Seringkali ada teman yang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis. Apa saja tips yang harus dia kerjakan. Apa langkah yang tepat agar tulisannya bagus. Hingga dia bertanya bagaimana cara agar tulisan enak dibaca. Komplit sekali.
Saya tidak akan mengupas tips menulis atau strategi menjadi penulis pada postingan kali ini. Karena bagi saya, tips menulis kuncinya hanya satu; jangan takut untuk menulis. Jika ingin menjadi penulis, maka menulislah. Jangan ragu. Tulislah apapun yang bisa kamu tulis. Tulisan kita jelek dan tidak enak dibaca? Percayalah, semua penulis besar melalui fase itu. Fase tulisan jelek yang bahkan tak satupun orang mau membaca tulisan yang sudah jerih payah dituliskan. Tetaplah menulis dengan gaya kamu, dan mintalah orang lain memberikan saran dan kritik untuk perbaikan karya tulismu. Sudah, itu saja tips menulis dari saya. Sekali lagi, menulis dan teruslah menulis. Suka tidaknya orang lain membaca tulisan kita hanya soal selera.
Nah, pada postingan kali ini saya ingin menyoroti hal yang lebih serius daripada sekadar bagaimana cara menulis, yaitu bagaimana cara kita meningkatkan kualitas diri. Yaitu dengan banyak membaca. Iya, membaca.
Istilah "Gemar Membaca" mungkin tidak kekinian lagi. Kita akrab mendengar ajakan membaca hanya di bangku sekolah dulu. Begitu kerap kita dengar perintah untuk membaca. Komunitas penggerak dan pembangkit minat baca hanya berkubang pada segmen anak-anak. Namun tidak untuk saat ini, saat-saat ketika masa berimajinasi liar telah berlalu.
Saat ini kita tidak berada pada masa dimana minat membaca tinggi, justru kita berada pada masa dimana minat berkomentarlah yang tinggi. Suguhan sosial media yang sangat terbuka membuat semua orang bebas memberikan pendapatnya. Di satu sisi sangat positif, namun kebebasan yang keblabasan berkomentar di sosial media tanpa ilmu yang menyertai membuat setiap kepala dinilai sama. Orang yang berilmu dan orang yang hanya asal ceplos diniai sama di sosial media.
Gerakan membaca tidak boleh berhenti di sekolah-sekolah saja. Gerakan ini selayaknya tetap kita junjung dan kita gaungkan. Terutama buat kamu yang selalu bertanya bagaimana cara menulis. Jika boleh diibaratkan, menulis bagaikan menuangkan isi teko ke dalam gelas. Ingin menjadi penulis? Isi tekomu dengan apa yang ingin kamu tuangkan. Karena mustahil, kita menuangkan teko kosong ke dalam gelas.
Selasa, 01 Desember 2015
Hari Kesepuluh: Gerakan Membaca
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar