Kamis, 29 September 2016

Masalah Hanya Ada Dalam Pikiran

Semua penyebab gangguan psikologis pada manusia terdapat pada satu hal, masalah. Orang stress disebabkan masalah yang tak kunjung selesai. Remaja galau lantaran tidak bisa menentukan dua pilihan yang menyulitkannya. Bapak-bapak depresi karena tidak sanggup menanggung beban masalah yang didera. Percobaan bunuh diri yang dilakukan anak Sekolah Dasar yang ramai diperbincangkan secara viral di sosial media beberapa waktu lalu juga karena masalah yang menghimpitnya.

Dalam ilmu Psikologi, masalah didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana ada kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan inilah yang disebut sebagai masalah.

Dari definisi tersebut, ada dua unsur utama pembentuk suatu masalah. Yaitu keinginan dan kenyataan. Itu artinya, tidak disebut sebagai masalah jika salah satu atau kedua unsur tersebut tidak ada.

Unsur “kenyataan” tidak bisa kita ubah dan otak-atik lagi, karena kenyataan merupakan ketetapan Allah swt yang tak satu orang pun bisa merevisi dan meralatnya. Tapi lihat unsur satunya, “keinginan”. Bisakah kita meralatnya? Tentu sangat bisa. Kita bisa mengubah pandangan kita akan suatu persoalan dan masalah sehingga membuatnya tidak sebagai masalah lagi.

Sebuah eksperimmen sosial di Denmark menggunakan dua buah kue yang sama persis, baik bahan, pengolahan, koki, waktu pembuatan hingga tampilan. Dua kue yang sengaja dibuat sama persis ini diberi bandrol yang berbeda dan dipajang di tempat keramaian. Kue A dengan harga 20 ribu, sedangkan kue B seharga 100 ribu.

Subjek esperimen ini adalah orang yang diambil acak dari lalu lalang pengguna jalan. Beberapa orang diminta mencicipi kue A seharga 20 ribu dan diminta berkomentar untuk kue yang mereka cicipi. Rata-rata berkomentar, enak, lembut, manis dan sebagainya. Kemudian diminta mencicipi kue B seharga 100 ribu dan berkomentar, ini lebih enak, ini lebih manis dan lembut dan sebagainya.

Eksperimen ini berkesimpulan bahwasanya pikran, bagian terpenting yang mengendalikan rasa pada lidah, bisa diubah dan dipengaruhi. Walau hanya dengan banderol harga.

Jika banderol harga saja mampu mempengaruhi pikiran kita dalam hal rasa, apalagi kita yang memilikinya? Kita pun juga bisa mengendalikan pikiran kita untuk hal permasalahan hidup, yang sebenarnya pikiran kita sendirilah yang menciptakan.

Ada ungkapan menarik dalam salah satu buku yang pernah saya baca, “Jika kamu tidak bisa mengubah keadaan, maka ubahlah pikiranmu.” Semoga menginspirasi. (Nasrul Yung)

0 komentar:

Posting Komentar