Senin, 21 Desember 2015

Hari Ke-17: Dari UNDAR Untuk Negeri

Universitas Darul 'Ulum Jombang dipenuhi dengan intrik internal berkepanjangan yang berimbas pada penonaktifan kampus yang sudah berdiri 50 tahun silam ini. Namun beberapa hari yang lalu, UNDAR kembali aktif dengan melalui perjuangan panjang yang melelahkan. Menyambut aktifnya kembali UNDAR, saya teringat dengan tulisan prolog yang saya buat ketika acara Talkshow Inspiratif berjudul "Dari UNDAR Untuk Negeri" yang diadakan UKM PAKAR. Tulisan yang belum pernah saya publikasikan ini ingin saya jadikan arsip pribadi di blog ini. Tulisan optimis di tengah pesimistis sebagian besar mahasiswa terhadap kampus sendiri. Baca dengan nada Najwa Shihab membawakan Mata Najwa pada prolog acara. Inilah prolog "Dari UNDAR Untuk Negeri":

Dari UNDAR Untuk Negeri
Oleh: Nasul Yung

1965 Universitas Darul 'Ulum berdiri
Lahir dan dibesarkan dari tangan kiyai
Dari tempat ini bermunculan akademisi
Dengan pesantren, universitas dan thoriqoh sebagai pondasi
Bersatu menjadi Trisula yang digandrungi

UNDAR di masa lalu adalah UNDAR yang dihormati
Siapapun yang mendengar namanya akan bergidik sunyi
Sebagai pemberontak pemerintahan membela rakyat yang tertindas,
Meneriakkan kebenaran hingga sebagai petunjuk jalan hakiki
Masa itu, mimbar bebas begitu jamak ditemukan
Kelompok-kelompok diskusi tak sulit dijumpai
Mahasiswa bukan saja kelompok akademisi, tapi labuhan konsultasi

Mengenang masa lalu memang asik berderu
Senyum bangga hiasi bibir selalu
Suatu kebanggaan menjadi bagian dari kejayaan masa itu
Entah warisan atau peninggalan,
Karena masa keemasan harus terpuruk pada dinasti orang dalam
UNDAR yang dulu bukanlah UNDAR yang sekarang
Jika bangga saja sudah cukup, maka bukan buat kami
Inilah Talkshow Inspiratif, Dari UNDAR Untuk Negeri

Hari Ke-16: Terima Kasih Telah Menjadi Ibu

Sosok ibu memang tidak ada duanya. Ibu lah yang mengandung kita selama 9 bulan lamanya, dan merawat kita tanpa pernah meminta balasan. Namun, walaupun kita mengetahui berbagai jasa ibu, sering kali kita melupakan hal-hal penting tentang ibu.

Besok, 22 Desember adalah hari ibu. Hari Ibu memang bukan momen tunggal untuk menunjukkan kasih sayang pada sang mama. Karena bagi beberapa orang, mengekspresikan rasa sayang bisa dilakukan setiap hari. Namun, tak ada salahnya juga untuk memanfaatkan momen Hari Ibu untuk lebih memaknai rasa sayang tersebut.

Menjelang Hari Ibu, Mading Gantari Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang yang dikelola oleh lembaga pers mahasiswa JURMAPSI mengangkat tema khusus, Hari Ibu. Hampir semua ragam tulisan membahas tentang ibu. Mulai dari sosok hebat ibu yang digambarkan dari bentuk perjuangan yang luar biasa hingga hal-hal menarik tentang ibu yang dibahas ringan dan menarik.

Sementara itu, elemen-elemen mahasiswa Fakultas Psikologi UNDAR yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Ottonom (LSO), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), serta Kordinator Mahasiswa atau Kosma akan mengadakan rangkaian acara pada hari ibu. Rangkaian acara berupa lomba menulis ungkapan kepada ibu, lomba photo voice dengan tema ibu dan ditutup dengan music corner yang akan berlangsung besok.

Memang secara pribadi, perayaan seperti hari ibu maupun hari-hari peringatan lainnya hampir tidak pernah saya lakukan. Tapi kali ini, perayaan hari ibu benar-benar membuat saya sadar betapa pentingnya mengungkap cinta kepada ibu. Hal yang hampir tidak pernah saya lakukan.

Jika ada yang bertanya, kapan terakhir mengucap cinta kepada ibu? Kapan berjalan berdua dengan ibu? Kapan terakhir memeluk ibu? Kapan terakhir menanyakan kabar ibu? Kapan ada waktu khusus dengan ibu? Kapan terakhir bermain dengan ibu? Saya terdiam dan hanya bisa meneteskan air mata. Karena saya lupa kapan terakhir itu semua saya lakukan.

Bahkan sekadar menghubungi lewat telepon untuk menanyakan kabar saja tidak pernah. Jauh dari ibu harusnya tidak jadi alasan. Kesibukan di tanah rantau juga bukan jadi penghalang menanyakan kabar. Mungkinkah karena ini, semua usaha dan upaya yang saya lakukan seret? Masalah datang silih berganti. Berbagai cobaan tidak pernah berhenti. Wallahu a'lam, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, keridhoan Allah tergantung ridho orang tua kepada kita.

Di Hari Ibu, saya ingin menceritakan semua keluh kesah saya kepadamu ibu. Seperti masa kecil dulu yang sering merengek kepadamu. Apa yang saya rasakan, apa yang terjadi selama ini, dan apa prestasi-prestasi yang telah saya raih. Agar ibu bisa tersenyum bangga mendengarnya. Karena senyuman ibu adalah satu-satunya harapan saya yang ingin saya lihat hingga ibu tua. Saya juga akan mendengar cerita dari ibu. Saya ingin mendengar "cerewet"nya ibu. Sudah sekian lama saya tidak mendengarnya. Saya benar-benar merindukannya.

Ibu, memang tidak cukup hanya menulis ungkapan ini di blog. Karena saya tahu engkau tidak mungkin membacanya. Namun, inilah ikhtiar saya agar semakin banyak anak yang tersadarkan betapa mulianya wanita-wanita sepertimu.

Begitu banyak pengorbananmu. Tidak akan pernah ternilai dengan apapun. Terima kasih telah menjadi ibu.

Minggu, 20 Desember 2015

Hari Ke-15: Jangan Menyalahkan Hujan

Orang hebat tidak mengeluh, apapun yang menimpanya (Nasrul Yung)
Musim penghujan telah tiba. Alhamdulillah, yang lama ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Meski belum merata tapi hujan sudah mulai sering mengguyur beberapa kota. Sayangnya, di antara mereka yang juga menunggu turunnya hujan, setelah datang, bukannya bersyukur malah sebaliknya. Mereka kecewa, kesal dan bahkan ‘berani’ mengumpat hanya karena merasa hujan turun tidak pada waktu yang diinginkannya. Selain beberapa orang yang sedang menggelar hajatan dan pesta.

Apabila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan pada diri kita, rencana kita, acara kita, janganlah kemudian menyalahkan hujan. Menyalahkan hujan sama saja menyalahkan Allah. Tiada turun hujan kalau Allah tidak mengijinkan.

Jangan marah bila pakaian basah, sudah tahu mendung mengapa tak juga sedia payung. Jangan pula kesal bila rencana yang telah disusun rapi tiba-tiba batal, sudah tahu musim hujan tapi kemungkinan turun hujan tak ikut diperhitungkan. Jangan mengumpat bila pesta hajatan yang digelar tidak semeriah yang dibayangkan, mengira banyak undangan yang tak datang karena turunnya hujan. Ingat, sesungguhnya Allah lah yang membolak-balikan hati manusia, termasuk para tamu undangan. Apakah mereka akan datang atau tidak, bukan semata karena hujan.

Juga, hanya karena khawatir kendaraan menjadi kotor lalu keluarlah kata-kata kotor. Jangan karena malas mencuci lagi, lalu meluncurlah caci maki sepuas hati. Janganlah kufur nikmat. Kemarin, sebelum hujan turun, setiap hari mengeluh kepanasan, minta hujan segera diturunkan. Tapi sekarang, setelah hujan mulai turun, masih saja mengeluh, kedinginan. Sebenarnya apa sih yang diinginkan?

Hujan datang membawa berkah. Meski sebagian orang merasa ‘dirugikan’, janganlah menyalahkan hujan, lalu menyebut hujan sebagai sumber musibah. Allah Maha Adil. Kalaupun saat hujan para penjual es merasa dirugikan, tapi di sisi lain para penjual gorengan dan ojek payung menjadi pihak diuntungkan. Semua ada masanya, ada bagiannya. Hidup itu berputar, bergantian. Kemarin panas, sekarang hujan. Begitu, saling bergantian. Terima, nikmati dan tentu saja syukuri anugerah Allah yang satu ini.

Kalau tak ingin menyiksa diri, jangan mengharap teriknya mentari di saat mendung menggantung. Jangan pula membayangkan segarnya es buah, nikmati saja teh manis atau panasnya kopi. Bukankah di saat turun hujan, secangkir teh atau kopi panas lebih pas dinikmati?

Jika saat ini di luar sedang turun hujan, sementara Anda ingin melakukan kegiatan di luar rumah, apa yang Anda pikirkan? Ingatlah, jangan menyalahkan hujan! Semoga Menginspirasi.

Jumat, 18 Desember 2015

Hari Ke-14: Jarak Psikologis atau Jarak Sebenarnya?

Jadikan dirimu sebagai pengaruh lingkunganmu, meskipun kamu kini adalah korban lingkunganmu (Nasrul Yung)
Suatu kali, seorang teman mengatakan bahwa ketika tengah berduaan bersama sang kekasih selama dua jam rasanya sebentar sekali. Dan dua jam yang sama terasa sangat lama jika sedang duduk di tempat pengajian keislaman (kasus pertama).

Kasus keduanya: Jarak tempuh dari kota A ke B bersama sang pujaan hati juga terasa begitu lebih cepat meskipun dengan jalan rusak berlubang, dibandingkan dengan kondisi yang sama tanpa ada yang menemani.

Pertanyaannya, apakah lama waktu duduk pada kasus pertama adalah sama? Sama-sama dua jam. Dan apakah jarak tempuh pada kasus yang kedua sama? Dari dulu jarak tempuh dari kota A ke kota B juga tidak ada perubahan. Jika keduanya jawabnya sama, tapi mengapa waktu pada kasus pertama dan jarak tempuh pada kasus kedua terasa berbeda?

Waktu dua jam dan jarak antar kota A dan B yang sama adalah waktu dan jarak sebenarnya. Hal ini yang kita pelajari di bangku-bangku sekolah sejak lama. Dan hampir-hampir kita tidak pernah mempelajari jarak, waktu maupun ukuran baku lainnya dari parameter psikologi. Meskipun dalam prakteknya kita sering menjumpai ukuran-ukuran psikologis ini.

Disadari atau tidak, kita bahkan lebih sering menggunakan ukuran psikologis dibandingkan dengan ukuran sebenarnya. Misalnya ketika diminta mengetes kehangatan air, kita tidak bisa menyebutkan skala kehangatan air secara pasti. Yang bisa kita lakukan hanya menjawab secara global; panas, hangat dan dingin. Kita tidak bisa menjawab seberapa besar suhu derajat pastinya.

Orang yang suka mengeluh juga menggunakan ukuran psikologis dalam menimbang apapun. Mereka cenderung menggunakan ukuran perasaan sebagai takaran. Nah, inilah yang kata orang disebut sebagai "Baper" atau bawa perasaan. Apapun kejadian ukurannya perasaan.

Orang hebat tidak hanya menggunakan ukuran psikologis. Mereka logis dan memakai nalar dalam menimbang sesuatu. Jika kita ingin menjadi orang yang hebat, maka "Baper" saja tidak cukup, kita juga harus menggunakan "Balog" alias bawa logika. Psikologis dan logika bekerja seimbang itulah cirinya. Semoga menginspirasi.

Rabu, 16 Desember 2015

Hari Ke-13: Nyatanya dan Harusnya

Ingat, tidak selamanya seperti apa yang kita inginkan, tapi rencana Allah itu indah. (Nasrul Yung)
Nah, lagi-lagi saya ingin membahas tentang masalah. Pembahasan yang tiada matinya. Karena setiap saat kita tidak akan pernah lepas dari masalah. Bahkan sejak bangun tidur, kita sudah berhadapan dengan masalah.

Pagi-pagi sekali ketika saya bangun tidur, saya dihadapkan dengan puluhan keinginan yang bersamaan saat itu juga. Sebagai remaja pada umumnya yang sudah gandrung dengan gadget, keinginan pertama saya ketika bangun tidur adalah mengecek notifikasi ponsel pintar yang saya punya. Namun kenyataannya gadget yang sudah di genggaman mati tanpa daya alias ngedrop. Ingin hati mengecek notifikasi, tapi apa daya ponsel mati. Inilah masalah pertama yang saya hadapi semenjak membuka mata.

Secara sederhana masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara keinginnan dan kenyataan. Kapan pun itu, ketika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi, maka itulah masalah. Seperti pagi-pagi yang saya alami di atas.

Dari definisi yang saya dapatkan dari ruang perkuliahan tersebut saya mendapatkan dua kata utama, yaitu "keinginan" dan "kenyataan". Inilah yang kemudian saya sebut sebagai faktor utama terjadinya masalah.

Lebih dari itu, bahkan keduanya jika (boleh) saya padankan pada kata "nyatanya" (untuk padanan kata "kenyataan") dan "harusnya" (untuk padanan kata "keinginan"), maka akan menjadi dua kata komponen yang menyusun kehidupan yang terjadi di dunia ini.

Apapun kejadian di dunia ini dari hal terkecil hingga hal terbesar merupakan bagian dari "nyatanya" atau "harusnya". Contoh terkecil seperti yang saya alami tadi, harusnya saya mengecek notifikasi setelah bangun tidur, tapi nyatanya hal itu tidak terjadi. Atau juga merupakan gabungan dari keduanya, suatu kejadian termasuk bagian dari "nyatanya" dan "harusnya". Contohnya seperti, saya harusnya makan nasi goreng seperti yang dijanjikan teman saya malam ini, nyatanya saya benar-benar makan nasi goreng malam ini. Untuk yang kedua ini bukan disebut sebagai masalah.

Saya teringat kisah Alfred Nobel, seorang ahli kimia asal Swedia yang mempunyai hak paten penemuan dinamit. Dasar penemuan berawal dari keresahan Alfred Nobel melihat kenyataan susahnya pembangunan jalan di pegunungan karena harus meratakan kontur bukit yang bergelombang naik turun. Teknologi yang ada saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perataan kontur. Hingga terciptalah dinamit sebagai penghancur batu-batu besar yang menghalangi pembangunan jalan.

Setelah mendapat paten atas dinamit dan detonator, temuan Alfred Nobel tersebut laris manis di pasaran dan industri pembangunan. Dia membangun lebih dari 90 pabrik di lebih dari 20 negara. Selain dua penemuan itu, masih banyak paten penemuan lainnya di bidang kimia juga didapatkan. Setiap mendapat temuan baru, Alfred Nobel melaporkan kepada Komite Serbuk Mesiu, sebuah komite yang dibentuknya sendiri. Salah seorang anggota komite yang tahu cara membuat Serbuk Tanpa Asap, hasil temuan Alfred Nobel yang terbaru itu, mengkhianati komite. Dan menjual hasil temuannya kepada orang yang gila perang. Sejak saat itulah hasil temuan Alfred Nobel dijadikan senjata perang.

