Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisahku. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Februari 2016

Hari Ke-18: Kelelawar dan Sarang Laba-laba

Sudah lama tidak menyapa sahabat-sahabat saya di blog ini. Bahkan untuk sekadar mengecek notif dan jumlah kunjungan pun tak lagi sempat.

Mengunjungi blog ini ibarat masuk ke rumah tua. Dari teras rumah, dedaunan kering berserakan. Bau anyir hewan dan serangga liar menusuk hidung sesiapa yang ingin memberanikan dirinya melangkah masuk ke dalam. Rumput di pekarangan sudah setinggi dada orang dewasa. Sebagai tuan rumah yang lama tak pulang, aku beranikan diri memasuki rumah tua ini.

Gerbang depan terkunci rapat. Gagang gerbang yang terbuat dari besi terlihat mulai berkarat. Kuambil kunci dari saku jaketku, dan kubuka gerbang yang hampir tiga bulan tidak aku pegang. Kubuka gerbang dan kulangkahkan kakiku ke dalam. Ranting patah beberapa kali kuinjak. Bunyi khas daun kering menemani setiap langkahku. Paving agak licin, nampaknya lumut-lumut sudah lama mendiaminya.

Rumah mungil dengan desain peninggalan Belanda ini memang begitu nyaman dihuni. Aku paling betah berlama-lama di meja ukiran Jepara sisi barat rumah. Hanya beratap tumbuhan rambat yang sengaja dirambatkan ke tralis-tralis buatan menyerupai atap lengkungan. Sekarang tumbuhan rambat semakin lebat, banyak yang menjuntai ke bawah. Bahkan ada yang hingga menyentuh meja. Aku lupa kapan terakhir kali memangkasnya.

Biasanya aku menuliskan kisah di meja itu. Dengan laptop kesayangan hasil warisan. Apapun aku tuliskan. Karena menulis adalah caraku berbagi.

Mataku menyapu ke samping tempat duduk yang beratap rambat buatan. Kolam kecil dengan gemericik aliran air yang berbenturan dengan jungkat-jungkit bambu khas Jepang. Tidak harus pergi ke Jepang untuk mendapatkannya. Di toko taman di sepanjang jalur menuju bandara Juanda Surabaya juga banyak tersedia. Jika aku ke rumah ini bersama adik dan keponakanku, tempat ini yang paling pertama mereka serbu. Main air bersama ikan emas dan koi menjadi daya tarik. Mereka nampak seru, tapi bukan sama emak-emak mereka.

"Jangan sampai bajunya basah!" Teriak bibiku waktu itu.

Ah, melihat spot-spot di sekitaran rumah ini membuat memoriku kembali ke masa itu. Tentang aku dan kehidupanku.

Dulu, aku sering membuat sesuatu. Entah untuk melengkapi perabot rumah atau hanya sekadar hiasan interior sederhana. Hampir tiap hari.

Karena ada seseorang wanita spesial yang rajin mengunjungi rumah ini. Kadang bertamu, pun tak jarang melihat-lihat hal baru yang aku buat. Menikmatinya, dan sesekali memberikan masukan ini itu.

Saat aku tinggalkan rumah ini, mungkin wanita itu masih sesekali menengok. Namun karena terkunci dan aku sudah tidak lagi membuat perabot ataupun hiasan interior baru, dia sudah enggan balik ke sini. Padahal dalam hati, aku masih mengharapkannya datang. Sekadar melihat atau berkomentar ini itu lagi.

Sudahlah, berdiri di teras ini sambil melamunkan kenangan-kenangan indah tiga bulanan yang lalu sudah cukup. Aku belun melihat isi rumah seperti apa. Apakah masih sama seperti dulu? Karena tiga bulan tak berpenghuni adalah waktu yang tidak sebentar untuk membuat rumah berdebu tebal dengan sarang laba-laba dimana-mana.

Bersama wanita yang telah kulabuhkan hatiku kepadanya. Yang sedari tadi bengong melihat tingkahku memperhatikan keadaan di sekitar rumah ini. Dia tidak tahu detil apa yang terjadi tiga bulanan lalu. Aku bisikkan lembut di telinga kirinya,

"PR kita membersihkan ini semua, sayang."

Dia hanya mengangguk anggun sekali.

Senin, 21 Desember 2015

Hari Ke-16: Terima Kasih Telah Menjadi Ibu

Sosok ibu memang tidak ada duanya. Ibu lah yang mengandung kita selama 9 bulan lamanya, dan merawat kita tanpa pernah meminta balasan. Namun, walaupun kita mengetahui berbagai jasa ibu, sering kali kita melupakan hal-hal penting tentang ibu.

Besok, 22 Desember adalah hari ibu. Hari Ibu memang bukan momen tunggal untuk menunjukkan kasih sayang pada sang mama. Karena bagi beberapa orang, mengekspresikan rasa sayang bisa dilakukan setiap hari. Namun, tak ada salahnya juga untuk memanfaatkan momen Hari Ibu untuk lebih memaknai rasa sayang tersebut.

