiban mengambil air wudhu.

"Kok bisa gitu Mak?" Pertanyaan yang satu ini keluar spontan dengan penuh ke-pede-an ingin mengulangi kesuksesan pertanyaan pertama.

Sebenarnya anak-anak Emak melarang Emak berjualan lagi. Menurut mereka Emak sudah tua dan tidak seharusnya masih bekerja. Emak harusnya istirahat di rumah menikmati masa tua bersama anak dan cucu. Karena kebutuhan hidup harian sudah terpenuhi oleh pemberian dari anak-anak Emak yang sudah bekerja yang bisa dibilang mapan. Tapi Emak masih saja nakal berjualan di kantin kampus.

Ketika saya bertanya, "Kenapa masih saja berjualan?" Jawaban Emak mengharukan saya.

"Saya cinta dunia ini. Bukan karena keuntungan yang saya dapatkan, tapi lebih dari itu. Bagi saya, berjualan makanan dengan harga miring kepada para penuntut ilmu seperti mahasiswa adalah ibadah yang tak ternilai harganya. Karena harapan saya hanya satu, yaitu membantu menumbuhkan semangat para mahasiswa untuk belajar."

Jawaban Emak seketika menghentikan detak jantung saya sejenak. Betapa mulia orang-orang seperti Emak ini, ya Allah. Mataku berkaca, mengevaluasi diri. Betapa sombongnya diri ini yang kerap kali mengabaikan nilai ibadah di setiap beraktifitas. Betapa kecilnya diri ini yang setiap melakukan apapun orientasinya hanya materi dan duniawi yang semu. MasyaAllah, terima kasih ya Allah telah mengingatkan hamba melalui Emak.

"Saya wudhu dulu ya." Seru Emak mengakhiri obrolan singkat di petang ini.

Indah sekali petang ini. Semoga menginspirasi.

*Dialog Emak sudah melalui pengalihan bahasa. Sebelumnya berbahasa Jawa.

Daftar Isi One Day One Tittle (ODOT) Lengkap Di Sini

Senin, 16 November 2015

Hari Keenam: Kupas Tuntas One Day One Tittle (ODOT)

Logo Maha Inspirasi Online mempunyai arti semangat dalam menyebarkan inspirasi
Alhamdulillah sudah hari ke-6 One Day One Tittle (ODOT) berjalan. Di enam hari pertama ini banyak yang sudah saya dapatkan dan evaluasi. Namun pada tulisan di hari kelima ini saya akan menulis spesial guna menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pembaca seputar program ODOT saya. Tentunya masih dalam koridor inspiratif agar tetap menarik.

Apakah ODOT itu?
ODOT merupakan singkatan dari One Day One Tittle. Yang artinya "satu hari satu judul". Ini adalah program pribadi menulis sehari setidaknya satu judul tulisan yang wajib diposting di blog.

Kenapa Menulis ODOT?
Berawal dari keterpurukan ditimpa musibah dan fitnah luar biasa yang menyebabkan semua aktifitas saya terganggu dan terbengkalai. Termasuk kebiasaan menulis saya. Maka dalam rangka move on saya inisiatif untuk menulis setidaknya satu judul tulisan setiap hari. Agar kualitas tulisan saya terus berkembang.

Apa Tema yang Ditulis pada ODOT?
Saya tidak membatasi tema apapun.Yang sudah berjalan sejauh ini adalah sudut pandang saya tentang segala kejadian yang saya alami dan teman-teman alami. Hanya saja, saya melihat dari sisi positif yang saya pikir hal itu bisa menjadi inspirasi pembaca.

Apakah Saya Harus Membaca Mulai dari Hari Pertama?
Tidak harus. ODOT bersistem bisa dibaca sepotong demi sepotong. Pembaca tidak harus memulai dari hari pertama ODOT, karena memang setiap hari tema dan topik tulisannya tidak ada sangkut pautnya.

Apakah Saya Boleh Ikut ODOT?
Tidak ada kata boleh atau tidak boleh. Ini program pribadi Saya. Jika program ini dirasa baik, silakan dicontek sepuasnya. Saya sangat senang dengan hal itu.

Yang paling penting, postingan ini belum final. Kamu bebas mengajukan pertanyaan seputar psrogram ODOT. Postingan ini akan selalu saya perbarui jika ada pertanyaan yang perlu saya jawab. Terima kasih, semoga menginspirasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Hari Kelima: Ciptakan Lingkungan Produktifmu

Mimpi adalah kunci 
Untuk kita menaklukkan dunia 
Berlarilah tanpa lelah 
Sampai engkau meraihnya
(Nidji - Laskar Pelangi)

Tulisan Ingat Mimpi - Semangat - Ikhlas dan Selesaikan Target Harianmu pada laptop kerja saya
Tanpa alasan yang jelas saya sangat suka dengan lirik lagu di atas. Sering saya dengarkan original soundtrack film "Laskar Pelangi" yang dinyanyikan Giring dan kawan-kawan tersebut. Selain enak didengar, mungkin karena liriknya menginspirasi. Yup, bisa jadi.

Mendengarkan lagu, nonton film, membaca buku, tempat kita bersosial alias tongkrongan, teman-teman kita dan sebagainya adalah unsur-unsur yang membentuk kita saat ini. Rasulullah saw. pernah bersabda,

"Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)

Dalam kacamata Behaviorisme, salah satu cabang aliran dalam ilmu psikologi, mengatakan bahwa kita saat ini adalah hasil dari bentukan sejak kita berusia 0 tahun (nol tahun). Menjadi apa kita saat ini adalah hasil dari pengalaman, belajar dan latihan sepanjang usia kita.

Aliran Behaviorisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut aliran ini seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; Behaviorisme hanya ingin mengetahui sebagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.

Lingkungan yang ada di sekitar kita berpengaruh besar terhadap pembentukan kita. Contoh yang paling sederhana adalah saat kita duduk di bangku sekolah dasar (SD) ditanya tentang cita-cita yang kita punya. Hampir merata menjawab Polisi, Tentara, Dokter, Pilot, Masinis, Pramugari dan profesi-profesi lain yang sejenis. Itu semua terjadi karena kurangnya informasi yang didapatkan seputar dunia profesi pada usia SD.

Saya sendiri bercita-cita menjadi dokter di usia SD, namun berubah ketika duduk di bangku SMP. Di SMP saya bercita-cita menjadi seorang pesulap karena sering nonton acara Deddy Courbuzier membengkokkan sendok. Hingga sampai saat ini, cita-cita saya berubah berkali-kali sepanjang informasi yang saya dapatkan dari lingkungan saya.

Sadar akan pengaruh lingkungan yang sangat besar inilah membuat saya senantiasa waspada dengan lingkungan di sekitar saya. Kita memang tidak bisa mengubah lingkungan kita, tapi kita bisa menciptakan lingkungan kita sendiri.

Untuk itu, saya menyortitr benar-benar informasi-informasi yang masuk. Saya berusaha mendengarkan lagu yang hanya bernafas semangat dan memotivasi, seperti lagu Laskar Pelangi di atas. Saya membaca buku yang menurut pandangan saya mampu meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan saya dengan mimpi-mimpi saya. Saya berteman dengan siapapun, namun selektif dalam memilih teman bergaul yang membutuhkan intensitas pertemuan tinggi. Saya mencipatakan lingkungan produktif saya sendiri dengan menempelkan kata-kata positif di tempat yang sering saya baca. Saya sangat menghindari obrolan yang kurang bermanfaat, lebih-lebih yang banyak merugikannya. Dan masih banyak yang lainnya.

