Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Desember 2015

Hari Ke-13: Nyatanya dan Harusnya

Ingat, tidak selamanya seperti apa yang kita inginkan, tapi rencana Allah itu indah. (Nasrul Yung)
Nah, lagi-lagi saya ingin membahas tentang masalah. Pembahasan yang tiada matinya. Karena setiap saat kita tidak akan pernah lepas dari masalah. Bahkan sejak bangun tidur, kita sudah berhadapan dengan masalah.

Pagi-pagi sekali ketika saya bangun tidur, saya dihadapkan dengan puluhan keinginan yang bersamaan saat itu juga. Sebagai remaja pada umumnya yang sudah gandrung dengan gadget, keinginan pertama saya ketika bangun tidur adalah mengecek notifikasi ponsel pintar yang saya punya. Namun kenyataannya gadget yang sudah di genggaman mati tanpa daya alias ngedrop. Ingin hati mengecek notifikasi, tapi apa daya ponsel mati. Inilah masalah pertama yang saya hadapi semenjak membuka mata.

Secara sederhana masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara keinginnan dan kenyataan. Kapan pun itu, ketika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi, maka itulah masalah. Seperti pagi-pagi yang saya alami di atas.

Dari definisi yang saya dapatkan dari ruang perkuliahan tersebut saya mendapatkan dua kata utama, yaitu "keinginan" dan "kenyataan". Inilah yang kemudian saya sebut sebagai faktor utama terjadinya masalah.

Lebih dari itu, bahkan keduanya jika (boleh) saya padankan pada kata "nyatanya" (untuk padanan kata "kenyataan") dan "harusnya" (untuk padanan kata "keinginan"), maka akan menjadi dua kata komponen yang menyusun kehidupan yang terjadi di dunia ini.

Apapun kejadian di dunia ini dari hal terkecil hingga hal terbesar merupakan bagian dari "nyatanya" atau "harusnya". Contoh terkecil seperti yang saya alami tadi, harusnya saya mengecek notifikasi setelah bangun tidur, tapi nyatanya hal itu tidak terjadi. Atau juga merupakan gabungan dari keduanya, suatu kejadian termasuk bagian dari "nyatanya" dan "harusnya". Contohnya seperti, saya harusnya makan nasi goreng seperti yang dijanjikan teman saya malam ini, nyatanya saya benar-benar makan nasi goreng malam ini. Untuk yang kedua ini bukan disebut sebagai masalah.

Saya teringat kisah Alfred Nobel, seorang ahli kimia asal Swedia yang mempunyai hak paten penemuan dinamit. Dasar penemuan berawal dari keresahan Alfred Nobel melihat kenyataan susahnya pembangunan jalan di pegunungan karena harus meratakan kontur bukit yang bergelombang naik turun. Teknologi yang ada saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perataan kontur. Hingga terciptalah dinamit sebagai penghancur batu-batu besar yang menghalangi pembangunan jalan.

Setelah mendapat paten atas dinamit dan detonator, temuan Alfred Nobel tersebut laris manis di pasaran dan industri pembangunan. Dia membangun lebih dari 90 pabrik di lebih dari 20 negara. Selain dua penemuan itu, masih banyak paten penemuan lainnya di bidang kimia juga didapatkan. Setiap mendapat temuan baru, Alfred Nobel melaporkan kepada Komite Serbuk Mesiu, sebuah komite yang dibentuknya sendiri. Salah seorang anggota komite yang tahu cara membuat Serbuk Tanpa Asap, hasil temuan Alfred Nobel yang terbaru itu, mengkhianati komite. Dan menjual hasil temuannya kepada orang yang gila perang. Sejak saat itulah hasil temuan Alfred Nobel dijadikan senjata perang.

Megetahui hal itu, Alfred Nobel yang sudah mulai sakit-sakitan terguncang hatinya. Dia merasa terpukul karena hasil temuannya digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Dia pun menulis wasiat agar menyumbangkan banyak hartanya untuk dijadikan hadiah kepada orang yang melakukan aksi dan tindakan dalam ilmu pengetahuan dan perdamaian. Yang di kemudian hari disebut sebagai Hadiah Nobel.

Nah, seringkali kita terlalu berambisi mendapatkan dan meraih sesuatu. Saya tidak pernah melarang kalian dan diri saya sendiri untuk berambisi. Namun ambisi yang besar jika tidak diimbangi dengan kesadaran penuh bahwa apa yang akan terjadi nantinya tidak selamanya menjadi "harusnya" juga akan berbahaya. Betapa banyak calon anggota dewan yang mendadak depresi karena gagal menjadi pejabat publik. Remaja tanggung yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena ditinggal kekasih ke lain hati. Ayah yang mencabuli putri kecilnya karena tidak mendapatkan "jatah" dari istri. Dan masih banyak yang lainnya.

Banyak kasus terjadi disebabkan pelaku tidak menyadari betul bahwa tidak selamanya apa yang kita harapkan terwujud. Itu terjadi karena kesadaran manusia menganggap apapun yang terjadi akan seperti yang diinginkan, padahal tidak. Kita harus membuka mata lebar-lebar dan sadar betul bahwa tidak selamanya menjadi "harusnya", bahkan seringkali menjadi "nyatanya" yang harus kita terima.