Menjelang Hari Ibu, Mading Gantari Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum (UNDAR) Jombang yang dikelola oleh lembaga pers mahasiswa JURMAPSI mengangkat tema khusus, Hari Ibu. Hampir semua ragam tulisan membahas tentang ibu. Mulai dari sosok hebat ibu yang digambarkan dari bentuk perjuangan yang luar biasa hingga hal-hal menarik tentang ibu yang dibahas ringan dan menarik.

Sementara itu, elemen-elemen mahasiswa Fakultas Psikologi UNDAR yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Semi Ottonom (LSO), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), serta Kordinator Mahasiswa atau Kosma akan mengadakan rangkaian acara pada hari ibu. Rangkaian acara berupa lomba menulis ungkapan kepada ibu, lomba photo voice dengan tema ibu dan ditutup dengan music corner yang akan berlangsung besok.

Memang secara pribadi, perayaan seperti hari ibu maupun hari-hari peringatan lainnya hampir tidak pernah saya lakukan. Tapi kali ini, perayaan hari ibu benar-benar membuat saya sadar betapa pentingnya mengungkap cinta kepada ibu. Hal yang hampir tidak pernah saya lakukan.

Jika ada yang bertanya, kapan terakhir mengucap cinta kepada ibu? Kapan berjalan berdua dengan ibu? Kapan terakhir memeluk ibu? Kapan terakhir menanyakan kabar ibu? Kapan ada waktu khusus dengan ibu? Kapan terakhir bermain dengan ibu? Saya terdiam dan hanya bisa meneteskan air mata. Karena saya lupa kapan terakhir itu semua saya lakukan.

Bahkan sekadar menghubungi lewat telepon untuk menanyakan kabar saja tidak pernah. Jauh dari ibu harusnya tidak jadi alasan. Kesibukan di tanah rantau juga bukan jadi penghalang menanyakan kabar. Mungkinkah karena ini, semua usaha dan upaya yang saya lakukan seret? Masalah datang silih berganti. Berbagai cobaan tidak pernah berhenti. Wallahu a'lam, saya tidak tahu pasti. Yang saya tahu, keridhoan Allah tergantung ridho orang tua kepada kita.

Di Hari Ibu, saya ingin menceritakan semua keluh kesah saya kepadamu ibu. Seperti masa kecil dulu yang sering merengek kepadamu. Apa yang saya rasakan, apa yang terjadi selama ini, dan apa prestasi-prestasi yang telah saya raih. Agar ibu bisa tersenyum bangga mendengarnya. Karena senyuman ibu adalah satu-satunya harapan saya yang ingin saya lihat hingga ibu tua. Saya juga akan mendengar cerita dari ibu. Saya ingin mendengar "cerewet"nya ibu. Sudah sekian lama saya tidak mendengarnya. Saya benar-benar merindukannya.

Ibu, memang tidak cukup hanya menulis ungkapan ini di blog. Karena saya tahu engkau tidak mungkin membacanya. Namun, inilah ikhtiar saya agar semakin banyak anak yang tersadarkan betapa mulianya wanita-wanita sepertimu.

Begitu banyak pengorbananmu. Tidak akan pernah ternilai dengan apapun. Terima kasih telah menjadi ibu.

Sabtu, 05 Desember 2015

Hari Ke-12: Ngetrip Jombang, Pentingnya Ngetrip

Hampir lima tahun di Jombang tapi belum pernah menjelajah tempat-tempat seru di kota berjuluk kota santri ini rasanya ada yang kurang. Pada hari pahlawan (10/11/2015) lalu saya dan teman saya, Anas Munaji, melakukan trip di tempat-tempat menarik di kota Jombang. Perjalanan ini tanpa ada kendaraan alias murni jalan kaki ala seorang backpaker, sehingga sangat menghemat biaya liburan.

Kita mulai dari suasana mendung berkabut putih yang sedari pagi menghiasai langit. Hawa dingin yang lembut dan bau hujan yang meneduhkan menggoda setiap orang untuk tidak beranjak dari tempat tidur. Termasuk saya yang hari itu tidur di Ruang Kreatif (RK) UKM PAKAR. Mata yang masih sembab efek begadang semalam masih terasa. Lagi-lagi, keinginan tidur di suasana yang sangat mendukung terus meronta.

Ingat kalau hari itu adalah hari pahlawan, seketika tubuhku melonjak. Pikiran mencari-cari ide aktifitas apa yang harusnya terkenang di hari spesial terus bekerja. Tidak sekadar menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran yang tiada manfaatnya. Karena pantang bagi seorang Nasrul Yung menghabiskan masa muda dengan sia-sia. Hingga muncul kata backpaker di kepala dari sekian banyak ide akifitas yang akan dilaksanakan hari itu.

"Nas, backpaker-an keliling Jombang yuk!" Ajakku kepada Anas Munaji yang juga semalam tidur di RK.

Dia sebenarnya ada janji bertemu seseorang di Perpustakaan Mastrip. Jadi saya tidak bisa memaksanya, tapi namanya juga saya, saya tetap berusaha membujuknya agar ikut. Memang, saya backpaker-an tanpa dia pun sudah biasa, tapi disayangkan jika di momen yang spesial tidak ada yang mendokumentasikan. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya dia juga ikut.