Semua itu saya lakukan karena saya sadar betul hidup adalah pilihan. Membentuk diri dengan menciptakan lingkungan atau dibentuk lingkungan mentah-mentah. Sekarang, silakan pilih hidup yang seperti apa yang kamu inginkan.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Sabtu, 14 November 2015

Hari Keempat: Belajar Sekuat Mereka

Gambar Hanya Ilustrasi/Dok. Pribadi
Seringkali apa yang kita inginkan tidak seperti kenyataan. Terkadang kehidupan yang kita dambakan tidak seperti realita yang tersaji. Ada teman yang ingin aktif di luar untuk mengembangkan diri, namun apa daya keluarga tidak pernah mengizinkan yang bersangkutan keluar rumah pada jam-jam penting. Kesenjangan antara keinginan dan kenyataan inilah dalam ilmu psikologi disebut dengan "masalah".

Beberapa bulan belakangan saya terlibat masalah serius. Bukan soal apa-apa, mungkin kalian akan menertawan permasalahan yang saya hadapi. Masalahnya simple, tapi ekor-ekornya yang membuat kehidupan saya berubah total.

Saya belum pernah mendapatkan masalah "ringan" namun sangat berdampak seperti permasalahan ini. Sejak permasalahan ini menimpa, hidup saya berantakan. Saya mengalami kekacauan, setiap tanggungjawab tertunda, produktivitas menurun drastis, dan yang paling dirasakan orang-orang di sekitar saya adalah saya bukan Nasrul Yung yang mereka kenal. Saat itu seakan orang lain yang mendiami jasad saya. Jika memang titik nol kehidupan itu ada, maka di saat itulah titik nol saya. Jika memang kehidupan itu seperti roda yang terus berputar, maka saat itu adalah saat-saat di mana saya berada di dasar roda.

Tentang afeksi atau biasa akrab kita sebut dengan perasaan, bahasa bekennya adalah "gagal move on", sekali lagi, saya "gagal move on", itulah permasalahan terbesar saya. Silakan tertawa. Dan saya tidak akan membahas permasalahan ini terlalu jauh karena hanya akan membuat kalian terpingkal-pingkal menertawakan saya.

Kurang lebih sekitar dua bulan saya tidak tahu arah. Banyak sekali aktivitas dan tanggung jawab yang seharusnya saya kerjakan namun bingung bagaimana harus memulainya. Perusahaan penerbitan yang saya geluti tidak termenej dengan baik, lembaga pengembangan diri yang saya dan rekan proyeksikan berdiri pada bulan sekian harus terbengkalai tidak terawat. Jangan tanyakan bagaimana urusan kuliah saya. Titik.

Titik balik saya memulai untuk berdiri tegap, kembali menyiapkan langkah terbaik, bersiap berlari seperti dulu lagi, kencang dan sangat kencang, karena inspirasi yang datang dari mereka orang-orang terdekat saya. Orang-orang yang sangat kuat bahkan setelah diterpa angin yang sangat kencang.

Seputar permasalahan afeksi alias perasaan, saya belajar banyak dari kakak angkatan yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Beberapa kali kakak saya ini diguncang dengan permasalahan afeksi. Karena guncangan afeksi yang dahsyat, dia bahkan pernah minggat ke luar kota (sampai tulisan ini diketik, saya belum menemukan padanan kata yang cocok untuk kata "minggat"). Yang selanjutnya saya anggap sebagai titik terendah dalam hidupnya. Saya belajar dari dia bukan ketika dia minggat, tapi saya belajar bagaimana dia bangkit kembali, menata ulang semua kehidupan yang sempat ditinggalnya.

Bagi saya, orang yang pernah terjatuh dan memutuskan untuk kembali bangkit adalah orang-orang luar biasa. Tidak semua orang mampu melakukannya. Ada tipe orang yang jika masalah menimpa, dia malah menjauh meninggalkan, ada yang bertarung namun terkesan asal-asalan berasas "yang penting kelar", ada yang menganggapnya sebagai angin lalu, dan tentu ada tipe orang yang menjadikannya sebagai sarana belajar. Dan saya yakin, kakak saya ini sebagai orang yang menjadikan permasalahannya sebagai sarana belajar.