Megetahui hal itu, Alfred Nobel yang sudah mulai sakit-sakitan terguncang hatinya. Dia merasa terpukul karena hasil temuannya digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Dia pun menulis wasiat agar menyumbangkan banyak hartanya untuk dijadikan hadiah kepada orang yang melakukan aksi dan tindakan dalam ilmu pengetahuan dan perdamaian. Yang di kemudian hari disebut sebagai Hadiah Nobel.

Nah, seringkali kita terlalu berambisi mendapatkan dan meraih sesuatu. Saya tidak pernah melarang kalian dan diri saya sendiri untuk berambisi. Namun ambisi yang besar jika tidak diimbangi dengan kesadaran penuh bahwa apa yang akan terjadi nantinya tidak selamanya menjadi "harusnya" juga akan berbahaya. Betapa banyak calon anggota dewan yang mendadak depresi karena gagal menjadi pejabat publik. Remaja tanggung yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena ditinggal kekasih ke lain hati. Ayah yang mencabuli putri kecilnya karena tidak mendapatkan "jatah" dari istri. Dan masih banyak yang lainnya.

Banyak kasus terjadi disebabkan pelaku tidak menyadari betul bahwa tidak selamanya apa yang kita harapkan terwujud. Itu terjadi karena kesadaran manusia menganggap apapun yang terjadi akan seperti yang diinginkan, padahal tidak. Kita harus membuka mata lebar-lebar dan sadar betul bahwa tidak selamanya menjadi "harusnya", bahkan seringkali menjadi "nyatanya" yang harus kita terima.

Sabtu, 05 Desember 2015

Hari Ke-12: Ngetrip Jombang, Pentingnya Ngetrip

Hampir lima tahun di Jombang tapi belum pernah menjelajah tempat-tempat seru di kota berjuluk kota santri ini rasanya ada yang kurang. Pada hari pahlawan (10/11/2015) lalu saya dan teman saya, Anas Munaji, melakukan trip di tempat-tempat menarik di kota Jombang. Perjalanan ini tanpa ada kendaraan alias murni jalan kaki ala seorang backpaker, sehingga sangat menghemat biaya liburan.

Kita mulai dari suasana mendung berkabut putih yang sedari pagi menghiasai langit. Hawa dingin yang lembut dan bau hujan yang meneduhkan menggoda setiap orang untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Termasuk saya yang hari itu tidur di Ruang Kreatif (RK) UKM PAKAR. Mata yang masih sembab efek begadang semalam masih terasa. Lagi-lagi, keinginan tidur di suasana yang sangat mendukung terus meronta.

Ingat kalau hari itu adalah hari pahlawan, seketika tubuhku melonjak. Pikiran mencari-cari ide aktifitas apa yang harusnya terkenang di hari spesial terus bekerja. Tidak sekadar menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran yang tiada manfaatnya. Karena pantang bagi seorang Nasrul Yung menghabiskan masa muda dengan sia-sia. Hingga muncul kata backpaker di kepala dari sekian banyak ide akifitas yang akan dilaksanakan hari itu.

"Nas, backpaker-an keliling Jombang yuk!" Ajakku kepada Anas Munaji yang juga semalam tidur di RK.

Dia sebenarnya ada janji bertemu seseorang di Perpustakaan Mastrip. Jadi saya tidak bisa memaksanya, tapi namanya juga saya, saya tetap berusaha membujuknya agar ikut. Memang, saya backpaker-an tanpa dia pun sudah biasa, tapi disayangkan jika di momen yang spesial tidak ada yang mendokumentasikan. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya dia juga ikut.

Bagi seorang penulis atau pun seorang yang berprofesi di dunia kreatif semacam desainer grafis seperti saya, traveling sesekali perlu dilakukan. Bahkan dilakukan setiap hari jika itu sudah menjadi kebutuhan juga tidak masalah. Saya sendiri biasa melakukannya hampir tiap hari, meskipun tidak selalunya bergaya backpaker. Terkadang saya sekadar jalan-jalan dan duduk-duduk di perempatan untuk melihat lalu lalang kendaraan dengan segala aktifitas manusia yang menghiasi. Bagi saya, itu sudah cukup untuk menghilangkan stress dan mampu memantik munculnya ide-ide baru.

Dituntut untuk menciptakan karya yang baru dan fresh, saya juga sering berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan kota. Lagi-lagi, hanya sekadar jalan-jalan dan melihat-lihat gambar sampul yang kian hari kian kreatif.

Tidak memaksa, hanya menyarankan; lakukan ngetrip secara berkala agar tulisanmu -bagi yang ingin menjadi penulis- dan karyamu lainnya tetap fresh dan diminati banyak orang. Di sana, kamu juga akan mendapatkan banyak inspirasi tulisan. Mau coba? Semoga Menginspirasi.

Berikut foto-foto hasil jepretan selama melakukan perjalanan.
Semua dimulai dari langkah pertama. Gerbang belakang Universitas Darul 'Ulum Jombang
Gerbang Jalan Leci di Perumahan Jombang Permai ini dibuat dengan ornamen unik dengan nuansa coboy

Menjadi saksi pengaspalan jalan di kawasan Perumahan Jombang Permai, inspiratif sekali

Di tengah perjalanan menemukan bangunan runtuh, mengingatkan saya pada masalah yang tengah saya alami saat itu. Model dengan gaya menulis bermakna harapan yang terus menyala di tengah keterpurukan.

Masjid yang ber-ac super dingin ini bernama Ar-Roudloh, berada di jantung kota Jombang

Sungai adalah lambang kehidupan, miris sekali jika lambang kehidupan di Jombang penuh sampah dan limbah dengan bau yang cenderung menyengat.

Saya belajar dari tukang mie ayam ini bagaimana cara eksis memikat hati pelanggan. Lokasi di bawah jembatan layang RS Muslimat.

Di hari pahlawan, tak lengkap rasanya mendoakan mereka yang telah syahid berjuang mengusir penjajah.

Monumen Kusuma Bangsa di Taman Makam Pahlawan Jombang

Tidak ada kata selain, indah sekali.
Memeluk malam di Bazar Buku Perpustakaan Mastrip. Foto hanya akting.

Masih bingung dengan alasan dibangunnya Monumen Garuda Pancasila di Jombang.

Selasa, 01 Desember 2015

Hari Ke-11: Kisah Sisir dan Biara Shaolin

Tidak seperti postingan di hari-hari sebelumnya, hari ini saya ingin berkisah tentang sebuah kreatifitas.

Sebuah perusahaan membuat tes terhadap tiga calon staf penjual barunya. Tesnya unik, yaitu: Menjual sisir di komplek Biara Shaolin!

Tentu saja, ini cukup unik karena para biksu di sana semuanya gundul dan tidak butuh sisir. Kesulitan ini juga yang membuat calon pertama hanya mampu menjual satu sisir. Itupun karena belas kasihan seorang biksu yang iba melihatnya.

Tapi, tidak dengαn calon kedua. Ia berhasil menjual 10 sisir, ia tidak menawarkan kepada para biksu, tetapi kepada para turis yang ada di komplek itu, mengingat angin di sana memang besar sehingga sering membuat rambut jadi awut-awutan. Lalu bagaimana dengan calon ketiga?

Ia berhasil menjual 500 sisir !!!

Caranya? Ia menemui kepala biara. Ia lalu meyakinkan jika sisir ini bisa jadi souvenir bagus untuk komplek biara tersebut. Kepala biara bisa membubuhkan tanda tangan di atas sisir-sisir tersebut dan menjadikannya souvenir para turis. Sang kepala biara pun setuju.

Apa yang sering orang anggap sebagai penghambat terbesar karier mereka? Bukankah banyak orang sering kali menyalahkan keadaan? Dan inilah yang membuat calon pertama gagal. Sementara calon kedua, sudah berani berpikir di luar kotak. Namun ia masih terpaku pada fungsi sisir yang hanya sebagai alat merapikan rambut. Tapi calon ketiga bukan hanya berani berpikir bahwa sisir bukan hanya alat merapikan rambut, melainkan bisa menjadi souvenir.

Kita tidak bisa mengatur situasi seperti yang kita kehendaki. Tapi, kita bisa mengerahkan segenap kekuatan kita untuk mencari solusi.

“Segenap kekuatan” bukan hanya terbatas otot atau semangat, tapi juga pikiran, ilmu, dan kerja keras. Pendek kata, kreatifitas otak dan upaya fisik. Itulah potensi dalam diri kita yang dapat dipergunakan.

Mulai sekarang mari kita belajar bagaimana jadi penjual sisir yang ketiga. Jangan terbelenggu oleh sebuah hambatan, yang penting adalah bagaimana kita berpikir dan menemukan solusi mengatasi hambatan itu. Semoga menginspirasi.

Hari Kesepuluh: Gerakan Membaca

Seringkali ada teman yang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis. Apa saja tips yang harus dia kerjakan. Apa langkah yang tepat agar tulisannya bagus. Hingga dia bertanya bagaimana cara agar tulisan enak dibaca. Komplit sekali.

Saya tidak akan mengupas tips menulis atau strategi menjadi penulis pada postingan kali ini. Karena bagi saya, tips menulis kuncinya hanya satu; jangan takut untuk menulis. Jika ingin menjadi penulis, maka menulislah. Jangan ragu. Tulislah apapun yang bisa kamu tulis. Tulisan kita jelek dan tidak enak dibaca? Percayalah, semua penulis besar melalui fase itu. Fase tulisan jelek yang bahkan tak satupun orang mau membaca tulisan yang sudah jerih payah dituliskan. Tetaplah menulis dengan gaya kamu, dan mintalah orang lain memberikan saran dan kritik untuk perbaikan karya tulismu. Sudah, itu saja tips menulis dari saya. Sekali lagi, menulis dan teruslah menulis. Suka tidaknya orang lain membaca tulisan kita hanya soal selera.

Nah, pada postingan kali ini saya ingin menyoroti hal yang lebih serius daripada sekadar bagaimana cara menulis, yaitu bagaimana cara kita meningkatkan kualitas diri. Yaitu dengan banyak membaca. Iya, membaca.

Istilah "Gemar Membaca" mungkin tidak kekinian lagi. Kita akrab mendengar ajakan membaca hanya di bangku sekolah dulu. Begitu kerap kita dengar perintah untuk membaca. Komunitas penggerak dan pembangkit minat baca hanya berkubang pada segmen anak-anak. Namun tidak untuk saat ini, saat-saat ketika masa berimajinasi liar telah berlalu.

Saat ini kita tidak berada pada masa dimana minat membaca tinggi, justru kita berada pada masa dimana minat berkomentarlah yang tinggi. Suguhan sosial media yang sangat terbuka membuat semua orang bebas memberikan pendapatnya. Di satu sisi sangat positif, namun kebebasan yang keblabasan berkomentar di sosial media tanpa ilmu yang menyertai membuat setiap kepala dinilai sama. Orang yang berilmu dan orang yang hanya asal ceplos diniai sama di sosial media.

Gerakan membaca tidak boleh berhenti di sekolah-sekolah saja. Gerakan ini selayaknya tetap kita junjung dan kita gaungkan. Terutama buat kamu yang selalu bertanya bagaimana cara menulis. Jika boleh diibaratkan, menulis bagaikan menuangkan isi teko ke dalam gelas. Ingin menjadi penulis? Isi tekomu dengan apa yang ingin kamu tuangkan. Karena mustahil, kita menuangkan teko kosong ke dalam gelas.