Bagi seorang penulis atau pun seorang yang berprofesi di dunia kreatif semacam desainer grafis seperti saya, traveling sesekali perlu dilakukan. Bahkan dilakukan setiap hari jika itu sudah menjadi kebutuhan juga tidak masalah. Saya sendiri biasa melakukannya hampir tiap hari, meskipun tidak selalunya bergaya backpaker. Terkadang saya sekadar jalan-jalan dan duduk-duduk di perempatan untuk melihat lalu lalang kendaraan dengan segala aktifitas manusia yang menghiasi. Bagi saya, itu sudah cukup untuk menghilangkan stress dan mampu memantik munculnya ide-ide baru.

Dituntut untuk menciptakan karya yang baru dan fresh, saya juga sering berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan kota. Lagi-lagi, hanya sekadar jalan-jalan dan melihat-lihat gambar sampul yang kian hari kian kreatif.

Tidak memaksa, hanya menyarankan; lakukan ngetrip secara berkala agar tulisanmu -bagi yang ingin menjadi penulis- dan karyamu lainnya tetap fresh dan diminati banyak orang. Di sana, kamu juga akan mendapatkan banyak inspirasi tulisan. Mau coba? Semoga Menginspirasi.

Berikut foto-foto hasil jepretan selama melakukan perjalanan.
Semua dimulai dari langkah pertama. Gerbang belakang Universitas Darul 'Ulum Jombang
Gerbang Jalan Leci di Perumahan Jombang Permai ini dibuat dengan ornamen unik dengan nuansa coboy

Menjadi saksi pengaspalan jalan di kawasan Perumahan Jombang Permai, inspiratif sekali

Di tengah perjalanan menemukan bangunan runtuh, mengingatkan saya pada masalah yang tengah saya alami saat itu. Model dengan gaya menulis bermakna harapan yang terus menyala di tengah keterpurukan.

Masjid yang ber-ac super dingin ini bernama Ar-Roudloh, berada di jantung kota Jombang

Sungai adalah lambang kehidupan, miris sekali jika lambang kehidupan di Jombang penuh sampah dan limbah dengan bau yang cenderung menyengat.

Saya belajar dari tukang mie ayam ini bagaimana cara eksis memikat hati pelanggan. Lokasi di bawah jembatan layang RS Muslimat.

Di hari pahlawan, tak lengkap rasanya mendoakan mereka yang telah syahid berjuang mengusir penjajah.

Monumen Kusuma Bangsa di Taman Makam Pahlawan Jombang

Tidak ada kata selain, indah sekali.
Memeluk malam di Bazar Buku Perpustakaan Mastrip. Foto hanya akting.

Masih bingung dengan alasan dibangunnya Monumen Garuda Pancasila di Jombang.

Selasa, 17 November 2015

Hari Kedelapan: Kun Anta! (Jadilah Dirimu Sendiri)

Semenjak gagal tidak mampu menghadapi kenyataan tentang dunia afeksi yang sudah pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya (Hari Ke-4: Belajar Sekuat Mereka), semenjak itu saya collaps. Saya terpuruk dan kacau. Semua tanggung jawab terbengkalai, semua hal tentang kewajiban yang harus saya emban tertunda. Dan ada satu hal yang lebih ekstrim; Nasrul Yung yang dulu bukan Nasrul Yung yang sekarang. Begitu kiranya membahasakan perubahan saya.

Mimpi yang dituliskan selalu menjadi harapan di tengah keterpurukan/ Dok. Pribadi
Ya, Nasrul Yung berubah total. Banyak orang yang tidak menyangka dengan perubahan saya. Ada yang menilainya sebagai suatu hal yang positif karena Nasrul Yung yang sekarang lebih hangat bersosial, suka becanda dan sebagainya. Namun beberapa teman menyesalkan hal tersebut. Dan merasa kehilangan sosok Nasrul Yung yang dahulu. Nasrul Yung yang inspiratif, produktif, mempunyai ide-ide segar dan dingin namun tetap bersahabat.

Bertopeng menjadi orang lain adalah katarsis (bentuk pelampiasan) saya dari kekecewaan afeksi yang saya alami. Semua perubahan itu sengaja saya lakukan semata-mata agar saya bisa diterima di semua kelompok. Selain itu saya mengira, perubahan total yang saya lakukan itu mampu menyembuhkan luka afeksi yang saya alami. Nyatanya tidak.

Saya memang diterima di banyak kelompok, tapi itu Nasrul Yung palsu yang sengaja saya buat. Sedangkan tujuan awal menyembuhkan luka tetap tidak tertangani. Rasa tidak nyaman menjadi pribadi orang lain pun terus-terusan hinggap. Memang banyak yang menerima saya ketika saya hangat, tapi soal nyaman, saya lebih nyaman menjadi Nasrul Yung yang songong dan dingin.