Saya akan berterima kasih kepada dia, teman sekelas yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Selalu ceria dan menciptakan tawa. Dari dia kehebohan tercipta. Mereka mengatakan dia penggembira, bagi saya dia adalah wonder woman. Karena dia kuat.
,
Saya tahu persis apa permasalahan yang tengah dia hadapi. Baik masalah pribadi maupun keluarga. Dan juga tahu bagaimana dia menyikapi permasalahan. Hingga setiap saya dihadapkan pada permasalahan, saya selalu terbayang sosok ini. Akhirnya saya malu, sadar betapa lemahnya saya dibandingkan dia. Baru diuji dengan permasaahan remeh saja sudah drop dan susah bangkit.

Kedua tokoh yang saya sebutkan adalah tokoh inspiratif. Dari keduanya, saya belajar banyak hal tentang bagaimana saharusnya permasalahan itu dihadapi. Sekali lagi, terima kasih, sahabat. Saya akan terus belajar sekuat kalian.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Kamis, 12 November 2015

Hari Ketiga: Ciptakan Oposisi

Oposisi, apakah itu? Secara sederhana dan yang sering dipakai mempunyai arti kelompok politik terorganisasi yang memberikan pandangan yang berbeda dengan pemerintah. Jika saya tidak terjun di dunia politik apakah saya juga harus menciptakan oposisi? Jawabannya adalah iya.

Karena oposisi yang saya maksudkan di sini adalah lawan atau pesaing dalam hidup kita. Pesaing dalam hal apa? Tentunya dalam segala hal, lebih-lebih dalam rangka menuju tercapainya impian-impian kita.

Nasrul Yung dalam acara Talkshow Inspiratif UKM PAKAR
Saat ini saya sedang mengembangkan kemampuan komunikasi yang saya miliki. Meskipun beberapa teman mengakui kemampuan komunikasi saya yang sudah cukup baik. Tapi dasarnya saya yang tidak pernah puas dengan capaian itu, saya tetap dan ingin terus mengembangkan kemampuan skill komunikasi. Karena bagi saya, komunikasi adalah modal utama dalam bersosial dan menjalin hubungan.

Saya melakukan banyak cara untuk memenuhi kebutuhan saya berkomunikasi dengan baik. Saya membaca buku-buku komunikasi serta teknik-tekniknya, saya mengadakan acara talkshow dengan saya sebagai pembawa acaranya, saya paksakan bertemu orang baru dan mengajaknya berbincang seputar masalah apapun, saya memimpin rapat organisasi, saya tumbuhkan keinginan berpendapat meskipun sebenarnya tidak terlalu penting, saya senantiasa dan terus mengusahakan agar bertanya ketika di kelas, saya kembali rutin menulis blog, saya bertanya apapun tentang dunia kehidupan seseorang, dan yang paling penting ketika saya memutuskan untuk belajar Stand Up Comedy.

Stand Up Comedy adalah salah satu genre profesi komedi yang komediannya (disebut komika, bahasa Inggris: comic) membawakan lawakannya di atas panggung seorang diri, biasanya di depan pemirsa langsung, dengan cara bermonolog mengenai sesuatu topik. Ini yang saya kutip dari Wikipedia.

Untuk menjadi seorang komika, mempelajari teknik dan cara-caranya saja tidak cukup, saya juga harus banyak tampil atau di dunia stand up comedy biasa disebut dengan open mic. Tentunya agar saya terbiasa menghadapi audien di depan saya. Selanjutnya, saya melihat banyak peluang yang sekiranya bisa dijadikan tempat untuk melakukan open mic yang tentunya mengundang banyak orang. Dan acara dwimingguan yang diadakan pemerintah daerah Jombang adalah sasaran empuk yang saya bidik; Car Free Night (CFN). Saya diuntungkan ketika Fakultas Psikologi tempat saya menimbah ilmu seputar dunia perilaku ini mempunyai stand khusus di CFN.

