Selasa, 17 November 2015

Hari Ketujuh: Obrolan Singkat Petang Itu

Petang itu setelah menunaikan sholat maghrib di Masjid kampus saya tidak beranjak balik ke fakultas. Saya duduk-duduk sebentar di teras masjid, menikmati suasana malam yang perlahan memeluk hari. Angin beraroma malam sebentar-sebentar menyapu hidungku. Saya paling suka dengan suasana yang seperti ini.

Emak, begitu mahasiswa biasa memanggilnya, datang dengan sepeda tuanya. Perempuan yang tidak muda lagi yang tiap hari berjualan di kantin kampus ini sudah melakukan aktifitas berjualannya puluhan tahun. Bisa dibilang, emak adalah saksi sejarah dinamika yang terjadi di kampus tertua di kota Jombang ini.

Sebelum Emak mengambil air wudhu, kami terlibat perbincangan yang membuat Emak harus tertahan sejenak di teras.

"Sudah lama Mak tidak kelihatan, sakit kah Mak?" Tanya saya membuka pembicaraan.

Emak hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya. Saya takut ada yang salah dengan pertanyaan yang saya ajukan baru saja. Saya pikirkan ulang susunan katanya. Saya selidiki cepat, adakah kata yang sensitif jika diajukan. Adakah diksi yang saya pakai tidak enak didengar. Atau mungkin ada aturan basa-basi di dunia bersosial yang saya langgar urut-urutannya. Ah, saya kurang pandai dalam masalah ini.

Suasana langit petang di depan teras masjid kampus Universitas Darul 'Ulum Jombang
"Iya, saya sakit beberapa hari. Tapi libur berjualannya lebih dari jumlah hari ketika saya sakit." Jawab Emak bersemangat meruntuhkan hipotesis-hipotesis konyol saya. Ternyata pertanyaan saya di awal tergolong pertanyaan berkelas yang pas diajukan di waktu mendesak seperti saat ini, saat Emak dikejar kewajiban mengambil air wudhu.

"Kok bisa gitu Mak?" Pertanyaan yang satu ini keluar spontan dengan penuh ke-pede-an ingin mengulangi kesuksesan pertanyaan pertama.

Sebenarnya anak-anak Emak melarang Emak berjualan lagi. Menurut mereka Emak sudah tua dan tidak seharusnya masih bekerja. Emak harusnya istirahat di rumah menikmati masa tua bersama anak dan cucu. Karena kebutuhan hidup harian sudah terpenuhi oleh pemberian dari anak-anak Emak yang sudah bekerja yang bisa dibilang mapan. Tapi Emak masih saja nakal berjualan di kantin kampus.

Ketika saya bertanya, "Kenapa masih saja berjualan?" Jawaban Emak mengharukan saya.

"Saya cinta dunia ini. Bukan karena keuntungan yang saya dapatkan, tapi lebih dari itu. Bagi saya, berjualan makanan dengan harga miring kepada para penuntut ilmu seperti mahasiswa adalah ibadah yang tak ternilai harganya. Karena harapan saya hanya satu, yaitu membantu menumbuhkan semangat para mahasiswa untuk belajar."

Jawaban Emak seketika menghentikan detak jantung saya sejenak. Betapa mulia orang-orang seperti Emak ini, ya Allah. Mataku berkaca, mengevaluasi diri. Betapa sombongnya diri ini yang kerap kali mengabaikan nilai ibadah di setiap beraktifitas. Betapa kecilnya diri ini yang setiap melakukan apapun orientasinya hanya materi dan duniawi yang semu. MasyaAllah, terima kasih ya Allah telah mengingatkan hamba melalui Emak.

"Saya wudhu dulu ya." Seru Emak mengakhiri obrolan singkat di petang ini.

Indah sekali petang ini. Semoga menginspirasi.

*Dialog Emak sudah melalui pengalihan bahasa. Sebelumnya berbahasa Jawa.

Daftar Isi One Day One Tittle (ODOT) Lengkap Di Sini

Senin, 16 November 2015

Hari Keenam: Kupas Tuntas One Day One Tittle (ODOT)

Logo Maha Inspirasi Online mempunyai arti semangat dalam menyebarkan inspirasi
Alhamdulillah sudah hari ke-6 One Day One Tittle (ODOT) berjalan. Di enam hari pertama ini banyak yang sudah saya dapatkan dan evaluasi. Namun pada tulisan di hari kelima ini saya akan menulis spesial guna menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pembaca seputar program ODOT saya. Tentunya masih dalam koridor inspiratif agar tetap menarik.