Sekarang Nasrul Yung yang dulu kembali lagi. Kini lebih produktif, lebih inspiratif. Jika Nasrul Yung palsu tidak pernah menghiraukan mimpi dan tujuan, karena orientasinya sesaat yaitu agar diterima banyak orang, namun Nasrul Yung yang asli orientasinya ke mengejar-ngejar mimpi. Sang Pemimpi, begitulah teman-teman di pesantren memanggil saya.

Jika ada yang menanyakan, berarti Nasrul Yung sekarang tidak ingin diterima di berbagai kelompok lagi? Saya selalu berbaik sangka dengan rencanaNya. Dengan adanya masalah ini dan segala perubahan saya, saya sudah diterima di berbagai kelompok dari berbagai kelas. Meskipun bukan Nasrul Yung yang apa adanya. Setidaknya saya sudah diterima, urusan nanti mereka menolak saya yang apa adanya, saya tidak mengapa. Karena kelompok yang bisa menerima saya apa adanya itulah yang nantinya membuat saya merasa lebih nyaman.

Apapun kelebihan kita menjadi orang lain, menjadi diri sendiri jauh lebih indah. Semoga Menginspirasi.

Daftar Isi One Day One Tittle (ODOT) Di Sini

Hari Ketujuh: Obrolan Singkat Petang Itu

Petang itu setelah menunaikan sholat maghrib di Masjid kampus saya tidak beranjak balik ke fakultas. Saya duduk-duduk sebentar di teras masjid, menikmati suasana malam yang perlahan memeluk hari. Angin beraroma malam sebentar-sebentar menyapu hidungku. Saya paling suka dengan suasana yang seperti ini.

Emak, begitu mahasiswa biasa memanggilnya, datang dengan sepeda tuanya. Perempuan yang tidak muda lagi yang tiap hari berjualan di kantin kampus ini sudah melakukan aktifitas berjualannya puluhan tahun. Bisa dibilang, emak adalah saksi sejarah dinamika yang terjadi di kampus tertua di kota Jombang ini.

Sebelum Emak mengambil air wudhu, kami terlibat perbincangan yang membuat Emak harus tertahan sejenak di teras.

"Sudah lama Mak tidak kelihatan, sakit kah Mak?" Tanya saya membuka pembicaraan.

Emak hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya. Saya takut ada yang salah dengan pertanyaan yang saya ajukan baru saja. Saya pikirkan ulang susunan katanya. Saya selidiki cepat, adakah kata yang sensitif jika diajukan. Adakah diksi yang saya pakai tidak enak didengar. Atau mungkin ada aturan basa-basi di dunia bersosial yang saya langgar urut-urutannya. Ah, saya kurang pandai dalam masalah ini.

Suasana langit petang di depan teras masjid kampus Universitas Darul 'Ulum Jombang
"Iya, saya sakit beberapa hari. Tapi libur berjualannya lebih dari jumlah hari ketika saya sakit." Jawab Emak bersemangat meruntuhkan hipotesis-hipotesis konyol saya. Ternyata pertanyaan saya di awal tergolong pertanyaan berkelas yang pas diajukan di waktu mendesak seperti saat ini, saat Emak dikejar kewajiban mengambil air wudhu.

"Kok bisa gitu Mak?" Pertanyaan yang satu ini keluar spontan dengan penuh ke-pede-an ingin mengulangi kesuksesan pertanyaan pertama.

Sebenarnya anak-anak Emak melarang Emak berjualan lagi. Menurut mereka Emak sudah tua dan tidak seharusnya masih bekerja. Emak harusnya istirahat di rumah menikmati masa tua bersama anak dan cucu. Karena kebutuhan hidup harian sudah terpenuhi oleh pemberian dari anak-anak Emak yang sudah bekerja yang bisa dibilang mapan. Tapi Emak masih saja nakal berjualan di kantin kampus.

Ketika saya bertanya, "Kenapa masih saja berjualan?" Jawaban Emak mengharukan saya.

"Saya cinta dunia ini. Bukan karena keuntungan yang saya dapatkan, tapi lebih dari itu. Bagi saya, berjualan makanan dengan harga miring kepada para penuntut ilmu seperti mahasiswa adalah ibadah yang tak ternilai harganya. Karena harapan saya hanya satu, yaitu membantu menumbuhkan semangat para mahasiswa untuk belajar."

Jawaban Emak seketika menghentikan detak jantung saya sejenak. Betapa mulia orang-orang seperti Emak ini, ya Allah. Mataku berkaca, mengevaluasi diri. Betapa sombongnya diri ini yang kerap kali mengabaikan nilai ibadah di setiap beraktifitas. Betapa kecilnya diri ini yang setiap melakukan apapun orientasinya hanya materi dan duniawi yang semu. MasyaAllah, terima kasih ya Allah telah mengingatkan hamba melalui Emak.

"Saya wudhu dulu ya." Seru Emak mengakhiri obrolan singkat di petang ini.

Indah sekali petang ini. Semoga menginspirasi.

*Dialog Emak sudah melalui pengalihan bahasa. Sebelumnya berbahasa Jawa.

Daftar Isi One Day One Tittle (ODOT) Lengkap Di Sini

Sabtu, 14 November 2015

Hari Keempat: Belajar Sekuat Mereka

Gambar Hanya Ilustrasi/Dok. Pribadi
Seringkali apa yang kita inginkan tidak seperti kenyataan. Terkadang kehidupan yang kita dambakan tidak seperti realita yang tersaji. Ada teman yang ingin aktif di luar untuk mengembangkan diri, namun apa daya keluarga tidak pernah mengizinkan yang bersangkutan keluar rumah pada jam-jam penting. Kesenjangan antara keinginan dan kenyataan inilah dalam ilmu psikologi disebut dengan "masalah".

Beberapa bulan belakangan saya terlibat masalah serius. Bukan soal apa-apa, mungkin kalian akan menertawan permasalahan yang saya hadapi. Masalahnya simple, tapi ekor-ekornya yang membuat kehidupan saya berubah total.

Saya belum pernah mendapatkan masalah "ringan" namun sangat berdampak seperti permasalahan ini. Sejak permasalahan ini menimpa, hidup saya berantakan. Saya mengalami kekacauan, setiap tanggungjawab tertunda, produktivitas menurun drastis, dan yang paling dirasakan orang-orang di sekitar saya adalah saya bukan Nasrul Yung yang mereka kenal. Saat itu seakan orang lain yang mendiami jasad saya. Jika memang titik nol kehidupan itu ada, maka di saat itulah titik nol saya. Jika memang kehidupan itu seperti roda yang terus berputar, maka saat itu adalah saat-saat di mana saya berada di dasar roda.

Tentang afeksi atau biasa akrab kita sebut dengan perasaan, bahasa bekennya adalah "gagal move on", sekali lagi, saya "gagal move on", itulah permasalahan terbesar saya. Silakan tertawa. Dan saya tidak akan membahas permasalahan ini terlalu jauh karena hanya akan membuat kalian terpingkal-pingkal menertawakan saya.

Kurang lebih sekitar dua bulan saya tidak tahu arah. Banyak sekali aktivitas dan tanggung jawab yang seharusnya saya kerjakan namun bingung bagaimana harus memulainya. Perusahaan penerbitan yang saya geluti tidak termenej dengan baik, lembaga pengembangan diri yang saya dan rekan proyeksikan berdiri pada bulan sekian harus terbengkalai tidak terawat. Jangan tanyakan bagaimana urusan kuliah saya. Titik.

Titik balik saya memulai untuk berdiri tegap, kembali menyiapkan langkah terbaik, bersiap berlari seperti dulu lagi, kencang dan sangat kencang, karena inspirasi yang datang dari mereka orang-orang terdekat saya. Orang-orang yang sangat kuat bahkan setelah diterpa angin yang sangat kencang.

Seputar permasalahan afeksi alias perasaan, saya belajar banyak dari kakak angkatan yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Beberapa kali kakak saya ini diguncang dengan permasalahan afeksi. Karena guncangan afeksi yang dahsyat, dia bahkan pernah minggat ke luar kota (sampai tulisan ini diketik, saya belum menemukan padanan kata yang cocok untuk kata "minggat"). Yang selanjutnya saya anggap sebagai titik terendah dalam hidupnya. Saya belajar dari dia bukan ketika dia minggat, tapi saya belajar bagaimana dia bangkit kembali, menata ulang semua kehidupan yang sempat ditinggalnya.

Bagi saya, orang yang pernah terjatuh dan memutuskan untuk kembali bangkit adalah orang-orang luar biasa. Tidak semua orang mampu melakukannya. Ada tipe orang yang jika masalah menimpa, dia malah menjauh meninggalkan, ada yang bertarung namun terkesan asal-asalan berasas "yang penting kelar", ada yang menganggapnya sebagai angin lalu, dan tentu ada tipe orang yang menjadikannya sebagai sarana belajar. Dan saya yakin, kakak saya ini sebagai orang yang menjadikan permasalahannya sebagai sarana belajar.

Saya akan berterima kasih kepada dia, teman sekelas yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Selalu ceria dan menciptakan tawa. Dari dia kehebohan tercipta. Mereka mengatakan dia penggembira, bagi saya dia adalah wonder woman. Karena dia kuat.
,
Saya tahu persis apa permasalahan yang tengah dia hadapi. Baik masalah pribadi maupun keluarga. Dan juga tahu bagaimana dia menyikapi permasalahan. Hingga setiap saya dihadapkan pada permasalahan, saya selalu terbayang sosok ini. Akhirnya saya malu, sadar betapa lemahnya saya dibandingkan dia. Baru diuji dengan permasaahan remeh saja sudah drop dan susah bangkit.

Kedua tokoh yang saya sebutkan adalah tokoh inspiratif. Dari keduanya, saya belajar banyak hal tentang bagaimana saharusnya permasalahan itu dihadapi. Sekali lagi, terima kasih, sahabat. Saya akan terus belajar sekuat kalian.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Rabu, 11 November 2015

Hari Kedua: Terima Kasih Afirmasi

"Dua puluh tahun lagi, ketika kamu sedang berada di toko buku ternama bersama anak dan istrimu. Anak kecilmu berhambur berlarian di lorong-lorong rak buku sampai dia berhenti di depan sebuah rak besar penuh buku. Kemudian dia mengambil salah satu buku di antara buku yang berderet rapi itu. Dan berkata, 'Ayah, aku mau buku ini!' dengan menyodorkan buku yang diambilnya. Seketika matamu berkaca-kaca ketika kamu membaca namaku di sampul buku itu. Entah apa yang terjadi kemudian, kamu menggeser-geser ponsel pintarmu dan mencari namaku di daftar kontak. Kamu meneleponku dan di tengah jadwalku yang padat aku menjawabnya. Kemudian kita terlibat perbincangan penuh haru berselimut rindu."

Itulah afirmasi yang sangat kuat. Dengan penggambaran yang sangat detail dari salah seorang sahabat di Fakultas Psikologi yang gandrung dengan sajak. Saya memanggilnya, Nap.

Nap, tengah membaca buku sajak
Tapi sebenarnya, apa afirmasi itu? Afirmasi (Inggris : Affirmation) atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan penegasan. Afirmasi mirip seperti doa, harapan atau cita-cita, hanya saja afirmasi lebih terstruktur dibandingkan dengan doa dan lebih spesifik

Cita-cita atau sasaran membantu pembentukan gambaran di dalam daya pikir Kita. Mengucapkan afirmasi adalah membuat sesuatu dengan tegas dan kokoh. Sederhananya, dasar semua afirmasi adalah pemikiran positif. Afirmasi atau penegasan adalah pernyataan penerimaan yang digunakan diri sendiri dengan kebebasan yang berlimpah. Afirmasi bisa juga merupakan kalimat-kalimat positif atau sekelompok kalimat yang dirangkai menjadi satu. Karenanya, ini merupakan kebenaran dan harus selalu demikian. Setiap afirmasi dinyatakan dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa yang ditegaskan itu akan terwujud.

Kalau Kita melakukan afirmasi, Kita mengalihkan sebagian dari daya kehidupan Kita kepada afirmasi itu. Afirmasi yang digunakan dengan benar adalah alat psikologis yang sangat kuat untuk bertumbuh. Beberapa orang menjuluki afirmasi dengan “proses pemetaan harta terpendam” atau “membuat daftar keinginan”. Tetapi di sini kita cenderung lebih menganggap afirmasi sebagai proses pemetaan harta terpendam.

Setelah mendengar afirmasi dari Nap yang digambarkan secara jelas dan detail, saya kembali teringat dengan mimpi-mimpi yang saya punya. Yang untuk beberapa bulan terakhir saya tinggalkan dan abaikan. Ketika saya terpuruk dengan permasalahan yang tidak sepatutnya saya pikirkan mendalam. Namun tidak untuk saat ini, saat Nap berafirmasi positif kepada Kami di lesehan di halaman kampus. Karena percaya atau tidak, Nasrul Yung yang Anda kenal sekarang adalah produk dari afirmasi yang kuat yang senantiasa diperjuangkan kala itu. Dan kini, Nasrul Yung dengan afirmasi-afirmasi positifnya kembali bangkit menginspirasi banyak orang untuk berkarya dan menjadi insan bermanfaat.

Terima kasih Nap, terima kasih afirmasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Hari Pertama: Paksa Mereka Menilai Anda

Sesi santai bersama teman-teman UKM PAKAR
Petang itu saya bersama mahasiswa Psikologi Universitas Darul 'Ulum yang lain tengah bercengkerama di halaman fakultas ungu itu. Sedikit lupa tentang tema pembahasan yang ngalur-ngidul pada awal-awal pembahasan. Namun yang masih teringat ketika mereka saya ajak untuk membedah kepribadian saya. Whats the next?

Ini yang seru, ketika saya harus legowo menerima kritikan pedas tentang kepribadian saya di mata mereka. "Apa hal negatif dari seorang Yung di mata kalian?" Tanyaku membuka obrolan.

Terdiam, sunyi dan agak lama...

"Yung itu...."

Terdiam, sunyi dan agak lama lagi... Sabar ya...

"Songong... Cuek." Tegas mbak Novita, wanita bersahaja semester lima yang selalu bangga dengan semua aktivitas pekerjaannya di salah satu lembaga perlindungan perempuan dan anak.

Dia melanjutkan, bahwa seorang Yung itu harusnya lebih membuka diri, peduli dengan orang-orang di sekitar, tidak sibuk dengan dunianya sendiri bahkan harusnya menjadi sosok yang rendah diri di hadapan banyak orang.

Saya tidak ingin membuka kepribadian saya di depan Anda semua. Saya hanya ingin menunjukkan satu hal yang bahkan jarang sekali orang lakukan; meminta orang-orang terdekat Anda menilai bagaimana Anda di mata mereka.

Pentingkah? Sangat penting.