Selain banyak berlatih dengan melakukan open mic, yang tidak kalah penting adalah menciptakan oposisi atau pesaing. Secara logika, saya tidak mungkin ber-stand up sendirian, iya kalau lucu, kalau tidak? Untuk itu saya menantang teman-teman Fakultas Psikologi yang saya nilai mampu ber-stand up dan mempunyai selera dan pencipta humor; Fahman dan Niam. Keduanya adalah sumber kehebohan di kelas dan kelompoknya masing-masing.

Selain alasan logika yang saya buat-buat tersebut, sebenarnya saya mempunyai alasan lain tentang pentingnya menciptakan oposisi. Sengaja saya mengajak kedua orang yang (menurut saya) mempunyai jiwa humor seperti mereka ini sebagai oposisi saya. Agar saya bisa belajar banyak hal dari mereka, dan tentunya mereka akan saya jadikan pelecut semangat berkomedi tunggal.

Bayangkan jika saya sendirian, maka apa yang akan terjadi? Saya hanya 'berjalan santai' tidak kebut-kebutan karena tidak ada tantangan yang mengejar. Saya tidak bisa belajar langsung kepada orang-orang yang sudah mempunyai citra komedi seperti mereka. Dan kurang greget jika hanya saya yang tampil. Jika Anda pernah mendengar kisah tentang hiu-hiu kecil di kapal-kapal Jepang yang sengaja dihadirkan agar teri terus-terusan bergerak (kapan-kapan saya ceritakan), maka Fahman dan Niam yang sengaja saya jadikan oposisi ini adalah hiu-hiu kecil yang saya ciptakan agar saya tetap terus bergerak menjadi hebat, memenuhi keinginan saya menjadi seorang pembicara luar biasa.

Tidak hanya dengan saya, Anda pun harusnya demikian. Menciptakan oposisi dan pesaing-pesaing dalam hidup agar kita senantiasa melejit. Menjadikan pesaing sebagai sarana pelecut diri meraih apa yang kita impikan. Saatnya ciptakan oposisi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Rabu, 11 November 2015

Hari Kedua: Terima Kasih Afirmasi

"Dua puluh tahun lagi, ketika kamu sedang berada di toko buku ternama bersama anak dan istrimu. Anak kecilmu berhambur berlarian di lorong-lorong rak buku sampai dia berhenti di depan sebuah rak besar penuh buku. Kemudian dia mengambil salah satu buku di antara buku yang berderet rapi itu. Dan berkata, 'Ayah, aku mau buku ini!' dengan menyodorkan buku yang diambilnya. Seketika matamu berkaca-kaca ketika kamu membaca namaku di sampul buku itu. Entah apa yang terjadi kemudian, kamu menggeser-geser ponsel pintarmu dan mencari namaku di daftar kontak. Kamu meneleponku dan di tengah jadwalku yang padat aku menjawabnya. Kemudian kita terlibat perbincangan penuh haru berselimut rindu."

Itulah afirmasi yang sangat kuat. Dengan penggambaran yang sangat detail dari salah seorang sahabat di Fakultas Psikologi yang gandrung dengan sajak. Saya memanggilnya, Nap.

Nap, tengah membaca buku sajak
Tapi sebenarnya, apa afirmasi itu? Afirmasi (Inggris : Affirmation) atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan penegasan. Afirmasi mirip seperti doa, harapan atau cita-cita, hanya saja afirmasi lebih terstruktur dibandingkan dengan doa dan lebih spesifik

Cita-cita atau sasaran membantu pembentukan gambaran di dalam daya pikir Kita. Mengucapkan afirmasi adalah membuat sesuatu dengan tegas dan kokoh. Sederhananya, dasar semua afirmasi adalah pemikiran positif. Afirmasi atau penegasan adalah pernyataan penerimaan yang digunakan diri sendiri dengan kebebasan yang berlimpah. Afirmasi bisa juga merupakan kalimat-kalimat positif atau sekelompok kalimat yang dirangkai menjadi satu. Karenanya, ini merupakan kebenaran dan harus selalu demikian. Setiap afirmasi dinyatakan dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa yang ditegaskan itu akan terwujud.

