Tampilkan postingan dengan label Nasrul Yung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasrul Yung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 September 2016

Miliki Cita-Cita Tinggi

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit,” demikian motivasi yang populer di negeri ini dalam hal untuk bercita-cita. Tentu saja beragam respon bermunculan, terlebih ungkapan hebat itu muncul saat Indonesia baru saja lahir sebagai bangsa. Namun, pernahkah kita sadari bahwa sebuah kalimat hebat tidak mungkin lahir dari hati dan pikiran yang tak bernilai? Bernilai artinya punya etos juang tinggi, empati mendalam terhadap penderitaan bangsanya sendiri. Dan, itulah yang dirasakan oleh para pahlawan bangsa terdahulu.

Dan, karena itu, Albert Einstein lebih mendorong penduduk dunia menjadi manusia yang bernilai. “Cobalah untuk tidak menjadi seorang yang sukses, tapi jadilah seorang yang bernilai.”

Ungkapan ini terasa relevan di zaman sekarang. Faktanya memang tidak sedikit. Misalnya ada anak yang malas belajar tapi lulus juga. Kalau standar sukses adalah lulus, maka buat apa lulus tanpa nilai pribadi yang kuat.

Oleh karena itu, Islam sangat mengutuk orang yang tidak mau berpikir. Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menulis, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan menunjukkan untuk mencari kedudukan yang paling mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”

“Maka,” lanjut Ibn Al-Jauzi, “Seorang yang berakal sudah seyogyanya bisa sampai pada puncak dari apa yang dia mampu. Sekiranya masuk akal bagi seorang anak manusia untuk naik ke langit, maka menurutku merupakan kekurangan yang paling jelek kalau dia sudah merasa puas di bumi.

Seandainya kenabian bisa diraih dengan kesungguhan upaya, maka menurutku orang yang bermalas-malasan untuk meraihnya berada di jurang kehinaan yang dalam. Hanya saja kalau itu semua memang tidak mungkin, maka seharusnya dia mencari apa yang mungkin (dia lakukan).

Capaian anak Adam memang tidak bisa sim salabim, sekali jadi, atau sistem kebut semalam. Ada proes yang harus dilalui, ada ‘mahar’ yang mesti dibayar. Sekedar menemukan lampu pijar, Edison harus rela melakukan 1000 kali lebih percobaan. Bahkan Sultan Muhammad Al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel setelah berabad-abad lamanya cita-cita tinggi keluarga khalifah ingin mewujudkannya.

Oleh karena itu, sebagai apapun diri kita, di usia berapapun, dan dimanapun berada, cita-cita hendaknya terus berkobar-kobar di dalam dada.

Ibn Al-Jauzi memberikan saran yang sangat realistis bagi kita semua. “Sekiranya engkau bisa melewati setiap sosok ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Karena mereka adalah manusia (biasa), dan engkau pun juga manusia (biasa). Dan tidaklah seseorang duduk (berpangku tangan) kecuali dikarenakan hina dan rendahnya cita-cita.”

Jadi, milikilah cita-cita tinggi, dan gantungkan cita-cita itu kepada Allah yang memiliki sifat Ash-Shomad (tempat segala sesuatu bergantung). Sebab, jika Allah yang menghendaki, apapun pasti terjadi, termasuk cita-cita dari para hamba-Nya. Wallahu a’lam. (Nasrul Yung)

Masalah Hanya Ada Dalam Pikiran

Semua penyebab gangguan psikologis pada manusia terdapat pada satu hal, masalah. Orang stress disebabkan masalah yang tak kunjung selesai. Remaja galau lantaran tidak bisa menentukan dua pilihan yang menyulitkannya. Bapak-bapak depresi karena tidak sanggup menanggung beban masalah yang didera. Percobaan bunuh diri yang dilakukan anak Sekolah Dasar yang ramai diperbincangkan secara viral di sosial media beberapa waktu lalu juga karena masalah yang menghimpitnya.

Dalam ilmu Psikologi, masalah didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana ada kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan inilah yang disebut sebagai masalah.

Dari definisi tersebut, ada dua unsur utama pembentuk suatu masalah. Yaitu keinginan dan kenyataan. Itu artinya, tidak disebut sebagai masalah jika salah satu atau kedua unsur tersebut tidak ada.

Unsur “kenyataan” tidak bisa kita ubah dan otak-atik lagi, karena kenyataan merupakan ketetapan Allah swt yang tak satu orang pun bisa merevisi dan meralatnya. Tapi lihat unsur satunya, “keinginan”. Bisakah kita meralatnya? Tentu sangat bisa. Kita bisa mengubah pandangan kita akan suatu persoalan dan masalah sehingga membuatnya tidak sebagai masalah lagi.

Sebuah eksperimmen sosial di Denmark menggunakan dua buah kue yang sama persis, baik bahan, pengolahan, koki, waktu pembuatan hingga tampilan. Dua kue yang sengaja dibuat sama persis ini diberi bandrol yang berbeda dan dipajang di tempat keramaian. Kue A dengan harga 20 ribu, sedangkan kue B seharga 100 ribu.

Subjek esperimen ini adalah orang yang diambil acak dari lalu lalang pengguna jalan. Beberapa orang diminta mencicipi kue A seharga 20 ribu dan diminta berkomentar untuk kue yang mereka cicipi. Rata-rata berkomentar, enak, lembut, manis dan sebagainya. Kemudian diminta mencicipi kue B seharga 100 ribu dan berkomentar, ini lebih enak, ini lebih manis dan lembut dan sebagainya.

Eksperimen ini berkesimpulan bahwasanya pikran, bagian terpenting yang mengendalikan rasa pada lidah, bisa diubah dan dipengaruhi. Walau hanya dengan banderol harga.

Jika banderol harga saja mampu mempengaruhi pikiran kita dalam hal rasa, apalagi kita yang memilikinya? Kita pun juga bisa mengendalikan pikiran kita untuk hal permasalahan hidup, yang sebenarnya pikiran kita sendirilah yang menciptakan.

Ada ungkapan menarik dalam salah satu buku yang pernah saya baca, “Jika kamu tidak bisa mengubah keadaan, maka ubahlah pikiranmu.” Semoga menginspirasi. (Nasrul Yung)

Mendidik Niat

Upaya untuk mendidik niat dapat saja kita lakukan dengan menuliskan dalam catatan kita atau dalam bentuk rencana. Tetapi berhati-hatilah dari berpanjang angan-angan. Kita menuliskan, untuk mendidik niat kita dan belajar melakukan sesuatu secara terencana. Di luar itu, kita harus terus-menerus berusaha untuk berserah diri kepada Allah Ta’ala seraya senantiasa memeriksa adakah yang kita inginkan tersebut termasuk amal shalih yang Allah Ta’ala ridhai? Jika sekiranya kita mengetahui ada yang keliru dalam niat kita, maka kita segera membenahi dan mengubahnya. Boleh jadi seseorang telah memiliki niat kuat untuk melakukan kebaikan, tetapi ia keliru dalam hal menilai apa yang ia akan lakukan. Ia menyangka kebaikan, padahal bukan termasuk bagian dari ketaatan maupun kebaikan yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla.

Itu sebabnya, selain mendidik niat, kita juga perlu terus-menerus belajar untuk mengilmui tentang apa-apa yang kita tekadkan dan lakukan. Sesungguhnya, nilai amal terletak pada dua perkara, yakni ikhlash dan benar. Ikhlash berarti amal tersebut kita lakukan hanya untuk mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla, benar berarti kita melakukan sesuai tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala dan penjelas sekaligus contoh dari Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian orang berkata: “Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah. Karena Dia akan menghapus bagian yang salah.”

