Selasa, 17 November 2015

Hari Ketujuh: Obrolan Singkat Petang Itu

Petang itu setelah menunaikan sholat maghrib di Masjid kampus saya tidak beranjak balik ke fakultas. Saya duduk-duduk sebentar di teras masjid, menikmati suasana malam yang perlahan memeluk hari. Angin beraroma malam sebentar-sebentar menyapu hidungku. Saya paling suka dengan suasana yang seperti ini.

Emak, begitu mahasiswa biasa memanggilnya, datang dengan sepeda tuanya. Perempuan yang tidak muda lagi yang tiap hari berjualan di kantin kampus ini sudah melakukan aktifitas berjualannya puluhan tahun. Bisa dibilang, emak adalah saksi sejarah dinamika yang terjadi di kampus tertua di kota Jombang ini.

Sebelum Emak mengambil air wudhu, kami terlibat perbincangan yang membuat Emak harus tertahan sejenak di teras.

"Sudah lama Mak tidak kelihatan, sakit kah Mak?" Tanya saya membuka pembicaraan.

Emak hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya. Saya takut ada yang salah dengan pertanyaan yang saya ajukan baru saja. Saya pikirkan ulang susunan katanya. Saya selidiki cepat, adakah kata yang sensitif jika diajukan. Adakah diksi yang saya pakai tidak enak didengar. Atau mungkin ada aturan basa-basi di dunia bersosial yang saya langgar urut-urutannya. Ah, saya kurang pandai dalam masalah ini.

Suasana langit petang di depan teras masjid kampus Universitas Darul 'Ulum Jombang
"Iya, saya sakit beberapa hari. Tapi libur berjualannya lebih dari jumlah hari ketika saya sakit." Jawab Emak bersemangat meruntuhkan hipotesis-hipotesis konyol saya. Ternyata pertanyaan saya di awal tergolong pertanyaan berkelas yang pas diajukan di waktu mendesak seperti saat ini, saat Emak dikejar kewajiban mengambil air wudhu.

"Kok bisa gitu Mak?" Pertanyaan yang satu ini keluar spontan dengan penuh ke-pede-an ingin mengulangi kesuksesan pertanyaan pertama.

Sebenarnya anak-anak Emak melarang Emak berjualan lagi. Menurut mereka Emak sudah tua dan tidak seharusnya masih bekerja. Emak harusnya istirahat di rumah menikmati masa tua bersama anak dan cucu. Karena kebutuhan hidup harian sudah terpenuhi oleh pemberian dari anak-anak Emak yang sudah bekerja yang bisa dibilang mapan. Tapi Emak masih saja nakal berjualan di kantin kampus.

Ketika saya bertanya, "Kenapa masih saja berjualan?" Jawaban Emak mengharukan saya.

"Saya cinta dunia ini. Bukan karena keuntungan yang saya dapatkan, tapi lebih dari itu. Bagi saya, berjualan makanan dengan harga miring kepada para penuntut ilmu seperti mahasiswa adalah ibadah yang tak ternilai harganya. Karena harapan saya hanya satu, yaitu membantu menumbuhkan semangat para mahasiswa untuk belajar."

Jawaban Emak seketika menghentikan detak jantung saya sejenak. Betapa mulia orang-orang seperti Emak ini, ya Allah. Mataku berkaca, mengevaluasi diri. Betapa sombongnya diri ini yang kerap kali mengabaikan nilai ibadah di setiap beraktifitas. Betapa kecilnya diri ini yang setiap melakukan apapun orientasinya hanya materi dan duniawi yang semu. MasyaAllah, terima kasih ya Allah telah mengingatkan hamba melalui Emak.

"Saya wudhu dulu ya." Seru Emak mengakhiri obrolan singkat di petang ini.

Indah sekali petang ini. Semoga menginspirasi.

*Dialog Emak sudah melalui pengalihan bahasa. Sebelumnya berbahasa Jawa.

Daftar Isi One Day One Tittle (ODOT) Lengkap Di Sini

0 komentar:

Posting Komentar