Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

Hari Kesepuluh: Gerakan Membaca

Seringkali ada teman yang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis. Apa saja tips yang harus dia kerjakan. Apa langkah yang tepat agar tulisannya bagus. Hingga dia bertanya bagaimana cara agar tulisan enak dibaca. Komplit sekali.

Saya tidak akan mengupas tips menulis atau strategi menjadi penulis pada postingan kali ini. Karena bagi saya, tips menulis kuncinya hanya satu; jangan takut untuk menulis. Jika ingin menjadi penulis, maka menulislah. Jangan ragu. Tulislah apapun yang bisa kamu tulis. Tulisan kita jelek dan tidak enak dibaca? Percayalah, semua penulis besar melalui fase itu. Fase tulisan jelek yang bahkan tak satupun orang mau membaca tulisan yang sudah jerih payah dituliskan. Tetaplah menulis dengan gaya kamu, dan mintalah orang lain memberikan saran dan kritik untuk perbaikan karya tulismu. Sudah, itu saja tips menulis dari saya. Sekali lagi, menulis dan teruslah menulis. Suka tidaknya orang lain membaca tulisan kita hanya soal selera.

Nah, pada postingan kali ini saya ingin menyoroti hal yang lebih serius daripada sekadar bagaimana cara menulis, yaitu bagaimana cara kita meningkatkan kualitas diri. Yaitu dengan banyak membaca. Iya, membaca.

Istilah "Gemar Membaca" mungkin tidak kekinian lagi. Kita akrab mendengar ajakan membaca hanya di bangku sekolah dulu. Begitu kerap kita dengar perintah untuk membaca. Komunitas penggerak dan pembangkit minat baca hanya berkubang pada segmen anak-anak. Namun tidak untuk saat ini, saat-saat ketika masa berimajinasi liar telah berlalu.

Saat ini kita tidak berada pada masa dimana minat membaca tinggi, justru kita berada pada masa dimana minat berkomentarlah yang tinggi. Suguhan sosial media yang sangat terbuka membuat semua orang bebas memberikan pendapatnya. Di satu sisi sangat positif, namun kebebasan yang keblabasan berkomentar di sosial media tanpa ilmu yang menyertai membuat setiap kepala dinilai sama. Orang yang berilmu dan orang yang hanya asal ceplos diniai sama di sosial media.

Gerakan membaca tidak boleh berhenti di sekolah-sekolah saja. Gerakan ini selayaknya tetap kita junjung dan kita gaungkan. Terutama buat kamu yang selalu bertanya bagaimana cara menulis. Jika boleh diibaratkan, menulis bagaikan menuangkan isi teko ke dalam gelas. Ingin menjadi penulis? Isi tekomu dengan apa yang ingin kamu tuangkan. Karena mustahil, kita menuangkan teko kosong ke dalam gelas.

Kamis, 01 Mei 2014

Caraku Merutinkan Menulis


Sobat, ada perasaan berbeda ketika apa yang kita kerjakan selama ini membuahkan hasil. Ada perasaan aneh muncul dalam dada, ketika apa yang kita kerjakan diapresiasi orang lain. Rasanya gimana gitu… dan perasaan itu lah yang saya rasakan ketika jari jemari ini bergoyang indah di tuts-tuts keyboard laptopku.

Ada apa gerangan?
Hari ini, pintu cita-cita itu sedikit demi sedikit terus terbuka. Benar apa kata mahfudzot Arab, “ Idza shodaqol azmu wadhohas sabil”, “Apabila keyakinan itu kuat, maka jalannya pun akan terbuka”. Saya yakin, maka jalan menuju cita-cita itu pun terus terbuka. Salah satu cita-cita saya adalah ‘menerbitkan 100 buku sebelum usia 40 tahun’. Dan hari ini, angka 100 itu tinggal beberapa hari lagi akan pecah menjadi 99. Karena satu karya tulisan buku saya akhirnya diterbitkan.

Bukannya sombong, hanya sekedar ingin share saja kepada para pembaca sekalian. Buku pertama itu luar biasa. Sama kayak pacar pertama yang tak terlupa. Buku pertama pun demikian. Saya buktinya. Rasa-rasanya menunggu dua minggu untuk melihat buku tulisan sendiri mengisi rak baca serasa lama sekali. Saya sangat merindukan kehadirannya. Oh buku pertama…

Judulnya “Maha Inspirasi”. Bukan hasil buah pikirku sendiri memang. Buku ini hanya berisi kumpulan kisah, teori, data-data, tips dan aneka keunikan lainnya yang sangat inspiratif. Kemudian oleh saya, data-data itu saya kelompokkan berdasarkan tema. Dan dengan sedikit racikan dan polesan, akhirnya tada… jadi deh. Lain kali bias saya resensikan special buat kamu.

Pertama memang special. Ya, Maha Inspirasi memang special di hati saya. Karena perjalanan menuju dicetaknya buku ini sangat mengasyikkan. Sebelum dicetak, judulnya bukan seperti sekarang. Dulu namanya ‘Samudera Inspirasi’. Karena beberapa hal, salah satunya tentu nilai jual, ‘samudera inspirasi’ harus pensiun sebelum waktunya. Dan ketemulah nama ‘maha inspirasi’ yang lebih menumbuhkan tanda tanya pembaca dan lagi-lagi lebih menjual. Iya kan?

Sebelum diterbitkan, naskah ‘samudera inspirasi’ sudah mampir ke beberapa penerbit yang lumayan punya nama. Pro-U Media, dan gazzamedia. Pernah mendengar nama penerbit itu kan? Ya, meski tidak sebeken dan sepopuler gramedia atau mizan dan sebagainya, dua nama itu lumayan tenar, terutama di kawasan Yogyakarta dan solo raya.

Hadeh… pengennya belajar menulis rutin kayak bang Arry di blognya. Yang konon dalam setahun bias posting 500 artikel ringan. Tapi ini malah pembahasannya belepotan kemana-mana… huft… tapi tidak mengapa. Yang penting dimulai dulu. Oke deh, itu dulu curhatanku. Moga bias nulis rutin di blog ini.

Satu lagi, kesenangan menulis membuatku keranjingan menulis. Terutama saat ini. Moga bisa istiqomah. Sambil nunggu buku pertama terbit, saya habiskan waktu untuk menulis buku yang lainnya ah….