Apakah ODOT itu?
ODOT merupakan singkatan dari One Day One Tittle. Yang artinya "satu hari satu judul". Ini adalah program pribadi menulis sehari setidaknya satu judul tulisan yang wajib diposting di blog.

Kenapa Menulis ODOT?
Berawal dari keterpurukan ditimpa musibah dan fitnah luar biasa yang menyebabkan semua aktifitas saya terganggu dan terbengkalai. Termasuk kebiasaan menulis saya. Maka dalam rangka move on saya inisiatif untuk menulis setidaknya satu judul tulisan setiap hari. Agar kualitas tulisan saya terus berkembang.

Apa Tema yang Ditulis pada ODOT?
Saya tidak membatasi tema apapun.Yang sudah berjalan sejauh ini adalah sudut pandang saya tentang segala kejadian yang saya alami dan teman-teman alami. Hanya saja, saya melihat dari sisi positif yang saya pikir hal itu bisa menjadi inspirasi pembaca.

Apakah Saya Harus Membaca Mulai dari Hari Pertama?
Tidak harus. ODOT bersistem bisa dibaca sepotong demi sepotong. Pembaca tidak harus memulai dari hari pertama ODOT, karena memang setiap hari tema dan topik tulisannya tidak ada sangkut pautnya.

Apakah Saya Boleh Ikut ODOT?
Tidak ada kata boleh atau tidak boleh. Ini program pribadi Saya. Jika program ini dirasa baik, silakan dicontek sepuasnya. Saya sangat senang dengan hal itu.

Yang paling penting, postingan ini belum final. Kamu bebas mengajukan pertanyaan seputar psrogram ODOT. Postingan ini akan selalu saya perbarui jika ada pertanyaan yang perlu saya jawab. Terima kasih, semoga menginspirasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Hari Kelima: Ciptakan Lingkungan Produktifmu

Mimpi adalah kunci 
Untuk kita menaklukkan dunia 
Berlarilah tanpa lelah 
Sampai engkau meraihnya
(Nidji - Laskar Pelangi)

Tulisan Ingat Mimpi - Semangat - Ikhlas dan Selesaikan Target Harianmu pada laptop kerja saya
Tanpa alasan yang jelas saya sangat suka dengan lirik lagu di atas. Sering saya dengarkan original soundtrack film "Laskar Pelangi" yang dinyanyikan Giring dan kawan-kawan tersebut. Selain enak didengar, mungkin karena liriknya menginspirasi. Yup, bisa jadi.

Mendengarkan lagu, nonton film, membaca buku, tempat kita bersosial alias tongkrongan, teman-teman kita dan sebagainya adalah unsur-unsur yang membentuk kita saat ini. Rasulullah saw. pernah bersabda,

"Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)

Dalam kacamata Behaviorisme, salah satu cabang aliran dalam ilmu psikologi, mengatakan bahwa kita saat ini adalah hasil dari bentukan sejak kita berusia 0 tahun (nol tahun). Menjadi apa kita saat ini adalah hasil dari pengalaman, belajar dan latihan sepanjang usia kita.

Aliran Behaviorisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut aliran ini seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; Behaviorisme hanya ingin mengetahui sebagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.

Lingkungan yang ada di sekitar kita berpengaruh besar terhadap pembentukan kita. Contoh yang paling sederhana adalah saat kita duduk di bangku sekolah dasar (SD) ditanya tentang cita-cita yang kita punya. Hampir merata menjawab Polisi, Tentara, Dokter, Pilot, Masinis, Pramugari dan profesi-profesi lain yang sejenis. Itu semua terjadi karena kurangnya informasi yang didapatkan seputar dunia profesi pada usia SD.

Saya sendiri bercita-cita menjadi dokter di usia SD, namun berubah ketika duduk di bangku SMP. Di SMP saya bercita-cita menjadi seorang pesulap karena sering nonton acara Deddy Courbuzier membengkokkan sendok. Hingga sampai saat ini, cita-cita saya berubah berkali-kali sepanjang informasi yang saya dapatkan dari lingkungan saya.

Sadar akan pengaruh lingkungan yang sangat besar inilah membuat saya senantiasa waspada dengan lingkungan di sekitar saya. Kita memang tidak bisa mengubah lingkungan kita, tapi kita bisa menciptakan lingkungan kita sendiri.

Untuk itu, saya menyortitr benar-benar informasi-informasi yang masuk. Saya berusaha mendengarkan lagu yang hanya bernafas semangat dan memotivasi, seperti lagu Laskar Pelangi di atas. Saya membaca buku yang menurut pandangan saya mampu meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan saya dengan mimpi-mimpi saya. Saya berteman dengan siapapun, namun selektif dalam memilih teman bergaul yang membutuhkan intensitas pertemuan tinggi. Saya mencipatakan lingkungan produktif saya sendiri dengan menempelkan kata-kata positif di tempat yang sering saya baca. Saya sangat menghindari obrolan yang kurang bermanfaat, lebih-lebih yang banyak merugikannya. Dan masih banyak yang lainnya.

Semua itu saya lakukan karena saya sadar betul hidup adalah pilihan. Membentuk diri dengan menciptakan lingkungan atau dibentuk lingkungan mentah-mentah. Sekarang, silakan pilih hidup yang seperti apa yang kamu inginkan.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Sabtu, 14 November 2015

Hari Keempat: Belajar Sekuat Mereka

Gambar Hanya Ilustrasi/Dok. Pribadi
Seringkali apa yang kita inginkan tidak seperti kenyataan. Terkadang kehidupan yang kita dambakan tidak seperti realita yang tersaji. Ada teman yang ingin aktif di luar untuk mengembangkan diri, namun apa daya keluarga tidak pernah mengizinkan yang bersangkutan keluar rumah pada jam-jam penting. Kesenjangan antara keinginan dan kenyataan inilah dalam ilmu psikologi disebut dengan "masalah".

Beberapa bulan belakangan saya terlibat masalah serius. Bukan soal apa-apa, mungkin kalian akan menertawan permasalahan yang saya hadapi. Masalahnya simple, tapi ekor-ekornya yang membuat kehidupan saya berubah total.

Saya belum pernah mendapatkan masalah "ringan" namun sangat berdampak seperti permasalahan ini. Sejak permasalahan ini menimpa, hidup saya berantakan. Saya mengalami kekacauan, setiap tanggungjawab tertunda, produktivitas menurun drastis, dan yang paling dirasakan orang-orang di sekitar saya adalah saya bukan Nasrul Yung yang mereka kenal. Saat itu seakan orang lain yang mendiami jasad saya. Jika memang titik nol kehidupan itu ada, maka di saat itulah titik nol saya. Jika memang kehidupan itu seperti roda yang terus berputar, maka saat itu adalah saat-saat di mana saya berada di dasar roda.

Tentang afeksi atau biasa akrab kita sebut dengan perasaan, bahasa bekennya adalah "gagal move on", sekali lagi, saya "gagal move on", itulah permasalahan terbesar saya. Silakan tertawa. Dan saya tidak akan membahas permasalahan ini terlalu jauh karena hanya akan membuat kalian terpingkal-pingkal menertawakan saya.

Kurang lebih sekitar dua bulan saya tidak tahu arah. Banyak sekali aktivitas dan tanggung jawab yang seharusnya saya kerjakan namun bingung bagaimana harus memulainya. Perusahaan penerbitan yang saya geluti tidak termenej dengan baik, lembaga pengembangan diri yang saya dan rekan proyeksikan berdiri pada bulan sekian harus terbengkalai tidak terawat. Jangan tanyakan bagaimana urusan kuliah saya. Titik.

Titik balik saya memulai untuk berdiri tegap, kembali menyiapkan langkah terbaik, bersiap berlari seperti dulu lagi, kencang dan sangat kencang, karena inspirasi yang datang dari mereka orang-orang terdekat saya. Orang-orang yang sangat kuat bahkan setelah diterpa angin yang sangat kencang.

Seputar permasalahan afeksi alias perasaan, saya belajar banyak dari kakak angkatan yang sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Beberapa kali kakak saya ini diguncang dengan permasalahan afeksi. Karena guncangan afeksi yang dahsyat, dia bahkan pernah minggat ke luar kota (sampai tulisan ini diketik, saya belum menemukan padanan kata yang cocok untuk kata "minggat"). Yang selanjutnya saya anggap sebagai titik terendah dalam hidupnya. Saya belajar dari dia bukan ketika dia minggat, tapi saya belajar bagaimana dia bangkit kembali, menata ulang semua kehidupan yang sempat ditinggalnya.

Bagi saya, orang yang pernah terjatuh dan memutuskan untuk kembali bangkit adalah orang-orang luar biasa. Tidak semua orang mampu melakukannya. Ada tipe orang yang jika masalah menimpa, dia malah menjauh meninggalkan, ada yang bertarung namun terkesan asal-asalan berasas "yang penting kelar", ada yang menganggapnya sebagai angin lalu, dan tentu ada tipe orang yang menjadikannya sebagai sarana belajar. Dan saya yakin, kakak saya ini sebagai orang yang menjadikan permasalahannya sebagai sarana belajar.

Saya akan berterima kasih kepada dia, teman sekelas yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Selalu ceria dan menciptakan tawa. Dari dia kehebohan tercipta. Mereka mengatakan dia penggembira, bagi saya dia adalah wonder woman. Karena dia kuat.
,
Saya tahu persis apa permasalahan yang tengah dia hadapi. Baik masalah pribadi maupun keluarga. Dan juga tahu bagaimana dia menyikapi permasalahan. Hingga setiap saya dihadapkan pada permasalahan, saya selalu terbayang sosok ini. Akhirnya saya malu, sadar betapa lemahnya saya dibandingkan dia. Baru diuji dengan permasaahan remeh saja sudah drop dan susah bangkit.

Kedua tokoh yang saya sebutkan adalah tokoh inspiratif. Dari keduanya, saya belajar banyak hal tentang bagaimana saharusnya permasalahan itu dihadapi. Sekali lagi, terima kasih, sahabat. Saya akan terus belajar sekuat kalian.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Kamis, 12 November 2015

Hari Ketiga: Ciptakan Oposisi

Oposisi, apakah itu? Secara sederhana dan yang sering dipakai mempunyai arti kelompok politik terorganisasi yang memberikan pandangan yang berbeda dengan pemerintah. Jika saya tidak terjun di dunia politik apakah saya juga harus menciptakan oposisi? Jawabannya adalah iya.

Karena oposisi yang saya maksudkan di sini adalah lawan atau pesaing dalam hidup kita. Pesaing dalam hal apa? Tentunya dalam segala hal, lebih-lebih dalam rangka menuju tercapainya impian-impian kita.

Nasrul Yung dalam acara Talkshow Inspiratif UKM PAKAR
Saat ini saya sedang mengembangkan kemampuan komunikasi yang saya miliki. Meskipun beberapa teman mengakui kemampuan komunikasi saya yang sudah cukup baik. Tapi dasarnya saya yang tidak pernah puas dengan capaian itu, saya tetap dan ingin terus mengembangkan kemampuan skill komunikasi. Karena bagi saya, komunikasi adalah modal utama dalam bersosial dan menjalin hubungan.

Saya melakukan banyak cara untuk memenuhi kebutuhan saya berkomunikasi dengan baik. Saya membaca buku-buku komunikasi serta teknik-tekniknya, saya mengadakan acara talkshow dengan saya sebagai pembawa acaranya, saya paksakan bertemu orang baru dan mengajaknya berbincang seputar masalah apapun, saya memimpin rapat organisasi, saya tumbuhkan keinginan berpendapat meskipun sebenarnya tidak terlalu penting, saya senantiasa dan terus mengusahakan agar bertanya ketika di kelas, saya kembali rutin menulis blog, saya bertanya apapun tentang dunia kehidupan seseorang, dan yang paling penting ketika saya memutuskan untuk belajar Stand Up Comedy.

Stand Up Comedy adalah salah satu genre profesi komedi yang komediannya (disebut komika, bahasa Inggris: comic) membawakan lawakannya di atas panggung seorang diri, biasanya di depan pemirsa langsung, dengan cara bermonolog mengenai sesuatu topik. Ini yang saya kutip dari Wikipedia.