Kalau Kita melakukan afirmasi, Kita mengalihkan sebagian dari daya kehidupan Kita kepada afirmasi itu. Afirmasi yang digunakan dengan benar adalah alat psikologis yang sangat kuat untuk bertumbuh. Beberapa orang menjuluki afirmasi dengan “proses pemetaan harta terpendam” atau “membuat daftar keinginan”. Tetapi di sini kita cenderung lebih menganggap afirmasi sebagai proses pemetaan harta terpendam.

Setelah mendengar afirmasi dari Nap yang digambarkan secara jelas dan detail, saya kembali teringat dengan mimpi-mimpi yang saya punya. Yang untuk beberapa bulan terakhir saya tinggalkan dan abaikan. Ketika saya terpuruk dengan permasalahan yang tidak sepatutnya saya pikirkan mendalam. Namun tidak untuk saat ini, saat Nap berafirmasi positif kepada Kami di lesehan di halaman kampus. Karena percaya atau tidak, Nasrul Yung yang Anda kenal sekarang adalah produk dari afirmasi yang kuat yang senantiasa diperjuangkan kala itu. Dan kini, Nasrul Yung dengan afirmasi-afirmasi positifnya kembali bangkit menginspirasi banyak orang untuk berkarya dan menjadi insan bermanfaat.

Terima kasih Nap, terima kasih afirmasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Hari Pertama: Paksa Mereka Menilai Anda

Sesi santai bersama teman-teman UKM PAKAR
Petang itu saya bersama mahasiswa Psikologi Universitas Darul 'Ulum yang lain tengah bercengkerama di halaman fakultas ungu itu. Sedikit lupa tentang tema pembahasan yang ngalur-ngidul pada awal-awal pembahasan. Namun yang masih teringat ketika mereka saya ajak untuk membedah kepribadian saya. Whats the next?

Ini yang seru, ketika saya harus legowo menerima kritikan pedas tentang kepribadian saya di mata mereka. "Apa hal negatif dari seorang Yung di mata kalian?" Tanyaku membuka obrolan.

Terdiam, sunyi dan agak lama...

"Yung itu...."

Terdiam, sunyi dan agak lama lagi... Sabar ya...

"Songong... Cuek." Tegas mbak Novita, wanita bersahaja semester lima yang selalu bangga dengan semua aktivitas pekerjaannya di salah satu lembaga perlindungan perempuan dan anak.

Dia melanjutkan, bahwa seorang Yung itu harusnya lebih membuka diri, peduli dengan orang-orang di sekitar, tidak sibuk dengan dunianya sendiri bahkan harusnya menjadi sosok yang rendah diri di hadapan banyak orang.

Saya tidak ingin membuka kepribadian saya di depan Anda semua. Saya hanya ingin menunjukkan satu hal yang bahkan jarang sekali orang lakukan; meminta orang-orang terdekat Anda menilai bagaimana Anda di mata mereka.

Pentingkah? Sangat penting.

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan berdiskusi bersama rekan dan orang terdekatnya dengan niat untuk mencari kebenaran dan perbaikan. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usulan Umar bin Khatab kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma yang saat itu menjadi seorang khalifah untuk mengumpulkan dan membukukan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].

Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Orang yang tahu betul siapa Anda adalah diri Anda sendiri dan orang-orang terdekat Anda. Mintalah mereka berpendapat tentang Anda, mintalah mereka membuat penilaian seputar Anda, mintalah kritik sepedas-pedasnya beserta bagaimana harusnya Anda memperbaiki itu semua. Jika hal-hal tersebut masih terasa kurang, Anda pun bebas untuk memaksa mereka menilai tentang Anda.

Selamat mengintropeksi diri! Jangan lupa manfaatkan mereka juga.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini