![]() |
| Jadikan dirimu sebagai pengaruh lingkunganmu, meskipun kamu kini adalah korban lingkunganmu (Nasrul Yung) |
Kasus keduanya: Jarak tempuh dari kota A ke B bersama sang pujaan hati juga terasa begitu lebih cepat meskipun dengan jalan rusak berlubang, dibandingkan dengan kondisi yang sama tanpa ada yang menemani.
Pertanyaannya, apakah lama waktu duduk pada kasus pertama adalah sama? Sama-sama dua jam. Dan apakah jarak tempuh pada kasus yang kedua sama? Dari dulu jarak tempuh dari kota A ke kota B juga tidak ada perubahan. Jika keduanya jawabnya sama, tapi mengapa waktu pada kasus pertama dan jarak tempuh pada kasus kedua terasa berbeda?
Waktu dua jam dan jarak antar kota A dan B yang sama adalah waktu dan jarak sebenarnya. Hal ini yang kita pelajari di bangku-bangku sekolah sejak lama. Dan hampir-hampir kita tidak pernah mempelajari jarak, waktu maupun ukuran baku lainnya dari parameter psikologi. Meskipun dalam prakteknya kita sering menjumpai ukuran-ukuran psikologis ini.
Disadari atau tidak, kita bahkan lebih sering menggunakan ukuran psikologis dibandingkan dengan ukuran sebenarnya. Misalnya ketika diminta mengetes kehangatan air, kita tidak bisa menyebutkan skala kehangatan air secara pasti. Yang bisa kita lakukan hanya menjawab secara global; panas, hangat dan dingin. Kita tidak bisa menjawab seberapa besar suhu derajat pastinya.
Orang yang suka mengeluh juga menggunakan ukuran psikologis dalam menimbang apapun. Mereka cenderung menggunakan ukuran perasaan sebagai takaran. Nah, inilah yang kata orang disebut sebagai "Baper" atau bawa perasaan. Apapun kejadian ukurannya perasaan.
Orang hebat tidak hanya menggunakan ukuran psikologis. Mereka logis dan memakai nalar dalam menimbang sesuatu. Jika kita ingin menjadi orang yang hebat, maka "Baper" saja tidak cukup, kita juga harus menggunakan "Balog" alias bawa logika. Psikologis dan logika bekerja seimbang itulah cirinya. Semoga menginspirasi.