Kalimat tersebut sepintas tampak baik, tetapi ada beberapa kesalahan serius di dalamnya.

Pertama, merupakan tugas kita untuk senantiasa memeriksa apakah amal kita, termasuk keinginan dan rencana kita, merupakan perkara yang dibenarkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla atau tidak. Maka kita harus terus-menerus belajar seraya meminta petunjuk kepada Allah Ta’ala, memohon ditunjuki jalan yang lurus. Atas sebab ini, kita tak patut berkata “…berikan penghapusnya kepada Allah”.

Kedua, Allah Ta’ala bukan editor atas niat kita, tekad kita dan rencana-rencana kita. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berusaha untuk melakukan hal yang baik, mengetahui dan mengerti apa yang Allah Ta’ala perintahkan kepada kita dalam berbagai keadaan, serta menyadari tiada daya dan upaya selain semata-mata karena Allah Ta’ala semata.

Ketiga, kalimat “tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah” amat rentan menjerumuskan kita kepada ghurur (terkelabui). Kita menganggap bahwa diri kita benar, baik dan sempurna dan penggenggam kekuasaan sehingga dengannya kita dapat “memberikan” atau “tidak memberikan” penghapusnya kepada Allah Ta’ala. Jika kita tak berhati-hati, ia bahkan dapat menjatuhkan kita ke dalam keadaan bersombong kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, betapa perlu kita senantiasa berdo’a memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari ketertipuan oleh persepsi diri sendiri.

Keempat, kesalahan tetaplah merupakan kesalahan yang menjadikan kita memperoleh dosa sebanyak yang melakukan jika kesalahan itu sungguh-sungguh ada dalam rencana kita. Diri yang lemah ini memang tak luput dari salah, tetapi kita tak dapat berlepas-tangan darinya karena merasa telah “memberikan penghapusnya kepada Allah”.

Karenanya, kita senantiasa memohon maaf kepada Allah Ta’ala, mengharap ampunan dan menguatkan tekad untuk setiap saat siap rujuk kepada nash (mengoreksi pendapat karena kita menjumpai nash yang bertentangan dengan pendapat kita). Kelima, jika kita tidak mampu mewujudkan kebaikan yang menjadi tekad dan niat kita, bukan berarti itu merupakan bagian yang salah. Ia tetap menjadi sebab Allah Ta’ala limpahkan pahala kepada kita jika kita benar-benar jujur dengan niat kita. (Nasrul Yung)

Senin, 29 Februari 2016

Hari Ke-18: Kelelawar dan Sarang Laba-laba

Sudah lama tidak menyapa sahabat-sahabat saya di blog ini. Bahkan untuk sekadar mengecek notif dan jumlah kunjungan pun tak lagi sempat.

Mengunjungi blog ini ibarat masuk ke rumah tua. Dari teras rumah, dedaunan kering berserakan. Bau anyir hewan dan serangga liar menusuk hidung sesiapa yang ingin memberanikan dirinya melangkah masuk ke dalam. Rumput di pekarangan sudah setinggi dada orang dewasa. Sebagai tuan rumah yang lama tak pulang, aku beranikan diri memasuki rumah tua ini.

Gerbang depan terkunci rapat. Gagang gerbang yang terbuat dari besi terlihat mulai berkarat. Kuambil kunci dari saku jaketku, dan kubuka gerbang yang hampir tiga bulan tidak aku pegang. Kubuka gerbang dan kulangkahkan kakiku ke dalam. Ranting patah beberapa kali kuinjak. Bunyi khas daun kering menemani setiap langkahku. Paving agak licin, nampaknya lumut-lumut sudah lama mendiaminya.

Rumah mungil dengan desain peninggalan Belanda ini memang begitu nyaman dihuni. Aku paling betah berlama-lama di meja ukiran Jepara sisi barat rumah. Hanya beratap tumbuhan rambat yang sengaja dirambatkan ke tralis-tralis buatan menyerupai atap lengkungan. Sekarang tumbuhan rambat semakin lebat, banyak yang menjuntai ke bawah. Bahkan ada yang hingga menyentuh meja. Aku lupa kapan terakhir kali memangkasnya.

Biasanya aku menuliskan kisah di meja itu. Dengan laptop kesayangan hasil warisan. Apapun aku tuliskan. Karena menulis adalah caraku berbagi.

Mataku menyapu ke samping tempat duduk yang beratap rambat buatan. Kolam kecil dengan gemericik aliran air yang berbenturan dengan jungkat-jungkit bambu khas Jepang. Tidak harus pergi ke Jepang untuk mendapatkannya. Di toko taman di sepanjang jalur menuju bandara Juanda Surabaya juga banyak tersedia. Jika aku ke rumah ini bersama adik dan keponakanku, tempat ini yang paling pertama mereka serbu. Main air bersama ikan emas dan koi menjadi daya tarik. Mereka nampak seru, tapi bukan sama emak-emak mereka.

"Jangan sampai bajunya basah!" Teriak bibiku waktu itu.

Ah, melihat spot-spot di sekitaran rumah ini membuat memoriku kembali ke masa itu. Tentang aku dan kehidupanku.

Dulu, aku sering membuat sesuatu. Entah untuk melengkapi perabot rumah atau hanya sekadar hiasan interior sederhana. Hampir tiap hari.

Karena ada seseorang wanita spesial yang rajin mengunjungi rumah ini. Kadang bertamu, pun tak jarang melihat-lihat hal baru yang aku buat. Menikmatinya, dan sesekali memberikan masukan ini itu.

Saat aku tinggalkan rumah ini, mungkin wanita itu masih sesekali menengok. Namun karena terkunci dan aku sudah tidak lagi membuat perabot ataupun hiasan interior baru, dia sudah enggan balik ke sini. Padahal dalam hati, aku masih mengharapkannya datang. Sekadar melihat atau berkomentar ini itu lagi.

Sudahlah, berdiri di teras ini sambil melamunkan kenangan-kenangan indah tiga bulanan yang lalu sudah cukup. Aku belun melihat isi rumah seperti apa. Apakah masih sama seperti dulu? Karena tiga bulan tak berpenghuni adalah waktu yang tidak sebentar untuk membuat rumah berdebu tebal dengan sarang laba-laba dimana-mana.

Bersama wanita yang telah kulabuhkan hatiku kepadanya. Yang sedari tadi bengong melihat tingkahku memperhatikan keadaan di sekitar rumah ini. Dia tidak tahu detil apa yang terjadi tiga bulanan lalu. Aku bisikkan lembut di telinga kirinya,

"PR kita membersihkan ini semua, sayang."

Dia hanya mengangguk anggun sekali.

Senin, 21 Desember 2015

Hari Ke-17: Dari UNDAR Untuk Negeri

Universitas Darul 'Ulum Jombang dipenuhi dengan intrik internal berkepanjangan yang berimbas pada penonaktifan kampus yang sudah berdiri 50 tahun silam ini. Namun beberapa hari yang lalu, UNDAR kembali aktif dengan melalui perjuangan panjang yang melelahkan. Menyambut aktifnya kembali UNDAR, saya teringat dengan tulisan prolog yang saya buat ketika acara Talkshow Inspiratif berjudul "Dari UNDAR Untuk Negeri" yang diadakan UKM PAKAR. Tulisan yang belum pernah saya publikasikan ini ingin saya jadikan arsip pribadi di blog ini. Tulisan optimis di tengah pesimistis sebagian besar mahasiswa terhadap kampus sendiri. Baca dengan nada Najwa Shihab membawakan Mata Najwa pada prolog acara. Inilah prolog "Dari UNDAR Untuk Negeri":

Dari UNDAR Untuk Negeri
Oleh: Nasul Yung

1965 Universitas Darul 'Ulum berdiri
Lahir dan dibesarkan dari tangan kiyai
Dari tempat ini bermunculan akademisi
Dengan pesantren, universitas dan thoriqoh sebagai pondasi
Bersatu menjadi Trisula yang digandrungi

UNDAR di masa lalu adalah UNDAR yang dihormati
Siapapun yang mendengar namanya akan bergidik sunyi
Sebagai pemberontak pemerintahan membela rakyat yang tertindas,
Meneriakkan kebenaran hingga sebagai petunjuk jalan hakiki
Masa itu, mimbar bebas begitu jamak ditemukan
Kelompok-kelompok diskusi tak sulit dijumpai
Mahasiswa bukan saja kelompok akademisi, tapi labuhan konsultasi

Mengenang masa lalu memang asik berderu
Senyum bangga hiasi bibir selalu
Suatu kebanggaan menjadi bagian dari kejayaan masa itu
Entah warisan atau peninggalan,
Karena masa keemasan harus terpuruk pada dinasti orang dalam
UNDAR yang dulu bukanlah UNDAR yang sekarang
Jika bangga saja sudah cukup, maka bukan buat kami
Inilah Talkshow Inspiratif, Dari UNDAR Untuk Negeri

Hari Ke-16: Terima Kasih Telah Menjadi Ibu

Sosok ibu memang tidak ada duanya. Ibu lah yang mengandung kita selama 9 bulan lamanya, dan merawat kita tanpa pernah meminta balasan. Namun, walaupun kita mengetahui berbagai jasa ibu, sering kali kita melupakan hal-hal penting tentang ibu.

Besok, 22 Desember adalah hari ibu. Hari Ibu memang bukan momen tunggal untuk menunjukkan kasih sayang pada sang mama. Karena bagi beberapa orang, mengekspresikan rasa sayang bisa dilakukan setiap hari. Namun, tak ada salahnya juga untuk memanfaatkan momen Hari Ibu untuk lebih memaknai rasa sayang tersebut.

Menjelang Hari Ibu, Mading Gantari Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang yang dikelola oleh lembaga pers mahasiswa JURMAPSI mengangkat tema khusus, Hari Ibu. Hampir semua ragam tulisan membahas tentang ibu. Mulai dari sosok hebat ibu yang digambarkan dari bentuk perjuangan yang luar biasa hingga hal-hal menarik tentang ibu yang dibahas ringan dan menarik.

Sementara itu, elemen-elemen mahasiswa Fakultas Psikologi UNDAR yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Ottonom (LSO), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), serta Kordinator Mahasiswa atau Kosma akan mengadakan rangkaian acara pada hari ibu. Rangkaian acara berupa lomba menulis ungkapan kepada ibu, lomba photo voice dengan tema ibu dan ditutup dengan music corner yang akan berlangsung besok.

Memang secara pribadi, perayaan seperti hari ibu maupun hari-hari peringatan lainnya hampir tidak pernah saya lakukan. Tapi kali ini, perayaan hari ibu benar-benar membuat saya sadar betapa pentingnya mengungkap cinta kepada ibu. Hal yang hampir tidak pernah saya lakukan.

Jika ada yang bertanya, kapan terakhir mengucap cinta kepada ibu? Kapan berjalan berdua dengan ibu? Kapan terakhir memeluk ibu? Kapan terakhir menanyakan kabar ibu? Kapan ada waktu khusus dengan ibu? Kapan terakhir bermain dengan ibu? Saya terdiam dan hanya bisa meneteskan air mata. Karena saya lupa kapan terakhir itu semua saya lakukan.

Bahkan sekadar menghubungi lewat telepon untuk menanyakan kabar saja tidak pernah. Jauh dari ibu harusnya tidak jadi alasan. Kesibukan di tanah rantau juga bukan jadi penghalang menanyakan kabar. Mungkinkah karena ini, semua usaha dan upaya yang saya lakukan seret? Masalah datang silih berganti. Berbagai cobaan tidak pernah berhenti. Wallahu a'lam, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, keridhoan Allah tergantung ridho orang tua kepada kita.

Di Hari Ibu, saya ingin menceritakan semua keluh kesah saya kepadamu ibu. Seperti masa kecil dulu yang sering merengek kepadamu. Apa yang saya rasakan, apa yang terjadi selama ini, dan apa prestasi-prestasi yang telah saya raih. Agar ibu bisa tersenyum bangga mendengarnya. Karena senyuman ibu adalah satu-satunya harapan saya yang ingin saya lihat hingga ibu tua. Saya juga akan mendengar cerita dari ibu. Saya ingin mendengar "cerewet"nya ibu. Sudah sekian lama saya tidak mendengarnya. Saya benar-benar merindukannya.

Ibu, memang tidak cukup hanya menulis ungkapan ini di blog. Karena saya tahu engkau tidak mungkin membacanya. Namun, inilah ikhtiar saya agar semakin banyak anak yang tersadarkan betapa mulianya wanita-wanita sepertimu.

Begitu banyak pengorbananmu. Tidak akan pernah ternilai dengan apapun. Terima kasih telah menjadi ibu.

Rabu, 16 Desember 2015

Hari Ke-13: Nyatanya dan Harusnya

Ingat, tidak selamanya seperti apa yang kita inginkan, tapi rencana Allah itu indah. (Nasrul Yung)
Nah, lagi-lagi saya ingin membahas tentang masalah. Pembahasan yang tiada matinya. Karena setiap saat kita tidak akan pernah lepas dari masalah. Bahkan sejak bangun tidur, kita sudah berhadapan dengan masalah.

Pagi-pagi sekali ketika saya bangun tidur, saya dihadapkan dengan puluhan keinginan yang bersamaan saat itu juga. Sebagai remaja pada umumnya yang sudah gandrung dengan gadget, keinginan pertama saya ketika bangun tidur adalah mengecek notifikasi ponsel pintar yang saya punya. Namun kenyataannya gadget yang sudah di genggaman mati tanpa daya alias ngedrop. Ingin hati mengecek notifikasi, tapi apa daya ponsel mati. Inilah masalah pertama yang saya hadapi semenjak membuka mata.

Secara sederhana masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara keinginnan dan kenyataan. Kapan pun itu, ketika apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi, maka itulah masalah. Seperti pagi-pagi yang saya alami di atas.

Dari definisi yang saya dapatkan dari ruang perkuliahan tersebut saya mendapatkan dua kata utama, yaitu "keinginan" dan "kenyataan". Inilah yang kemudian saya sebut sebagai faktor utama terjadinya masalah.

Lebih dari itu, bahkan keduanya jika (boleh) saya padankan pada kata "nyatanya" (untuk padanan kata "kenyataan") dan "harusnya" (untuk padanan kata "keinginan"), maka akan menjadi dua kata komponen yang menyusun kehidupan yang terjadi di dunia ini.

Apapun kejadian di dunia ini dari hal terkecil hingga hal terbesar merupakan bagian dari "nyatanya" atau "harusnya". Contoh terkecil seperti yang saya alami tadi, harusnya saya mengecek notifikasi setelah bangun tidur, tapi nyatanya hal itu tidak terjadi. Atau juga merupakan gabungan dari keduanya, suatu kejadian termasuk bagian dari "nyatanya" dan "harusnya". Contohnya seperti, saya harusnya makan nasi goreng seperti yang dijanjikan teman saya malam ini, nyatanya saya benar-benar makan nasi goreng malam ini. Untuk yang kedua ini bukan disebut sebagai masalah.

Saya teringat kisah Alfred Nobel, seorang ahli kimia asal Swedia yang mempunyai hak paten penemuan dinamit. Dasar penemuan berawal dari keresahan Alfred Nobel melihat kenyataan susahnya pembangunan jalan di pegunungan karena harus meratakan kontur bukit yang bergelombang naik turun. Teknologi yang ada saat itu tidak memungkinkan untuk melakukan perataan kontur. Hingga terciptalah dinamit sebagai penghancur batu-batu besar yang menghalangi pembangunan jalan.

Setelah mendapat paten atas dinamit dan detonator, temuan Alfred Nobel tersebut laris manis di pasaran dan industri pembangunan. Dia membangun lebih dari 90 pabrik di lebih dari 20 negara. Selain dua penemuan itu, masih banyak paten penemuan lainnya di bidang kimia juga didapatkan. Setiap mendapat temuan baru, Alfred Nobel melaporkan kepada Komite Serbuk Mesiu, sebuah komite yang dibentuknya sendiri. Salah seorang anggota komite yang tahu cara membuat Serbuk Tanpa Asap, hasil temuan Alfred Nobel yang terbaru itu, mengkhianati komite. Dan menjual hasil temuannya kepada orang yang gila perang. Sejak saat itulah hasil temuan Alfred Nobel dijadikan senjata perang.

Megetahui hal itu, Alfred Nobel yang sudah mulai sakit-sakitan terguncang hatinya. Dia merasa terpukul karena hasil temuannya digunakan sebagai senjata pemusnah massal. Dia pun menulis wasiat agar menyumbangkan banyak hartanya untuk dijadikan hadiah kepada orang yang melakukan aksi dan tindakan dalam ilmu pengetahuan dan perdamaian. Yang di kemudian hari disebut sebagai Hadiah Nobel.

Nah, seringkali kita terlalu berambisi mendapatkan dan meraih sesuatu. Saya tidak pernah melarang kalian dan diri saya sendiri untuk berambisi. Namun ambisi yang besar jika tidak diimbangi dengan kesadaran penuh bahwa apa yang akan terjadi nantinya tidak selamanya menjadi "harusnya" juga akan berbahaya. Betapa banyak calon anggota dewan yang mendadak depresi karena gagal menjadi pejabat publik. Remaja tanggung yang rela mengakhiri hidupnya hanya karena ditinggal kekasih ke lain hati. Ayah yang mencabuli putri kecilnya karena tidak mendapatkan "jatah" dari istri. Dan masih banyak yang lainnya.

Banyak kasus terjadi disebabkan pelaku tidak menyadari betul bahwa tidak selamanya apa yang kita harapkan terwujud. Itu terjadi karena kesadaran manusia menganggap apapun yang terjadi akan seperti yang diinginkan, padahal tidak. Kita harus membuka mata lebar-lebar dan sadar betul bahwa tidak selamanya menjadi "harusnya", bahkan seringkali menjadi "nyatanya" yang harus kita terima.

Sabtu, 05 Desember 2015

Hari Ke-12: Ngetrip Jombang, Pentingnya Ngetrip

Hampir lima tahun di Jombang tapi belum pernah menjelajah tempat-tempat seru di kota berjuluk kota santri ini rasanya ada yang kurang. Pada hari pahlawan (10/11/2015) lalu saya dan teman saya, Anas Munaji, melakukan trip di tempat-tempat menarik di kota Jombang. Perjalanan ini tanpa ada kendaraan alias murni jalan kaki ala seorang backpaker, sehingga sangat menghemat biaya liburan.

Kita mulai dari suasana mendung berkabut putih yang sedari pagi menghiasai langit. Hawa dingin yang lembut dan bau hujan yang meneduhkan menggoda setiap orang untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Termasuk saya yang hari itu tidur di Ruang Kreatif (RK) UKM PAKAR. Mata yang masih sembab efek begadang semalam masih terasa. Lagi-lagi, keinginan tidur di suasana yang sangat mendukung terus meronta.

Ingat kalau hari itu adalah hari pahlawan, seketika tubuhku melonjak. Pikiran mencari-cari ide aktifitas apa yang harusnya terkenang di hari spesial terus bekerja. Tidak sekadar menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran yang tiada manfaatnya. Karena pantang bagi seorang Nasrul Yung menghabiskan masa muda dengan sia-sia. Hingga muncul kata backpaker di kepala dari sekian banyak ide akifitas yang akan dilaksanakan hari itu.

"Nas, backpaker-an keliling Jombang yuk!" Ajakku kepada Anas Munaji yang juga semalam tidur di RK.

Dia sebenarnya ada janji bertemu seseorang di Perpustakaan Mastrip. Jadi saya tidak bisa memaksanya, tapi namanya juga saya, saya tetap berusaha membujuknya agar ikut. Memang, saya backpaker-an tanpa dia pun sudah biasa, tapi disayangkan jika di momen yang spesial tidak ada yang mendokumentasikan. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya dia juga ikut.

Bagi seorang penulis atau pun seorang yang berprofesi di dunia kreatif semacam desainer grafis seperti saya, traveling sesekali perlu dilakukan. Bahkan dilakukan setiap hari jika itu sudah menjadi kebutuhan juga tidak masalah. Saya sendiri biasa melakukannya hampir tiap hari, meskipun tidak selalunya bergaya backpaker. Terkadang saya sekadar jalan-jalan dan duduk-duduk di perempatan untuk melihat lalu lalang kendaraan dengan segala aktifitas manusia yang menghiasi. Bagi saya, itu sudah cukup untuk menghilangkan stress dan mampu memantik munculnya ide-ide baru.

Dituntut untuk menciptakan karya yang baru dan fresh, saya juga sering berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan kota. Lagi-lagi, hanya sekadar jalan-jalan dan melihat-lihat gambar sampul yang kian hari kian kreatif.

Tidak memaksa, hanya menyarankan; lakukan ngetrip secara berkala agar tulisanmu -bagi yang ingin menjadi penulis- dan karyamu lainnya tetap fresh dan diminati banyak orang. Di sana, kamu juga akan mendapatkan banyak inspirasi tulisan. Mau coba? Semoga Menginspirasi.

Berikut foto-foto hasil jepretan selama melakukan perjalanan.
Semua dimulai dari langkah pertama. Gerbang belakang Universitas Darul 'Ulum Jombang
Gerbang Jalan Leci di Perumahan Jombang Permai ini dibuat dengan ornamen unik dengan nuansa coboy

Menjadi saksi pengaspalan jalan di kawasan Perumahan Jombang Permai, inspiratif sekali

Di tengah perjalanan menemukan bangunan runtuh, mengingatkan saya pada masalah yang tengah saya alami saat itu. Model dengan gaya menulis bermakna harapan yang terus menyala di tengah keterpurukan.

Masjid yang ber-ac super dingin ini bernama Ar-Roudloh, berada di jantung kota Jombang

Sungai adalah lambang kehidupan, miris sekali jika lambang kehidupan di Jombang penuh sampah dan limbah dengan bau yang cenderung menyengat.

Saya belajar dari tukang mie ayam ini bagaimana cara eksis memikat hati pelanggan. Lokasi di bawah jembatan layang RS Muslimat.

Di hari pahlawan, tak lengkap rasanya mendoakan mereka yang telah syahid berjuang mengusir penjajah.

Monumen Kusuma Bangsa di Taman Makam Pahlawan Jombang

Tidak ada kata selain, indah sekali.
Memeluk malam di Bazar Buku Perpustakaan Mastrip. Foto hanya akting.

Masih bingung dengan alasan dibangunnya Monumen Garuda Pancasila di Jombang.

Selasa, 01 Desember 2015

Hari Kesepuluh: Gerakan Membaca

Seringkali ada teman yang bertanya kepada saya bagaimana cara menulis. Apa saja tips yang harus dia kerjakan. Apa langkah yang tepat agar tulisannya bagus. Hingga dia bertanya bagaimana cara agar tulisan enak dibaca. Komplit sekali.

Saya tidak akan mengupas tips menulis atau strategi menjadi penulis pada postingan kali ini. Karena bagi saya, tips menulis kuncinya hanya satu; jangan takut untuk menulis. Jika ingin menjadi penulis, maka menulislah. Jangan ragu. Tulislah apapun yang bisa kamu tulis. Tulisan kita jelek dan tidak enak dibaca? Percayalah, semua penulis besar melalui fase itu. Fase tulisan jelek yang bahkan tak satupun orang mau membaca tulisan yang sudah jerih payah dituliskan. Tetaplah menulis dengan gaya kamu, dan mintalah orang lain memberikan saran dan kritik untuk perbaikan karya tulismu. Sudah, itu saja tips menulis dari saya. Sekali lagi, menulis dan teruslah menulis. Suka tidaknya orang lain membaca tulisan kita hanya soal selera.

Nah, pada postingan kali ini saya ingin menyoroti hal yang lebih serius daripada sekadar bagaimana cara menulis, yaitu bagaimana cara kita meningkatkan kualitas diri. Yaitu dengan banyak membaca. Iya, membaca.

Istilah "Gemar Membaca" mungkin tidak kekinian lagi. Kita akrab mendengar ajakan membaca hanya di bangku sekolah dulu. Begitu kerap kita dengar perintah untuk membaca. Komunitas penggerak dan pembangkit minat baca hanya berkubang pada segmen anak-anak. Namun tidak untuk saat ini, saat-saat ketika masa berimajinasi liar telah berlalu.

Saat ini kita tidak berada pada masa dimana minat membaca tinggi, justru kita berada pada masa dimana minat berkomentarlah yang tinggi. Suguhan sosial media yang sangat terbuka membuat semua orang bebas memberikan pendapatnya. Di satu sisi sangat positif, namun kebebasan yang keblabasan berkomentar di sosial media tanpa ilmu yang menyertai membuat setiap kepala dinilai sama. Orang yang berilmu dan orang yang hanya asal ceplos diniai sama di sosial media.

Gerakan membaca tidak boleh berhenti di sekolah-sekolah saja. Gerakan ini selayaknya tetap kita junjung dan kita gaungkan. Terutama buat kamu yang selalu bertanya bagaimana cara menulis. Jika boleh diibaratkan, menulis bagaikan menuangkan isi teko ke dalam gelas. Ingin menjadi penulis? Isi tekomu dengan apa yang ingin kamu tuangkan. Karena mustahil, kita menuangkan teko kosong ke dalam gelas.

Kamis, 19 November 2015

Hari Kesembilan: Menciptakan Kondisi Kepepet

Seringkali, orang mampu melakukan sesuatu yang hebat saat kepepet. Artinya, saat kepepet, dia mampu menggunakan segenap potensinya. Pertanyaanya, apakah Kita harus menunggu kepepet? Saya memang suka kepepet namun saya sadar betul tidak hanya kepepet yang mampu memacu potensi diri kita. Artinya ada cara lain agar kita bisa memacu potensi diri tanpa kepepet. Apa itu?

Kita bisa memacu potensi diri dengan menciptakan kondisi kepepet. Dengan menciptakan kondisi kepepet, kita ingin selalu menjadi yang terbaik dengan limit waktu tertentu, yang artinya kita akan memacu potensi diri kita. Peran menciptakan kondisi kepepet adalah untuk menggali potensi kita seoptimal mungkin.

Disadari atau tidak, kondisi kepepet sangat bertolak belakang dengan kondisi luang. Ketika kita berada pada kondisi luang, tidak ada tekanan sama sekali yang memaksa kita melakukan sesuatu hal. Semuanya terkesan mengalir tanpa ada tanggungan apapun. Namun saat kita terpojok pada kondisi kepepet, potensi yang tidak banyak kita sadari seakan keluar tanpa henti, tuntutan yang besar untuk menyelesaikan suatu hal akan mendesak dan mendorong kita.

Pertanyaannya, bagaimana cara Kita menciptakan kondisi kepepet? Dalam dunia jurnalistik, kita menyebutnya dengan deadline. Apakah deadline itu? Dalam kamus berarti "tenggat atau batas waktu". Pada dunia jurnaslistik artinya "batas terakhir memasukkan berita". Jika disimpulkan, maka deadline mempunyai arti batas terakhir mengumpulkan atau mengerjakan tugas atau pekerjaan.

Deadline adalah cara yang sering saya gunakan untuk menciptakan kondisi kepepet. Setiap tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab saya akan saya beri batas waktu untuk menyelesaikannya. Dengan deadline inilah saya terpacu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terkadang tidak sedikit jumlahnya.

Memang saya tidak menuliskan deadline tugas-tugas saya selama rentang sekian hari atau sekian pekan, tapi saya selalu menuliskan deadline saya untuk satu hari yang akan saya lalui. Saya menyiapkan buku kecil khusus untuk menuliskan setiap deadline tugas-tugas yang harus saya selesaikan. Biasanya di malam hari sebelum tidur atau pagi-pagi sebelum memulai aktivitas harian, saya menuliskan daftar tugas dan kewajiban yang harus saya tuntaskan pada hari itu.

Daftar deadline harian ini bisa kita isi dengan apapun yang harusnya kita lakukan. Saya lebih suka menuliskan daftar seputar tanggung jawab yang harus saya selesaikan hari itu juga, terkadang juga tentang jadwal rapat, jadwal bertemu seseorang atau bahkan buku bacaan yang harus saya selesaikan.

Deadline hidupmu, karena hidup tidak sekadar menunggu mati/dok. pribadi

Agar lebih semangat, di akhir daftar tugas-tugas saya juga menuliskan kata-kata yang memotivasi saya untuk menuntaskan target-target itu. Bisa juga berisi harapan dan doa, atau afirmasi hidup dan passion (Seputar afirmasi, saya pernah menulisnya di hari ke-2 ODOT: Terima Kasih Afirmasi).

Yang tidak kalah penting adalah tahap evaluasi. Seringnya memang target yang harus kita tuntaskan pada satu hari terselesaikan semua. Namun takjarang, ada beberapa daftar target yang tidak terselesaikan. Pada malam hari menjelang tidur adalah waktu yang sering saya gunakan untuk mengevaluasi target harian yang saya buat. Saya tulis kendala dan permasalahan-permasalahan yang menjadi penghalang terselesaikannya target yang sudah saya tulis di bawah daftar target. Sebagai cermin dan pertimbangan untuk menyusun target di hari berikutnya.

Jika tugas atau pekerjaan saja ada deadlinenya, maka bagi saya hidup pun harus dideadline. Inilah cara saya menciptakan kondisi kepepet, semoga menginspirasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Motivasi

Selasa, 17 November 2015

Hari Kedelapan: Kun Anta! (Jadilah Dirimu Sendiri)

Semenjak gagal tidak mampu menghadapi kenyataan tentang dunia afeksi yang sudah pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya (Hari Ke-4: Belajar Sekuat Mereka), semenjak itu saya collaps. Saya terpuruk dan kacau. Semua tanggung jawab terbengkalai, semua hal tentang kewajiban yang harus saya emban tertunda. Dan ada satu hal yang lebih ekstrim; Nasrul Yung yang dulu bukan Nasrul Yung yang sekarang. Begitu kiranya membahasakan perubahan saya.

Mimpi yang dituliskan selalu menjadi harapan di tengah keterpurukan/ Dok. Pribadi
Ya, Nasrul Yung berubah total. Banyak orang yang tidak menyangka dengan perubahan saya. Ada yang menilainya sebagai suatu hal yang positif karena Nasrul Yung yang sekarang lebih hangat bersosial, suka becanda dan sebagainya. Namun beberapa teman menyesalkan hal tersebut. Dan merasa kehilangan sosok Nasrul Yung yang dahulu. Nasrul Yung yang inspiratif, produktif, mempunyai ide-ide segar dan dingin namun tetap bersahabat.

Bertopeng menjadi orang lain adalah katarsis (bentuk pelampiasan) saya dari kekecewaan afeksi yang saya alami. Semua perubahan itu sengaja saya lakukan semata-mata agar saya bisa diterima di semua kelompok. Selain itu saya mengira, perubahan total yang saya lakukan itu mampu menyembuhkan luka afeksi yang saya alami. Nyatanya tidak.

Saya memang diterima di banyak kelompok, tapi itu Nasrul Yung palsu yang sengaja saya buat. Sedangkan tujuan awal menyembuhkan luka tetap tidak tertangani. Rasa tidak nyaman menjadi pribadi orang lain pun terus-terusan hinggap. Memang banyak yang menerima saya ketika saya hangat, tapi soal nyaman, saya lebih nyaman menjadi Nasrul Yung yang songong dan dingin.

Sekarang Nasrul Yung yang dulu kembali lagi. Kini lebih produktif, lebih inspiratif. Jika Nasrul Yung palsu tidak pernah menghiraukan mimpi dan tujuan, karena orientasinya sesaat yaitu agar diterima banyak orang, namun Nasrul Yung yang asli orientasinya ke mengejar-ngejar mimpi. Sang Pemimpi, begitulah teman-teman di pesantren memanggil saya.

Jika ada yang menanyakan, berarti Nasrul Yung sekarang tidak ingin diterima di berbagai kelompok lagi? Saya selalu berbaik sangka dengan rencanaNya. Dengan adanya masalah ini dan segala perubahan saya, saya sudah diterima di berbagai kelompok dari berbagai kelas. Meskipun bukan Nasrul Yung yang apa adanya. Setidaknya saya sudah diterima, urusan nanti mereka menolak saya yang apa adanya, saya tidak mengapa. Karena kelompok yang bisa menerima saya apa adanya itulah yang nantinya membuat saya merasa lebih nyaman.

Apapun kelebihan kita menjadi orang lain, menjadi diri sendiri jauh lebih indah. Semoga Menginspirasi.

Daftar Isi One Day One Tittle (ODOT) Di Sini

Sabtu, 14 November 2015

Hari Keempat: Belajar Sekuat Mereka

Gambar Hanya Ilustrasi/Dok. Pribadi
Seringkali apa yang kita inginkan tidak seperti kenyataan. Terkadang kehidupan yang kita dambakan tidak seperti realita yang tersaji. Ada teman yang ingin aktif di luar untuk mengembangkan diri, namun apa daya keluarga tidak pernah mengizinkan yang bersangkutan keluar rumah pada jam-jam penting. Kesenjangan antara keinginan dan kenyataan inilah dalam ilmu psikologi disebut dengan "masalah".

Beberapa bulan belakangan saya terlibat masalah serius. Bukan soal apa-apa, mungkin kalian akan menertawan permasalahan yang saya hadapi. Masalahnya simple, tapi ekor-ekornya yang membuat kehidupan saya berubah total.

Saya belum pernah mendapatkan masalah "ringan" namun sangat berdampak seperti permasalahan ini. Sejak permasalahan ini menimpa, hidup saya berantakan. Saya mengalami kekacauan, setiap tanggungjawab tertunda, produktivitas menurun drastis, dan yang paling dirasakan orang-orang di sekitar saya adalah saya bukan Nasrul Yung yang mereka kenal. Saat itu seakan orang lain yang mendiami jasad saya. Jika memang titik nol kehidupan itu ada, maka di saat itulah titik nol saya. Jika memang kehidupan itu seperti roda yang terus berputar, maka saat itu adalah saat-saat di mana saya berada di dasar roda.

Tentang afeksi atau biasa akrab kita sebut dengan perasaan, bahasa bekennya adalah "gagal move on", sekali lagi, saya "gagal move on", itulah permasalahan terbesar saya. Silakan tertawa. Dan saya tidak akan membahas permasalahan ini terlalu jauh karena hanya akan membuat kalian terpingkal-pingkal menertawakan saya.

Kurang lebih sekitar dua bulan saya tidak tahu arah. Banyak sekali aktivitas dan tanggung jawab yang seharusnya saya kerjakan namun bingung bagaimana harus memulainya. Perusahaan penerbitan yang saya geluti tidak termenej dengan baik, lembaga pengembangan diri yang saya dan rekan proyeksikan berdiri pada bulan sekian harus terbengkalai tidak terawat. Jangan tanyakan bagaimana urusan kuliah saya. Titik.

Titik balik saya memulai untuk berdiri tegap, kembali menyiapkan langkah terbaik, bersiap berlari seperti dulu lagi, kencang dan sangat kencang, karena inspirasi yang datang dari mereka orang-orang terdekat saya. Orang-orang yang sangat kuat bahkan setelah diterpa angin yang sangat kencang.

Seputar permasalahan afeksi alias perasaan, saya belajar banyak dari kakak angkatan yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Beberapa kali kakak saya ini diguncang dengan permasalahan afeksi. Karena guncangan afeksi yang dahsyat, dia bahkan pernah minggat ke luar kota (sampai tulisan ini diketik, saya belum menemukan padanan kata yang cocok untuk kata "minggat"). Yang selanjutnya saya anggap sebagai titik terendah dalam hidupnya. Saya belajar dari dia bukan ketika dia minggat, tapi saya belajar bagaimana dia bangkit kembali, menata ulang semua kehidupan yang sempat ditinggalnya.

Bagi saya, orang yang pernah terjatuh dan memutuskan untuk kembali bangkit adalah orang-orang luar biasa. Tidak semua orang mampu melakukannya. Ada tipe orang yang jika masalah menimpa, dia malah menjauh meninggalkan, ada yang bertarung namun terkesan asal-asalan berasas "yang penting kelar", ada yang menganggapnya sebagai angin lalu, dan tentu ada tipe orang yang menjadikannya sebagai sarana belajar. Dan saya yakin, kakak saya ini sebagai orang yang menjadikan permasalahannya sebagai sarana belajar.

Saya akan berterima kasih kepada dia, teman sekelas yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Selalu ceria dan menciptakan tawa. Dari dia kehebohan tercipta. Mereka mengatakan dia penggembira, bagi saya dia adalah wonder woman. Karena dia kuat.
,
Saya tahu persis apa permasalahan yang tengah dia hadapi. Baik masalah pribadi maupun keluarga. Dan juga tahu bagaimana dia menyikapi permasalahan. Hingga setiap saya dihadapkan pada permasalahan, saya selalu terbayang sosok ini. Akhirnya saya malu, sadar betapa lemahnya saya dibandingkan dia. Baru diuji dengan permasaahan remeh saja sudah drop dan susah bangkit.

Kedua tokoh yang saya sebutkan adalah tokoh inspiratif. Dari keduanya, saya belajar banyak hal tentang bagaimana saharusnya permasalahan itu dihadapi. Sekali lagi, terima kasih, sahabat. Saya akan terus belajar sekuat kalian.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Rabu, 11 November 2015

Hari Kedua: Terima Kasih Afirmasi

"Dua puluh tahun lagi, ketika kamu sedang berada di toko buku ternama bersama anak dan istrimu. Anak kecilmu berhambur berlarian di lorong-lorong rak buku sampai dia berhenti di depan sebuah rak besar penuh buku. Kemudian dia mengambil salah satu buku di antara buku yang berderet rapi itu. Dan berkata, 'Ayah, aku mau buku ini!' dengan menyodorkan buku yang diambilnya. Seketika matamu berkaca-kaca ketika kamu membaca namaku di sampul buku itu. Entah apa yang terjadi kemudian, kamu menggeser-geser ponsel pintarmu dan mencari namaku di daftar kontak. Kamu meneleponku dan di tengah jadwalku yang padat aku menjawabnya. Kemudian kita terlibat perbincangan penuh haru berselimut rindu."

Itulah afirmasi yang sangat kuat. Dengan penggambaran yang sangat detail dari salah seorang sahabat di Fakultas Psikologi yang gandrung dengan sajak. Saya memanggilnya, Nap.

Nap, tengah membaca buku sajak
Tapi sebenarnya, apa afirmasi itu? Afirmasi (Inggris : Affirmation) atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan penegasan. Afirmasi mirip seperti doa, harapan atau cita-cita, hanya saja afirmasi lebih terstruktur dibandingkan dengan doa dan lebih spesifik

Cita-cita atau sasaran membantu pembentukan gambaran di dalam daya pikir Kita. Mengucapkan afirmasi adalah membuat sesuatu dengan tegas dan kokoh. Sederhananya, dasar semua afirmasi adalah pemikiran positif. Afirmasi atau penegasan adalah pernyataan penerimaan yang digunakan diri sendiri dengan kebebasan yang berlimpah. Afirmasi bisa juga merupakan kalimat-kalimat positif atau sekelompok kalimat yang dirangkai menjadi satu. Karenanya, ini merupakan kebenaran dan harus selalu demikian. Setiap afirmasi dinyatakan dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa yang ditegaskan itu akan terwujud.

Kalau Kita melakukan afirmasi, Kita mengalihkan sebagian dari daya kehidupan Kita kepada afirmasi itu. Afirmasi yang digunakan dengan benar adalah alat psikologis yang sangat kuat untuk bertumbuh. Beberapa orang menjuluki afirmasi dengan “proses pemetaan harta terpendam” atau “membuat daftar keinginan”. Tetapi di sini kita cenderung lebih menganggap afirmasi sebagai proses pemetaan harta terpendam.

Setelah mendengar afirmasi dari Nap yang digambarkan secara jelas dan detail, saya kembali teringat dengan mimpi-mimpi yang saya punya. Yang untuk beberapa bulan terakhir saya tinggalkan dan abaikan. Ketika saya terpuruk dengan permasalahan yang tidak sepatutnya saya pikirkan mendalam. Namun tidak untuk saat ini, saat Nap berafirmasi positif kepada Kami di lesehan di halaman kampus. Karena percaya atau tidak, Nasrul Yung yang Anda kenal sekarang adalah produk dari afirmasi yang kuat yang senantiasa diperjuangkan kala itu. Dan kini, Nasrul Yung dengan afirmasi-afirmasi positifnya kembali bangkit menginspirasi banyak orang untuk berkarya dan menjadi insan bermanfaat.

Terima kasih Nap, terima kasih afirmasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Hari Pertama: Paksa Mereka Menilai Anda

Sesi santai bersama teman-teman UKM PAKAR
Petang itu saya bersama mahasiswa Psikologi Universitas Darul 'Ulum yang lain tengah bercengkerama di halaman fakultas ungu itu. Sedikit lupa tentang tema pembahasan yang ngalur-ngidul pada awal-awal pembahasan. Namun yang masih teringat ketika mereka saya ajak untuk membedah kepribadian saya. Whats the next?

Ini yang seru, ketika saya harus legowo menerima kritikan pedas tentang kepribadian saya di mata mereka. "Apa hal negatif dari seorang Yung di mata kalian?" Tanyaku membuka obrolan.

Terdiam, sunyi dan agak lama...

"Yung itu...."

Terdiam, sunyi dan agak lama lagi... Sabar ya...

"Songong... Cuek." Tegas mbak Novita, wanita bersahaja semester lima yang selalu bangga dengan semua aktivitas pekerjaannya di salah satu lembaga perlindungan perempuan dan anak.

Dia melanjutkan, bahwa seorang Yung itu harusnya lebih membuka diri, peduli dengan orang-orang di sekitar, tidak sibuk dengan dunianya sendiri bahkan harusnya menjadi sosok yang rendah diri di hadapan banyak orang.

Saya tidak ingin membuka kepribadian saya di depan Anda semua. Saya hanya ingin menunjukkan satu hal yang bahkan jarang sekali orang lakukan; meminta orang-orang terdekat Anda menilai bagaimana Anda di mata mereka.

Pentingkah? Sangat penting.

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan berdiskusi bersama rekan dan orang terdekatnya dengan niat untuk mencari kebenaran dan perbaikan. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usulan Umar bin Khatab kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma yang saat itu menjadi seorang khalifah untuk mengumpulkan dan membukukan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].

Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Orang yang tahu betul siapa Anda adalah diri Anda sendiri dan orang-orang terdekat Anda. Mintalah mereka berpendapat tentang Anda, mintalah mereka membuat penilaian seputar Anda, mintalah kritik sepedas-pedasnya beserta bagaimana harusnya Anda memperbaiki itu semua. Jika hal-hal tersebut masih terasa kurang, Anda pun bebas untuk memaksa mereka menilai tentang Anda.

Selamat mengintropeksi diri! Jangan lupa manfaatkan mereka juga.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Kamis, 01 Mei 2014

Trip To Malang


Tiba di Malang dengan minim persiapan adalah kelegaan tersendiri. Betapa tidak, kami berdua menuju ke tempat acara yang betul-betul kami buta lokasinya.

“Mas, nanti malam saya mau ke Malang. Tapi bingung nyari tempat bermalam.” Begitu isi SMS-ku ke mas Amir. Satu-satunya orang yang dapat aku hubungi di Malang. Sebenarnya aku punya teman lain, namun yang bisa sku hubungi hanyalah mas Amir.

Dengan bermodal beberapa SMS, akhirnya mas Amir meng-iyakan. Alhamdulillah, malam ini kami bisa terselamatkan. Setidaknya kami tidak perlu berlarian menjauh dari kejaran ta’mir masjid karena terpaksa tidur di emperan.

Aku tidak bisa menceritakan mendetail bagaimana proses perjalanan. Seingatku, perjalanan dengan Puspa Indah sore ini kulalui dengan tidur. Ya, aku lagi hibernasi saat itu. Menjaga stamina tubuh, agar badan bisa diajak kompromi hingga acara yang dinanti. Sesekali terbangun karena benturan kepala dengan jok bus yang cukup bikin mata terbuka. Apalagi jalur track di kawasan kota Batu yang meliuk bak Sentul. Lambung terkocok hebat dibuatnya. Asam lambung yang mendiami peut rasa-rasanya ingin keluar.

