Kamis, 29 September 2016

Mendidik Niat

Upaya untuk mendidik niat dapat saja kita lakukan dengan menuliskan dalam catatan kita atau dalam bentuk rencana. Tetapi berhati-hatilah dari berpanjang angan-angan. Kita menuliskan, untuk mendidik niat kita dan belajar melakukan sesuatu secara terencana. Di luar itu, kita harus terus-menerus berusaha untuk berserah diri kepada Allah Ta’ala seraya senantiasa memeriksa adakah yang kita inginkan tersebut termasuk amal shalih yang Allah Ta’ala ridhai? Jika sekiranya kita mengetahui ada yang keliru dalam niat kita, maka kita segera membenahi dan mengubahnya. Boleh jadi seseorang telah memiliki niat kuat untuk melakukan kebaikan, tetapi ia keliru dalam hal menilai apa yang ia akan lakukan. Ia menyangka kebaikan, padahal bukan termasuk bagian dari ketaatan maupun kebaikan yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla.

Itu sebabnya, selain mendidik niat, kita juga perlu terus-menerus belajar untuk mengilmui tentang apa-apa yang kita tekadkan dan lakukan. Sesungguhnya, nilai amal terletak pada dua perkara, yakni ikhlash dan benar. Ikhlash berarti amal tersebut kita lakukan hanya untuk mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla, benar berarti kita melakukan sesuai tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala dan penjelas sekaligus contoh dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian orang berkata: “Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah. Karena Dia akan menghapus bagian yang salah.”

Kalimat tersebut sepintas tampak baik, tetapi ada beberapa kesalahan serius di dalamnya.

Pertama, merupakan tugas kita untuk senantiasa memeriksa apakah amal kita, termasuk keinginan dan rencana kita, merupakan perkara yang dibenarkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla atau tidak. Maka kita harus terus-menerus belajar seraya meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala, memohon ditunjuki jalan yang lurus. Atas sebab ini, kita tak patut berkata “…berikan penghapusnya kepada Allah”.

Kedua, Allah Ta’ala bukan editor atas niat kita, tekad kita dan rencana-rencana kita. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berusaha untuk melakukan hal yang baik, mengetahui dan mengerti apa yang Allah Ta’ala perintahkan kepada kita dalam berbagai keadaan, serta menyadari tiada daya dan upaya selain semata-mata karena Allah Ta’ala semata.

Ketiga, kalimat “tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah” amat rentan menjerumuskan kita kepada ghurur (terkelabui). Kita menganggap bahwa diri kita benar, baik dan sempurna dan penggenggam kekuasaan sehingga dengannya kita dapat “memberikan” atau “tidak memberikan” penghapusnya kepada Allah Ta’ala. Jika kita tak berhati-hati, ia bahkan dapat menjatuhkan kita ke dalam keadaan bersombong kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, betapa perlu kita senantiasa berdo’a memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari ketertipuan oleh persepsi diri sendiri.

Keempat, kesalahan tetaplah merupakan kesalahan yang menjadikan kita memperoleh dosa sebanyak yang melakukan jika kesalahan itu sungguh-sungguh ada dalam rencana kita. Diri yang lemah ini memang tak luput dari salah, tetapi kita tak dapat berlepas-tangan darinya karena merasa telah “memberikan penghapusnya kepada Allah”.

Karenanya, kita senantiasa memohon maaf kepada Allah Ta’ala, mengharap ampunan dan menguatkan tekad untuk setiap saat siap rujuk kepada nash (mengoreksi pendapat karena kita menjumpai nash yang bertentangan dengan pendapat kita). Kelima, jika kita tidak mampu mewujudkan kebaikan yang menjadi tekad dan niat kita, bukan berarti itu merupakan bagian yang salah. Ia tetap menjadi sebab Allah Ta’ala limpahkan pahala kepada kita jika kita benar-benar jujur dengan niat kita. (Nasrul Yung)

0 komentar:

Posting Komentar