![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi/Dok. Pribadi |
Beberapa bulan belakangan saya terlibat masalah serius. Bukan soal apa-apa, mungkin kalian akan menertawan permasalahan yang saya hadapi. Masalahnya simple, tapi ekor-ekornya yang membuat kehidupan saya berubah total.
Saya belum pernah mendapatkan masalah "ringan" namun sangat berdampak seperti permasalahan ini. Sejak permasalahan ini menimpa, hidup saya berantakan. Saya mengalami kekacauan, setiap tanggungjawab tertunda, produktivitas menurun drastis, dan yang paling dirasakan orang-orang di sekitar saya adalah saya bukan Nasrul Yung yang mereka kenal. Saat itu seakan orang lain yang mendiami jasad saya. Jika memang titik nol kehidupan itu ada, maka di saat itulah titik nol saya. Jika memang kehidupan itu seperti roda yang terus berputar, maka saat itu adalah saat-saat di mana saya berada di dasar roda.
Tentang afeksi atau biasa akrab kita sebut dengan perasaan, bahasa bekennya adalah "gagal move on", sekali lagi, saya "gagal move on", itulah permasalahan terbesar saya. Silakan tertawa. Dan saya tidak akan membahas permasalahan ini terlalu jauh karena hanya akan membuat kalian terpingkal-pingkal menertawakan saya.
Kurang lebih sekitar dua bulan saya tidak tahu arah. Banyak sekali aktivitas dan tanggung jawab yang seharusnya saya kerjakan namun bingung bagaimana harus memulainya. Perusahaan penerbitan yang saya geluti tidak termenej dengan baik, lembaga pengembangan diri yang saya dan rekan proyeksikan berdiri pada bulan sekian harus terbengkalai tidak terawat. Jangan tanyakan bagaimana urusan kuliah saya. Titik.
Titik balik saya memulai untuk berdiri tegap, kembali menyiapkan langkah terbaik, bersiap berlari seperti dulu lagi, kencang dan sangat kencang, karena inspirasi yang datang dari mereka orang-orang terdekat saya. Orang-orang yang sangat kuat bahkan setelah diterpa angin yang sangat kencang.
Seputar permasalahan afeksi alias perasaan, saya belajar banyak dari kakak angkatan yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Beberapa kali kakak saya ini diguncang dengan permasalahan afeksi. Karena guncangan afeksi yang dahsyat, dia bahkan pernah minggat ke luar kota (sampai tulisan ini diketik, saya belum menemukan padanan kata yang cocok untuk kata "minggat"). Yang selanjutnya saya anggap sebagai titik terendah dalam hidupnya. Saya belajar dari dia bukan ketika dia minggat, tapi saya belajar bagaimana dia bangkit kembali, menata ulang semua kehidupan yang sempat ditinggalnya.
Bagi saya, orang yang pernah terjatuh dan memutuskan untuk kembali bangkit adalah orang-orang luar biasa. Tidak semua orang mampu melakukannya. Ada tipe orang yang jika masalah menimpa, dia malah menjauh meninggalkan, ada yang bertarung namun terkesan asal-asalan berasas "yang penting kelar", ada yang menganggapnya sebagai angin lalu, dan tentu ada tipe orang yang menjadikannya sebagai sarana belajar. Dan saya yakin, kakak saya ini sebagai orang yang menjadikan permasalahannya sebagai sarana belajar.
Saya akan berterima kasih kepada dia, teman sekelas yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Selalu ceria dan menciptakan tawa. Dari dia kehebohan tercipta. Mereka mengatakan dia penggembira, bagi saya dia adalah wonder woman. Karena dia kuat.
,
Saya tahu persis apa permasalahan yang tengah dia hadapi. Baik masalah pribadi maupun keluarga. Dan juga tahu bagaimana dia menyikapi permasalahan. Hingga setiap saya dihadapkan pada permasalahan, saya selalu terbayang sosok ini. Akhirnya saya malu, sadar betapa lemahnya saya dibandingkan dia. Baru diuji dengan permasaahan remeh saja sudah drop dan susah bangkit.
Kedua tokoh yang saya sebutkan adalah tokoh inspiratif. Dari keduanya, saya belajar banyak hal tentang bagaimana saharusnya permasalahan itu dihadapi. Sekali lagi, terima kasih, sahabat. Saya akan terus belajar sekuat kalian.
Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini







0 komentar:
Posting Komentar