Kami turun di depan masjid AR. Fachruddin Universitas Mu hammadiyah Malang. Memang sih tempat tujuan kami bukan di masjid ini, tapi kata mas Amir yang sudah bersedia memberi tumpangan kami turun di masjid kampus saja.

Perintah selanjutnya, kami disuruh berjlan ke arah barat. Bukan untuk mencari kitab suci, tapi untuk menemui mas Amir. Haha... kok ketawa? Penting ya....?

Singkat cerita, aslinya sih malas nulis aja, kami bertemu dengan mas Amir. Keharuan yang sudah lama tidak bertemu pun akhirnya pecah. Lebay banget ya? Biarlah... kami tidak segera diajak ke tempat kos. Karena mas Amir paling tahu kondisi kami. Dia memampirkan (ada istilah keren lain?) kami di warung makan. Tuh... paling tahu kan?

Sedapnya nih bau... ayam goleng... betul-betul betul... ayam goring penyet atau apalah namanya ditemani es the. Oh ya, kalau boleh komentar, ini menu yang salah. Kok bisa? Soalnya, secara geografis, kota Malang berada di dataran tinggi dengan dikelilingi oleh gunung-gunung serta pegunungan. Itu artinya udara di Malang segerrr benerrrr alias dingin. Di malam ini, udara dingin itu ditemani oleh es the. Lengkap sudah penderitaan. Aslinya sih ngarep. Hehe...

Caraku Merutinkan Menulis


Sobat, ada perasaan berbeda ketika apa yang kita kerjakan selama ini membuahkan hasil. Ada perasaan aneh muncul dalam dada, ketika apa yang kita kerjakan diapresiasi orang lain. Rasanya gimana gitu… dan perasaan itu lah yang saya rasakan ketika jari jemari ini bergoyang indah di tuts-tuts keyboard laptopku.

Ada apa gerangan?
Hari ini, pintu cita-cita itu sedikit demi sedikit terus terbuka. Benar apa kata mahfudzot Arab, “ Idza shodaqol azmu wadhohas sabil”, “Apabila keyakinan itu kuat, maka jalannya pun akan terbuka”. Saya yakin, maka jalan menuju cita-cita itu pun terus terbuka. Salah satu cita-cita saya adalah ‘menerbitkan 100 buku sebelum usia 40 tahun’. Dan hari ini, angka 100 itu tinggal beberapa hari lagi akan pecah menjadi 99. Karena satu karya tulisan buku saya akhirnya diterbitkan.

Bukannya sombong, hanya sekedar ingin share saja kepada para pembaca sekalian. Buku pertama itu luar biasa. Sama kayak pacar pertama yang tak terlupa. Buku pertama pun demikian. Saya buktinya. Rasa-rasanya menunggu dua minggu untuk melihat buku tulisan sendiri mengisi rak baca serasa lama sekali. Saya sangat merindukan kehadirannya. Oh buku pertama…

Judulnya “Maha Inspirasi”. Bukan hasil buah pikirku sendiri memang. Buku ini hanya berisi kumpulan kisah, teori, data-data, tips dan aneka keunikan lainnya yang sangat inspiratif. Kemudian oleh saya, data-data itu saya kelompokkan berdasarkan tema. Dan dengan sedikit racikan dan polesan, akhirnya tada… jadi deh. Lain kali bias saya resensikan special buat kamu.

Pertama memang special. Ya, Maha Inspirasi memang special di hati saya. Karena perjalanan menuju dicetaknya buku ini sangat mengasyikkan. Sebelum dicetak, judulnya bukan seperti sekarang. Dulu namanya ‘Samudera Inspirasi’. Karena beberapa hal, salah satunya tentu nilai jual, ‘samudera inspirasi’ harus pensiun sebelum waktunya. Dan ketemulah nama ‘maha inspirasi’ yang lebih menumbuhkan tanda tanya pembaca dan lagi-lagi lebih menjual. Iya kan?

Sebelum diterbitkan, naskah ‘samudera inspirasi’ sudah mampir ke beberapa penerbit yang lumayan punya nama. Pro-U Media, dan gazzamedia. Pernah mendengar nama penerbit itu kan? Ya, meski tidak sebeken dan sepopuler gramedia atau mizan dan sebagainya, dua nama itu lumayan tenar, terutama di kawasan Yogyakarta dan solo raya.

Hadeh… pengennya belajar menulis rutin kayak bang Arry di blognya. Yang konon dalam setahun bias posting 500 artikel ringan. Tapi ini malah pembahasannya belepotan kemana-mana… huft… tapi tidak mengapa. Yang penting dimulai dulu. Oke deh, itu dulu curhatanku. Moga bias nulis rutin di blog ini.

Satu lagi, kesenangan menulis membuatku keranjingan menulis. Terutama saat ini. Moga bisa istiqomah. Sambil nunggu buku pertama terbit, saya habiskan waktu untuk menulis buku yang lainnya ah….

Sabtu, 19 April 2014

Semua Tentang Nasrul Yung Sang Penulis Produktif Buku-buku Inspirasi



Muhammad Nasrul, atau lebih akrab dipanggil Cak Yung adalah salah seorang penulis muda yang kini konsen dalam dunia kepenulisan bergenre kreatif inspiratif. Lajang kelahiran Lamongan 2 Februari 1992 ini menyukai dunia tulis menulis sejak kelas 6 Sekolah Dasar. Saat itu dia paling keranjingan dengan pelajaran Bahasa Indonesia, terutama materi mengarang.
Selesai menamatkan pendidikan dasar di SDN 2 Sedayulawas pada tahun 2004. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Paciran Lamongan, dan lulus pada tahun 2007. Pendidikan SMA di SMAN 1 Paciran Lamongan selama dua tahun, dan memilih pola pendidikan pesantren sebagai tempat belajar berikutnya. PonPes Al-Izzah di Dusun Tragal Jombang menjadi pilihannya.
Saat ini, dia berstatus sebagai staf  pengajar sementara (masa tugas wiyata bhakti) di PonPes Al-Izzah Jombang. Menjadi manager of IT yang bertugas mengurus website official LAZIS Al-Izzah Jombang (www.lazisalizzah.com). Menjadi layouter dan kontributor di buletin Media Dakwah Al-Izzah.
Hasil-hasil tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Pertama kali cerpennya dimuat di Majalah Anak  Mentari (Jawa Pos Group). Kemudian menyusul ke berbagai media lainnya seperti Majalah Adzkia, An-Najah dan Ar-Risalah. Buku ini adalah buku kedua diantara tiga bukunya yang ditulis secara serempak di awal karier kepenulisannya menulis buku. Buku pertama yang berjudul Maha Inspirasi telah terbit secara self publishing di nulisbuku.com. pada November 2013.
Sepak terjangnya dalam tulis menulis terlihat ketika kelas IX SMP (kelas 3 SMP), diamanahi menjadi Pimred Mading di TPQ At-Taqwa Sedayulawas tempatnya mengaji. Kemudian gabung di komunitas kepenulisan ketika SMA, menjabat sebagai kontributor di majalah sekolah, WARNA. Dan aktif menghidupkan mading-mading sekolah. Serta menghembuskan nafas jurnalisme di pesantren tempatnya menuntut ilmu dien. Selain itu, dia juga aktif menulis di weblog pribadi di http://nasrulzone.blogspot.com.
Salah satu keinginan penulis adalah mempunyai sahabat sebanyak-banyaknya. Untuk itu, jangan ragu untuk memberikan kritik, saran, ide atau sekedar berkenalan di Email: mnasrul02@gmail.com atau hubungi: 085785640506. Dan nikmati juga tulisan-tulisan lain karyanya di weblog pribadi: http://nasrulzone.blogspot.com.