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan berdiskusi bersama rekan dan orang terdekatnya dengan niat untuk mencari kebenaran dan perbaikan. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usulan Umar bin Khatab kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma yang saat itu menjadi seorang khalifah untuk mengumpulkan dan membukukan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].

Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Orang yang tahu betul siapa Anda adalah diri Anda sendiri dan orang-orang terdekat Anda. Mintalah mereka berpendapat tentang Anda, mintalah mereka membuat penilaian seputar Anda, mintalah kritik sepedas-pedasnya beserta bagaimana harusnya Anda memperbaiki itu semua. Jika hal-hal tersebut masih terasa kurang, Anda pun bebas untuk memaksa mereka menilai tentang Anda.

Selamat mengintropeksi diri! Jangan lupa manfaatkan mereka juga.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Kamis, 01 Mei 2014

Trip To Malang


Tiba di Malang dengan minim persiapan adalah kelegaan tersendiri. Betapa tidak, kami berdua menuju ke tempat acara yang betul-betul kami buta lokasinya.

“Mas, nanti malam saya mau ke Malang. Tapi bingung nyari tempat bermalam.” Begitu isi SMS-ku ke mas Amir. Satu-satunya orang yang dapat aku hubungi di Malang. Sebenarnya aku punya teman lain, namun yang bisa sku hubungi hanyalah mas Amir.

Dengan bermodal beberapa SMS, akhirnya mas Amir meng-iyakan. Alhamdulillah, malam ini kami bisa terselamatkan. Setidaknya kami tidak perlu berlarian menjauh dari kejaran ta’mir masjid karena terpaksa tidur di emperan.

Aku tidak bisa menceritakan mendetail bagaimana proses perjalanan. Seingatku, perjalanan dengan Puspa Indah sore ini kulalui dengan tidur. Ya, aku lagi hibernasi saat itu. Menjaga stamina tubuh, agar badan bisa diajak kompromi hingga acara yang dinanti. Sesekali terbangun karena benturan kepala dengan jok bus yang cukup bikin mata terbuka. Apalagi jalur track di kawasan kota Batu yang meliuk bak Sentul. Lambung terkocok hebat dibuatnya. Asam lambung yang mendiami peut rasa-rasanya ingin keluar.

Kami turun di depan masjid AR. Fachruddin Universitas Mu hammadiyah Malang. Memang sih tempat tujuan kami bukan di masjid ini, tapi kata mas Amir yang sudah bersedia memberi tumpangan kami turun di masjid kampus saja.

Perintah selanjutnya, kami disuruh berjlan ke arah barat. Bukan untuk mencari kitab suci, tapi untuk menemui mas Amir. Haha... kok ketawa? Penting ya....?

Singkat cerita, aslinya sih malas nulis aja, kami bertemu dengan mas Amir. Keharuan yang sudah lama tidak bertemu pun akhirnya pecah. Lebay banget ya? Biarlah... kami tidak segera diajak ke tempat kos. Karena mas Amir paling tahu kondisi kami. Dia memampirkan (ada istilah keren lain?) kami di warung makan. Tuh... paling tahu kan?

Sedapnya nih bau... ayam goleng... betul-betul betul... ayam goring penyet atau apalah namanya ditemani es the. Oh ya, kalau boleh komentar, ini menu yang salah. Kok bisa? Soalnya, secara geografis, kota Malang berada di dataran tinggi dengan dikelilingi oleh gunung-gunung serta pegunungan. Itu artinya udara di Malang segerrr benerrrr alias dingin. Di malam ini, udara dingin itu ditemani oleh es the. Lengkap sudah penderitaan. Aslinya sih ngarep. Hehe...

Caraku Merutinkan Menulis


Sobat, ada perasaan berbeda ketika apa yang kita kerjakan selama ini membuahkan hasil. Ada perasaan aneh muncul dalam dada, ketika apa yang kita kerjakan diapresiasi orang lain. Rasanya gimana gitu… dan perasaan itu lah yang saya rasakan ketika jari jemari ini bergoyang indah di tuts-tuts keyboard laptopku.

Ada apa gerangan?
Hari ini, pintu cita-cita itu sedikit demi sedikit terus terbuka. Benar apa kata mahfudzot Arab, “ Idza shodaqol azmu wadhohas sabil”, “Apabila keyakinan itu kuat, maka jalannya pun akan terbuka”. Saya yakin, maka jalan menuju cita-cita itu pun terus terbuka. Salah satu cita-cita saya adalah ‘menerbitkan 100 buku sebelum usia 40 tahun’. Dan hari ini, angka 100 itu tinggal beberapa hari lagi akan pecah menjadi 99. Karena satu karya tulisan buku saya akhirnya diterbitkan.

Bukannya sombong, hanya sekedar ingin share saja kepada para pembaca sekalian. Buku pertama itu luar biasa. Sama kayak pacar pertama yang tak terlupa. Buku pertama pun demikian. Saya buktinya. Rasa-rasanya menunggu dua minggu untuk melihat buku tulisan sendiri mengisi rak baca serasa lama sekali. Saya sangat merindukan kehadirannya. Oh buku pertama…

Judulnya “Maha Inspirasi”. Bukan hasil buah pikirku sendiri memang. Buku ini hanya berisi kumpulan kisah, teori, data-data, tips dan aneka keunikan lainnya yang sangat inspiratif. Kemudian oleh saya, data-data itu saya kelompokkan berdasarkan tema. Dan dengan sedikit racikan dan polesan, akhirnya tada… jadi deh. Lain kali bias saya resensikan special buat kamu.