Untuk menjadi seorang komika, mempelajari teknik dan cara-caranya saja tidak cukup, saya juga harus banyak tampil atau di dunia stand up comedy biasa disebut dengan open mic. Tentunya agar saya terbiasa menghadapi audien di depan saya. Selanjutnya, saya melihat banyak peluang yang sekiranya bisa dijadikan tempat untuk melakukan open mic yang tentunya mengundang banyak orang. Dan acara dwimingguan yang diadakan pemerintah daerah Jombang adalah sasaran empuk yang saya bidik; Car Free Night (CFN). Saya diuntungkan ketika Fakultas Psikologi tempat saya menimbah ilmu seputar dunia perilaku ini mempunyai stand khusus di CFN.

Selain banyak berlatih dengan melakukan open mic, yang tidak kalah penting adalah menciptakan oposisi atau pesaing. Secara logika, saya tidak mungkin ber-stand up sendirian, iya kalau lucu, kalau tidak? Untuk itu saya menantang teman-teman Fakultas Psikologi yang saya nilai mampu ber-stand up dan mempunyai selera dan pencipta humor; Fahman dan Niam. Keduanya adalah sumber kehebohan di kelas dan kelompoknya masing-masing.

Selain alasan logika yang saya buat-buat tersebut, sebenarnya saya mempunyai alasan lain tentang pentingnya menciptakan oposisi. Sengaja saya mengajak kedua orang yang (menurut saya) mempunyai jiwa humor seperti mereka ini sebagai oposisi saya. Agar saya bisa belajar banyak hal dari mereka, dan tentunya mereka akan saya jadikan pelecut semangat berkomedi tunggal.

Bayangkan jika saya sendirian, maka apa yang akan terjadi? Saya hanya 'berjalan santai' tidak kebut-kebutan karena tidak ada tantangan yang mengejar. Saya tidak bisa belajar langsung kepada orang-orang yang sudah mempunyai citra komedi seperti mereka. Dan kurang greget jika hanya saya yang tampil. Jika Anda pernah mendengar kisah tentang hiu-hiu kecil di kapal-kapal Jepang yang sengaja dihadirkan agar teri terus-terusan bergerak (kapan-kapan saya ceritakan), maka Fahman dan Niam yang sengaja saya jadikan oposisi ini adalah hiu-hiu kecil yang saya ciptakan agar saya tetap terus bergerak menjadi hebat, memenuhi keinginan saya menjadi seorang pembicara luar biasa.

Tidak hanya dengan saya, Anda pun harusnya demikian. Menciptakan oposisi dan pesaing-pesaing dalam hidup agar kita senantiasa melejit. Menjadikan pesaing sebagai sarana pelecut diri meraih apa yang kita impikan. Saatnya ciptakan oposisi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Rabu, 11 November 2015

Hari Kedua: Terima Kasih Afirmasi

"Dua puluh tahun lagi, ketika kamu sedang berada di toko buku ternama bersama anak dan istrimu. Anak kecilmu berhambur berlarian di lorong-lorong rak buku sampai dia berhenti di depan sebuah rak besar penuh buku. Kemudian dia mengambil salah satu buku di antara buku yang berderet rapi itu. Dan berkata, 'Ayah, aku mau buku ini!' dengan menyodorkan buku yang diambilnya. Seketika matamu berkaca-kaca ketika kamu membaca namaku di sampul buku itu. Entah apa yang terjadi kemudian, kamu menggeser-geser ponsel pintarmu dan mencari namaku di daftar kontak. Kamu meneleponku dan di tengah jadwalku yang padat aku menjawabnya. Kemudian kita terlibat perbincangan penuh haru berselimut rindu."

Itulah afirmasi yang sangat kuat. Dengan penggambaran yang sangat detail dari salah seorang sahabat di Fakultas Psikologi yang gandrung dengan sajak. Saya memanggilnya, Nap.

Nap, tengah membaca buku sajak
Tapi sebenarnya, apa afirmasi itu? Afirmasi (Inggris : Affirmation) atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan penegasan. Afirmasi mirip seperti doa, harapan atau cita-cita, hanya saja afirmasi lebih terstruktur dibandingkan dengan doa dan lebih spesifik

Cita-cita atau sasaran membantu pembentukan gambaran di dalam daya pikir Kita. Mengucapkan afirmasi adalah membuat sesuatu dengan tegas dan kokoh. Sederhananya, dasar semua afirmasi adalah pemikiran positif. Afirmasi atau penegasan adalah pernyataan penerimaan yang digunakan diri sendiri dengan kebebasan yang berlimpah. Afirmasi bisa juga merupakan kalimat-kalimat positif atau sekelompok kalimat yang dirangkai menjadi satu. Karenanya, ini merupakan kebenaran dan harus selalu demikian. Setiap afirmasi dinyatakan dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa yang ditegaskan itu akan terwujud.

Kalau Kita melakukan afirmasi, Kita mengalihkan sebagian dari daya kehidupan Kita kepada afirmasi itu. Afirmasi yang digunakan dengan benar adalah alat psikologis yang sangat kuat untuk bertumbuh. Beberapa orang menjuluki afirmasi dengan “proses pemetaan harta terpendam” atau “membuat daftar keinginan”. Tetapi di sini kita cenderung lebih menganggap afirmasi sebagai proses pemetaan harta terpendam.

Setelah mendengar afirmasi dari Nap yang digambarkan secara jelas dan detail, saya kembali teringat dengan mimpi-mimpi yang saya punya. Yang untuk beberapa bulan terakhir saya tinggalkan dan abaikan. Ketika saya terpuruk dengan permasalahan yang tidak sepatutnya saya pikirkan mendalam. Namun tidak untuk saat ini, saat Nap berafirmasi positif kepada Kami di lesehan di halaman kampus. Karena percaya atau tidak, Nasrul Yung yang Anda kenal sekarang adalah produk dari afirmasi yang kuat yang senantiasa diperjuangkan kala itu. Dan kini, Nasrul Yung dengan afirmasi-afirmasi positifnya kembali bangkit menginspirasi banyak orang untuk berkarya dan menjadi insan bermanfaat.

Terima kasih Nap, terima kasih afirmasi.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini

Hari Pertama: Paksa Mereka Menilai Anda

Sesi santai bersama teman-teman UKM PAKAR
Petang itu saya bersama mahasiswa Psikologi Universitas Darul 'Ulum yang lain tengah bercengkerama di halaman fakultas ungu itu. Sedikit lupa tentang tema pembahasan yang ngalur-ngidul pada awal-awal pembahasan. Namun yang masih teringat ketika mereka saya ajak untuk membedah kepribadian saya. Whats the next?

Ini yang seru, ketika saya harus legowo menerima kritikan pedas tentang kepribadian saya di mata mereka. "Apa hal negatif dari seorang Yung di mata kalian?" Tanyaku membuka obrolan.

Terdiam, sunyi dan agak lama...

"Yung itu...."

Terdiam, sunyi dan agak lama lagi... Sabar ya...

"Songong... Cuek." Tegas mbak Novita, wanita bersahaja semester lima yang selalu bangga dengan semua aktivitas pekerjaannya di salah satu lembaga perlindungan perempuan dan anak.

Dia melanjutkan, bahwa seorang Yung itu harusnya lebih membuka diri, peduli dengan orang-orang di sekitar, tidak sibuk dengan dunianya sendiri bahkan harusnya menjadi sosok yang rendah diri di hadapan banyak orang.

Saya tidak ingin membuka kepribadian saya di depan Anda semua. Saya hanya ingin menunjukkan satu hal yang bahkan jarang sekali orang lakukan; meminta orang-orang terdekat Anda menilai bagaimana Anda di mata mereka.

Pentingkah? Sangat penting.

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan berdiskusi bersama rekan dan orang terdekatnya dengan niat untuk mencari kebenaran dan perbaikan. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usulan Umar bin Khatab kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma yang saat itu menjadi seorang khalifah untuk mengumpulkan dan membukukan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].

Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Orang yang tahu betul siapa Anda adalah diri Anda sendiri dan orang-orang terdekat Anda. Mintalah mereka berpendapat tentang Anda, mintalah mereka membuat penilaian seputar Anda, mintalah kritik sepedas-pedasnya beserta bagaimana harusnya Anda memperbaiki itu semua. Jika hal-hal tersebut masih terasa kurang, Anda pun bebas untuk memaksa mereka menilai tentang Anda.

Selamat mengintropeksi diri! Jangan lupa manfaatkan mereka juga.

Daftar Isi One Day One Tittle Lengkap Di Sini