Kamis, 29 September 2016

Miliki Cita-Cita Tinggi

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit,” demikian motivasi yang populer di negeri ini dalam hal untuk bercita-cita. Tentu saja beragam respon bermunculan, terlebih ungkapan hebat itu muncul saat Indonesia baru saja lahir sebagai bangsa. Namun, pernahkah kita sadari bahwa sebuah kalimat hebat tidak mungkin lahir dari hati dan pikiran yang tak bernilai? Bernilai artinya punya etos juang tinggi, empati mendalam terhadap penderitaan bangsanya sendiri. Dan, itulah yang dirasakan oleh para pahlawan bangsa terdahulu.

Dan, karena itu, Albert Einstein lebih mendorong penduduk dunia menjadi manusia yang bernilai. “Cobalah untuk tidak menjadi seorang yang sukses, tapi jadilah seorang yang bernilai.”

Ungkapan ini terasa relevan di zaman sekarang. Faktanya memang tidak sedikit. Misalnya ada anak yang malas belajar tapi lulus juga. Kalau standar sukses adalah lulus, maka buat apa lulus tanpa nilai pribadi yang kuat.

Oleh karena itu, Islam sangat mengutuk orang yang tidak mau berpikir. Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menulis, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan menunjukkan untuk mencari kedudukan yang paling mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”

“Maka,” lanjut Ibn Al-Jauzi, “Seorang yang berakal sudah seyogyanya bisa sampai pada puncak dari apa yang dia mampu. Sekiranya masuk akal bagi seorang anak manusia untuk naik ke langit, maka menurutku merupakan kekurangan yang paling jelek kalau dia sudah merasa puas di bumi.

Seandainya kenabian bisa diraih dengan kesungguhan upaya, maka menurutku orang yang bermalas-malasan untuk meraihnya berada di jurang kehinaan yang dalam. Hanya saja kalau itu semua memang tidak mungkin, maka seharusnya dia mencari apa yang mungkin (dia lakukan).

Capaian anak Adam memang tidak bisa sim salabim, sekali jadi, atau sistem kebut semalam. Ada proes yang harus dilalui, ada ‘mahar’ yang mesti dibayar. Sekedar menemukan lampu pijar, Edison harus rela melakukan 1000 kali lebih percobaan. Bahkan Sultan Muhammad Al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel setelah berabad-abad lamanya cita-cita tinggi keluarga khalifah ingin mewujudkannya.

Oleh karena itu, sebagai apapun diri kita, di usia berapapun, dan dimanapun berada, cita-cita hendaknya terus berkobar-kobar di dalam dada.

Ibn Al-Jauzi memberikan saran yang sangat realistis bagi kita semua. “Sekiranya engkau bisa melewati setiap sosok ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Karena mereka adalah manusia (biasa), dan engkau pun juga manusia (biasa). Dan tidaklah seseorang duduk (berpangku tangan) kecuali dikarenakan hina dan rendahnya cita-cita.”

Jadi, milikilah cita-cita tinggi, dan gantungkan cita-cita itu kepada Allah yang memiliki sifat Ash-Shomad (tempat segala sesuatu bergantung). Sebab, jika Allah yang menghendaki, apapun pasti terjadi, termasuk cita-cita dari para hamba-Nya. Wallahu a’lam. (Nasrul Yung)

Masalah Hanya Ada Dalam Pikiran

Semua penyebab gangguan psikologis pada manusia terdapat pada satu hal, masalah. Orang stress disebabkan masalah yang tak kunjung selesai. Remaja galau lantaran tidak bisa menentukan dua pilihan yang menyulitkannya. Bapak-bapak depresi karena tidak sanggup menanggung beban masalah yang didera. Percobaan bunuh diri yang dilakukan anak Sekolah Dasar yang ramai diperbincangkan secara viral di sosial media beberapa waktu lalu juga karena masalah yang menghimpitnya.

Dalam ilmu Psikologi, masalah didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana ada kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan inilah yang disebut sebagai masalah.

Dari definisi tersebut, ada dua unsur utama pembentuk suatu masalah. Yaitu keinginan dan kenyataan. Itu artinya, tidak disebut sebagai masalah jika salah satu atau kedua unsur tersebut tidak ada.

Unsur “kenyataan” tidak bisa kita ubah dan otak-atik lagi, karena kenyataan merupakan ketetapan Allah swt yang tak satu orang pun bisa merevisi dan meralatnya. Tapi lihat unsur satunya, “keinginan”. Bisakah kita meralatnya? Tentu sangat bisa. Kita bisa mengubah pandangan kita akan suatu persoalan dan masalah sehingga membuatnya tidak sebagai masalah lagi.

Sebuah eksperimmen sosial di Denmark menggunakan dua buah kue yang sama persis, baik bahan, pengolahan, koki, waktu pembuatan hingga tampilan. Dua kue yang sengaja dibuat sama persis ini diberi bandrol yang berbeda dan dipajang di tempat keramaian. Kue A dengan harga 20 ribu, sedangkan kue B seharga 100 ribu.

Subjek esperimen ini adalah orang yang diambil acak dari lalu lalang pengguna jalan. Beberapa orang diminta mencicipi kue A seharga 20 ribu dan diminta berkomentar untuk kue yang mereka cicipi. Rata-rata berkomentar, enak, lembut, manis dan sebagainya. Kemudian diminta mencicipi kue B seharga 100 ribu dan berkomentar, ini lebih enak, ini lebih manis dan lembut dan sebagainya.

Eksperimen ini berkesimpulan bahwasanya pikran, bagian terpenting yang mengendalikan rasa pada lidah, bisa diubah dan dipengaruhi. Walau hanya dengan banderol harga.

Jika banderol harga saja mampu mempengaruhi pikiran kita dalam hal rasa, apalagi kita yang memilikinya? Kita pun juga bisa mengendalikan pikiran kita untuk hal permasalahan hidup, yang sebenarnya pikiran kita sendirilah yang menciptakan.

Ada ungkapan menarik dalam salah satu buku yang pernah saya baca, “Jika kamu tidak bisa mengubah keadaan, maka ubahlah pikiranmu.” Semoga menginspirasi. (Nasrul Yung)

Mendidik Niat

Upaya untuk mendidik niat dapat saja kita lakukan dengan menuliskan dalam catatan kita atau dalam bentuk rencana. Tetapi berhati-hatilah dari berpanjang angan-angan. Kita menuliskan, untuk mendidik niat kita dan belajar melakukan sesuatu secara terencana. Di luar itu, kita harus terus-menerus berusaha untuk berserah diri kepada Allah Ta’ala seraya senantiasa memeriksa adakah yang kita inginkan tersebut termasuk amal shalih yang Allah Ta’ala ridhai? Jika sekiranya kita mengetahui ada yang keliru dalam niat kita, maka kita segera membenahi dan mengubahnya. Boleh jadi seseorang telah memiliki niat kuat untuk melakukan kebaikan, tetapi ia keliru dalam hal menilai apa yang ia akan lakukan. Ia menyangka kebaikan, padahal bukan termasuk bagian dari ketaatan maupun kebaikan yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla.

Itu sebabnya, selain mendidik niat, kita juga perlu terus-menerus belajar untuk mengilmui tentang apa-apa yang kita tekadkan dan lakukan. Sesungguhnya, nilai amal terletak pada dua perkara, yakni ikhlash dan benar. Ikhlash berarti amal tersebut kita lakukan hanya untuk mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla, benar berarti kita melakukan sesuai tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala dan penjelas sekaligus contoh dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian orang berkata: “Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah. Karena Dia akan menghapus bagian yang salah.”

Kalimat tersebut sepintas tampak baik, tetapi ada beberapa kesalahan serius di dalamnya.

Pertama, merupakan tugas kita untuk senantiasa memeriksa apakah amal kita, termasuk keinginan dan rencana kita, merupakan perkara yang dibenarkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla atau tidak. Maka kita harus terus-menerus belajar seraya meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala, memohon ditunjuki jalan yang lurus. Atas sebab ini, kita tak patut berkata “…berikan penghapusnya kepada Allah”.

Kedua, Allah Ta’ala bukan editor atas niat kita, tekad kita dan rencana-rencana kita. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berusaha untuk melakukan hal yang baik, mengetahui dan mengerti apa yang Allah Ta’ala perintahkan kepada kita dalam berbagai keadaan, serta menyadari tiada daya dan upaya selain semata-mata karena Allah Ta’ala semata.

Ketiga, kalimat “tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah” amat rentan menjerumuskan kita kepada ghurur (terkelabui). Kita menganggap bahwa diri kita benar, baik dan sempurna dan penggenggam kekuasaan sehingga dengannya kita dapat “memberikan” atau “tidak memberikan” penghapusnya kepada Allah Ta’ala. Jika kita tak berhati-hati, ia bahkan dapat menjatuhkan kita ke dalam keadaan bersombong kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, betapa perlu kita senantiasa berdo’a memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari ketertipuan oleh persepsi diri sendiri.

Keempat, kesalahan tetaplah merupakan kesalahan yang menjadikan kita memperoleh dosa sebanyak yang melakukan jika kesalahan itu sungguh-sungguh ada dalam rencana kita. Diri yang lemah ini memang tak luput dari salah, tetapi kita tak dapat berlepas-tangan darinya karena merasa telah “memberikan penghapusnya kepada Allah”.

Karenanya, kita senantiasa memohon maaf kepada Allah Ta’ala, mengharap ampunan dan menguatkan tekad untuk setiap saat siap rujuk kepada nash (mengoreksi pendapat karena kita menjumpai nash yang bertentangan dengan pendapat kita). Kelima, jika kita tidak mampu mewujudkan kebaikan yang menjadi tekad dan niat kita, bukan berarti itu merupakan bagian yang salah. Ia tetap menjadi sebab Allah Ta’ala limpahkan pahala kepada kita jika kita benar-benar jujur dengan niat kita. (Nasrul Yung)

Senin, 29 Februari 2016

Hari Ke-18: Kelelawar dan Sarang Laba-laba

Sudah lama tidak menyapa sahabat-sahabat saya di blog ini. Bahkan untuk sekadar mengecek notif dan jumlah kunjungan pun tak lagi sempat.

Mengunjungi blog ini ibarat masuk ke rumah tua. Dari teras rumah, dedaunan kering berserakan. Bau anyir hewan dan serangga liar menusuk hidung sesiapa yang ingin memberanikan dirinya melangkah masuk ke dalam. Rumput di pekarangan sudah setinggi dada orang dewasa. Sebagai tuan rumah yang lama tak pulang, aku beranikan diri memasuki rumah tua ini.

Gerbang depan terkunci rapat. Gagang gerbang yang terbuat dari besi terlihat mulai berkarat. Kuambil kunci dari saku jaketku, dan kubuka gerbang yang hampir tiga bulan tidak aku pegang. Kubuka gerbang dan kulangkahkan kakiku ke dalam. Ranting patah beberapa kali kuinjak. Bunyi khas daun kering menemani setiap langkahku. Paving agak licin, nampaknya lumut-lumut sudah lama mendiaminya.

Rumah mungil dengan desain peninggalan Belanda ini memang begitu nyaman dihuni. Aku paling betah berlama-lama di meja ukiran Jepara sisi barat rumah. Hanya beratap tumbuhan rambat yang sengaja dirambatkan ke tralis-tralis buatan menyerupai atap lengkungan. Sekarang tumbuhan rambat semakin lebat, banyak yang menjuntai ke bawah. Bahkan ada yang hingga menyentuh meja. Aku lupa kapan terakhir kali memangkasnya.

Biasanya aku menuliskan kisah di meja itu. Dengan laptop kesayangan hasil warisan. Apapun aku tuliskan. Karena menulis adalah caraku berbagi.

Mataku menyapu ke samping tempat duduk yang beratap rambat buatan. Kolam kecil dengan gemericik aliran air yang berbenturan dengan jungkat-jungkit bambu khas Jepang. Tidak harus pergi ke Jepang untuk mendapatkannya. Di toko taman di sepanjang jalur menuju bandara Juanda Surabaya juga banyak tersedia. Jika aku ke rumah ini bersama adik dan keponakanku, tempat ini yang paling pertama mereka serbu. Main air bersama ikan emas dan koi menjadi daya tarik. Mereka nampak seru, tapi bukan sama emak-emak mereka.

"Jangan sampai bajunya basah!" Teriak bibiku waktu itu.

Ah, melihat spot-spot di sekitaran rumah ini membuat memoriku kembali ke masa itu. Tentang aku dan kehidupanku.

Dulu, aku sering membuat sesuatu. Entah untuk melengkapi perabot rumah atau hanya sekadar hiasan interior sederhana. Hampir tiap hari.

Karena ada seseorang wanita spesial yang rajin mengunjungi rumah ini. Kadang bertamu, pun tak jarang melihat-lihat hal baru yang aku buat. Menikmatinya, dan sesekali memberikan masukan ini itu.

Saat aku tinggalkan rumah ini, mungkin wanita itu masih sesekali menengok. Namun karena terkunci dan aku sudah tidak lagi membuat perabot ataupun hiasan interior baru, dia sudah enggan balik ke sini. Padahal dalam hati, aku masih mengharapkannya datang. Sekadar melihat atau berkomentar ini itu lagi.

Sudahlah, berdiri di teras ini sambil melamunkan kenangan-kenangan indah tiga bulanan yang lalu sudah cukup. Aku belun melihat isi rumah seperti apa. Apakah masih sama seperti dulu? Karena tiga bulan tak berpenghuni adalah waktu yang tidak sebentar untuk membuat rumah berdebu tebal dengan sarang laba-laba dimana-mana.

Bersama wanita yang telah kulabuhkan hatiku kepadanya. Yang sedari tadi bengong melihat tingkahku memperhatikan keadaan di sekitar rumah ini. Dia tidak tahu detil apa yang terjadi tiga bulanan lalu. Aku bisikkan lembut di telinga kirinya,

"PR kita membersihkan ini semua, sayang."

Dia hanya mengangguk anggun sekali.