Pertama memang special. Ya, Maha Inspirasi memang special di hati saya. Karena perjalanan menuju dicetaknya buku ini sangat mengasyikkan. Sebelum dicetak, judulnya bukan seperti sekarang. Dulu namanya ‘Samudera Inspirasi’. Karena beberapa hal, salah satunya tentu nilai jual, ‘samudera inspirasi’ harus pensiun sebelum waktunya. Dan ketemulah nama ‘maha inspirasi’ yang lebih menumbuhkan tanda tanya pembaca dan lagi-lagi lebih menjual. Iya kan?

Sebelum diterbitkan, naskah ‘samudera inspirasi’ sudah mampir ke beberapa penerbit yang lumayan punya nama. Pro-U Media, dan gazzamedia. Pernah mendengar nama penerbit itu kan? Ya, meski tidak sebeken dan sepopuler gramedia atau mizan dan sebagainya, dua nama itu lumayan tenar, terutama di kawasan Yogyakarta dan solo raya.

Hadeh… pengennya belajar menulis rutin kayak bang Arry di blognya. Yang konon dalam setahun bias posting 500 artikel ringan. Tapi ini malah pembahasannya belepotan kemana-mana… huft… tapi tidak mengapa. Yang penting dimulai dulu. Oke deh, itu dulu curhatanku. Moga bias nulis rutin di blog ini.

Satu lagi, kesenangan menulis membuatku keranjingan menulis. Terutama saat ini. Moga bisa istiqomah. Sambil nunggu buku pertama terbit, saya habiskan waktu untuk menulis buku yang lainnya ah….

Sabtu, 19 April 2014

Pecah Telor Buku Maha Inspirasi

Seorang penulis, akan bangga dikatakan penulis kalau sudah menyelesaikan penggarapan satu buah bukunya. Inilah sebenarnya yang disebut pecah telor oleh para penulis.

Trus, ada yang merengek di inbox Facebook, "Kak... kakak penulis juga?"
'Ini orang, bertanya apa nyindir ya?!'
"Iya, penulis... ada yang bisa saya bantu?" Saya berlagak 'cool' cuek bebek.
"Buku pertama kakak, apa ya?"
"Hmm..."

Saat itu saya kebingungan, soalnya ketika pertanyaan itu dilayangkan tidak satupun buku pernah saya terbitkan. Hingga suatu ketika, tibalah saatnya, di suatu hari... halah!! Pokoknya di salah satu episode hidup saya, saya mengenal sistem penerbitan indie. Eng ing eng... Semuanya mulai berubah kayak si Peter Parker kesengat laba-laba di laboratorium. Cuman bedanya, saat itu saya kesengat aliran listrik di otakku, dalam arti bukan sebenarnya.

Ide datang, 'aha'...Saya bertekad kuat tuk menerbitkan buku saya di penerbitan indie.

Browsing di Prof. Dr. Google, ketemu juga penerbitan indie online nulisbuku.com.

[Beberapa Minggu Kemudian] *kayak sinetron aja.

Kumpulan coretanku akhirnya bulat saya terbitkan di sana. Judulnya 'Maha Inspirasi'. Covernya mentereng sangar melambangkan judul yang begitu sederhana. Pada abstraksi yang biasanya digunakan untuk menarik pembeli, saya tulis seperti ini:

WOW... Belum pernah ada buku semacam ini sebelumnya. Inspirasi memang banyak sekali berkeliaran di sekitar kita, tapi tidak banyak yang menyadari akan hal itu. Buku ini akan mengajarkan kita bagaimana menangkap inspirasi-inspirasi yang berseliweran itu. Sungguh dahsyat.
Kalau Imam Bukhari menjadi Ulama besar lantaran terinspirasi oleh sindiran sang guru, kini saatnya giliran kita menjadi orang yang hebat nan 'GREAT' karena pandai menangkap inspirasi.
Saran saya, bawalah payung saat membacanya. Karena Inspirasi yang terselip di setiap kalimat dalam buku ini akan mengguyurmu!
Nasrul Yung - Penulis Buku-buku Inspirasi

Kalau Covernya seperti ini:


Keren kan cover dan abstraksinya? Tapi saya lupa satu hal, ternyata kata-kata display seperti itu saja tidak cukup untuk mendongkrak penjualan buku. Buku ini anjlok dalam penjualan.

Tapi tidak apalah... Karena ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Hingga kini, buku Maha Inspirasi masih bisa kamu dapatkan disitus resminya DISINI. Saya tidak memaksamu untuk membeli, saya hanya ingin memberi gambaran saja, betapa senang dan semangatnya ketika buku pertama kita bisa terbit. Meski tidak laku di pasaran juga bikin nyesek.